Masjid Gunungkidul Roboh-Ditinggal Donatur: Warga Salat Jumat di Musala

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Warga Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, kini harus melaksanakan salat Jumat di musala. Salat berjemaah sehari-hari pun dialihkan ke musala-musala yang ada di pedukuhan tersebut.

Kondisi ini terjadi karena satu-satunya masjid di pedukuhan itu, Masjid Al-Huda, telah terlanjur dirobohkan setelah warga terbuai janji donatur. Namun, setelah bangunan masjid diratakan, donatur tak kunjung memberi kabar.

“Pindah ke Musala Karim Al Gari untuk menampung salat Jumat satu kampung,” kata Rewang Dwi Atmojo (72), salah satu sesepuh Gari, saat ditemui, Selasa (6/1).

Pedukuhan Gari memiliki sekitar 350 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 860 jiwa. Selama ini, Masjid Al-Huda tidak hanya digunakan untuk ibadah warga pedukuhan, tetapi juga kerap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan tingkat desa.

“Bahkan satu kalurahan kalau ada acara atau kegiatan, masjid ini yang dipakai,” ujar Dwi.

Peristiwa ini bermula pada November 2025, ketika warga berencana merenovasi Masjid Al-Huda yang telah berdiri sejak 1984. Rencana tersebut disambut kedatangan dua orang, yakni warga Pedukuhan Gatak, Kalurahan Gari, berinisial AS dan seorang warga Kapanewon Ngawen berinisial H.

Menurut warga, H menawarkan adanya yayasan yang bersedia menjadi donatur pembangunan masjid dengan syarat bangunan lama harus dirobohkan terlebih dahulu.

Setelah masjid dibongkar, warga berupaya mengonfirmasi ke yayasan yang disebut berada di Tangerang serta kepada tokoh yang diklaim akan memberikan donasi. Namun, pihak-pihak tersebut mengaku tidak mengetahui rencana bantuan tersebut.

Penjelasan "AS"

Sementara itu, AS yang bernama Agus Suryanto mengatakan dirinya hanya berperan sebagai penghubung. Ia mengaku awalnya mendapat informasi dari seorang temannya di Kapanewon Gedangsari yang menanyakan apakah ada masjid yang membutuhkan bantuan renovasi.

“Ada Rp 350 juta dan tolong carikan buat masjid,” kata Agus menirukan ucapan temannya.

Agus menyebut, di wilayahnya di Gatak sudah terdapat enam masjid yang kondisinya baik. Karena itu, ia menghubungi warga Gari dan menyampaikan informasi adanya dana bantuan untuk masjid yang bangunannya sudah tua.

“Saya ke sana, ngobrol dengan sesepuh di masjid, apakah mau ditindaklanjuti atau tidak,” ujarnya.

Menurut Agus, diskusi saat itu belum bersifat final. Tak lama kemudian, ia dihubungi H dari Kapanewon Ngawen yang menyampaikan bahwa ada yayasan yang bersedia membantu pembangunan masjid.

“H datang ke masjid dan ngobrol bareng. Dalam obrolan itu disebutkan yayasan bisa datang kalau masjid dalam kondisi rata. Sepemahaman saya, bukan menyuruh, tetapi yayasan itu biasanya membantu dari lahan kosong atau masjid yang sudah roboh, lalu diminta dimusyawarahkan jika ingin diterima,” kata Agus.

Agus mengakui kemungkinan terjadi miskomunikasi. Ia juga mengaku tidak mengetahui detail proses lanjutan, termasuk perbedaan desain masjid yang sempat muncul.

“Saya hanya menghubungkan dan membantu agar percepatan pembangunan bisa tercapai. Nomor-nomor pihak yang datang ke masjid juga saya sampaikan,” ujarnya.

Awal Mula

Sebelumnya, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mengatakan bahwa pada November 2025 dua orang, masing-masing warga Gatak, Kalurahan Gari, dan warga Kapanewon Ngawen, datang menemui sesepuh Gari dan menyatakan niat menjadi donatur.

“Dengan syarat masjid dibongkar, kemudian syarat-syarat lain termasuk RAB kami penuhi. Namun di perjalanan ternyata prosesnya lama dan tidak berlanjut,” kata Budi melalui sambungan telepon.

Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan masjid mencapai Rp 1,8 miliar. Pada awal pembongkaran, komunikasi dengan H masih berjalan lancar. Namun, lama-kelamaan warga mulai merasakan kejanggalan.

Warga kemudian melakukan pengecekan ke yayasan dan tokoh yang disebut oleh H.

“Memang benar ada yayasan, tetapi belum pernah benar-benar mengacc donasi untuk kami,” kata Budi.

H sendiri kini tak bisa dihubungi. Sementara warga Gari yang datang bersama H, menurut Budi, juga menjadi korban.

“Warga kami itu hanya seperti tangan kanan dari orang pertama. Mereka tidak tahu pasti, hanya menyampaikan informasi dan diminta menghubungi kami,” jelasnya.

Meski merasa ditipu, warga menyatakan tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Kami tidak akan menuntut secara hukum. Biarlah Allah sendiri yang menghukum beliau,” pungkas Budi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Momen Prabowo Terkejut Hitung 5 Medali Emas SEA Games Milik Martina Ayu
• 35 detik laludetik.com
thumb
Polemik Mens Rea Panji Dikecam, Mahfud MD Justru Siap Membela
• 6 jam lalueranasional.com
thumb
Kasus Ijazah Palsu, Wagub Babel Hellyana Beri Pengakuan Begini
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Curanmor Bersenpi Beraksi di Slipi, Lepas Tiga Tembakan Kena Pedagang Beras: Motor Pelaku Ditinggal
• 23 jam laludisway.id
thumb
Status Waspada! Gunung Ile Lewotolok Meletus, Kolom Abu Capai Ratusan Meter
• 20 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.