Caracas, VIVA – Pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menegaskan bahwa "tidak ada agen asing yang memerintah Venezuela" setelah penculikan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan militer Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Rodriguez dalam sebuah acara yang disiarkan televisi pada hari Selasa, sehari setelah Maduro dan istrinya, Cilia Flores, mengaku tidak bersalah di pengadilan New York atas tuduhan konspirasi perdagangan narkoba.
Rodriguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden di pemerintahan Maduro, menekankan bahwa "Pemerintah Venezuela yang berkuasa di negara kita, dan bukan orang lain. Tidak ada agen asing yang memerintah Venezuela." dalam pidato yang disiarkan secara nasional.
Pernyataan tersebut muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Amerika Serikat kini “mengendalikan” Venezuela setelah operasi militer yang berujung pada penangkapan Maduro oleh pasukan AS di Caracas awal bulan ini.
Trump bahkan sempat menyebut bahwa Washington akan "mengelola" Venezuela selama fase transisi — sebuah klaim yang dibantah keras oleh Rodriguez.
Sementara itu, jaksa agung Venezuela menyerukan pembebasan segera Maduro dan istrinya. "Operasi militer, tanpa deklarasi perang atau resolusi Dewan Keamanan PBB, merupakan tindakan agresi bersenjata ilegal yang bersifat teroris," kata Tarek William Saab, menilai langkah AS sebagai pelanggaran hukum internasional dan agresi terhadap kedaulatan negara.
Serangan militer AS yang dilakukan pada hari Sabtu menewaskan puluhan orang di Venezuela. Pemerintah Venezuela pada hari Selasa merilis daftar 24 tentara yang tewas dalam serangan subuh itu, sementara pemerintah Kuba juga mengumumkan 32 anggota militernya telah meninggal dunia dalam aksi tersebut.
Rodriguez kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari untuk menghormati anggota militer yang gugur, menyatakan bahwa periode berkabung ini diberlakukan sebagai penghormatan terhadap mereka yang telah "mengorbankan nyawa mereka demi membela Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro." (Al Jazeera)





