Washington, VIVA – Gedung Putih pada Selasa, 6 Januari 2026, mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengakuisisi Greenland, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer, untuk menghidupkan kembali ambisinya mengendalikan pulau Arktik yang strategis itu meskipun mendapat keberatan dari para pemimpin Eropa dan sekutu NATO.
Menurut pernyataan resmi, Trump memandang akuisisi Greenland sebagai prioritas bagi keamanan nasional AS dan langkah yang diperlukan untuk "mencegah lawan-lawan kita di wilayah Arktik,"
Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden dan timnya tengah membahas "beragam pilihan" untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri tersebut, dan penggunaan militer AS tetap menjadi salah satu opsi yang tersedia bagi panglima tertinggi.
- White House
Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark, telah berulang kali menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat. Para pemimpin dari negara-negara besar Eropa dan Kanada pada Selasa menegaskan dukungan mereka terhadap Greenland, dengan menegaskan bahwa pulau itu milik rakyatnya.
Upaya militer AS untuk mengambil alih Greenland dari sekutu lama seperti Denmark diperkirakan akan mengguncang hubungan dalam aliansi NATO dan memperdalam perpecahan antara pemerintahan Trump dan para pemimpin Eropa.
Seorang pejabat tinggi AS, yang tidak ingin disebutkan namanya karena membahas pertimbangan internal, mengatakan bahwa sejumlah pendekatan sedang ditinjau, termasuk pembelian langsung atau pembentukan Perjanjian Asosiasi Bebas (Compact of Free Association/COFA) dengan Greenland.
Meskipun demikian, kesepakatan COFA tidak akan memenuhi tujuan Trump untuk menjadikan pulau berpenduduk sekitar 57.000 jiwa itu sebagai bagian dari Amerika Serikat.
Pejabat tersebut tidak memberikan angka terkait nilai pembelian potensial. Ia menambahkan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan utama Trump dalam mengejar kesepakatan, dan Presiden AS menyukai solusi melalui negosiasi jika kesepakatan yang “baik” dapat dicapai.
Pernyataan mengenai opsi militer ini muncul setelah Trump mengintensifkan retorika geopolitiknya, termasuk menekankan dominasi Amerika di wilayah barat setelah operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS baru-baru ini.
Para pejabat AS juga menyoroti pentingnya Greenland bagi keamanan karena kaya akan sumber daya mineral yang memiliki aplikasi teknologi tinggi serta nilai strategis bagi pertahanan. Namun, sumber daya tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan tenaga kerja, infrastruktur, dan tantangan lainnya.



