Surabaya (beritajatim.com)– Overthinking sering datang tanpa permisi. Pikiran berputar pada hal-hal yang belum tentu terjadi, percakapan yang sudah berlalu, atau keputusan kecil yang terasa besar. Banyak orang merasa lelah oleh pikirannya sendiri, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana untuk menenangkannya. Overthinking bukan tanda kelemahan, melainkan respons alami ketika seseorang peduli, ingin melakukan yang terbaik, atau sedang berada di bawah tekanan. Karena itu, mengelolanya tidak perlu dilakukan secara drastis, melainkan perlahan dan penuh penerimaan.
Mengenali Pola Overthinking dalam Diri
Langkah awal mengelola overthinking adalah mengenali bagaimana dan kapan ia muncul. Ada orang yang mulai overthinking setelah berbincang dengan seseorang, ada pula yang mengalaminya saat sendirian di malam hari. Dengan memperhatikan situasi pemicu dan pola pikiran yang berulang, kita bisa lebih sadar bahwa pikiran sedang berjalan terlalu jauh. Kesadaran ini penting agar kita tidak langsung larut di dalamnya.
Menerima Bahwa Tidak Semua Hal Bisa Dikendalikan
Banyak pikiran berlebihan muncul dari keinginan untuk mengontrol segala kemungkinan. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali kita. Belajar menerima ketidakpastian dapat membantu meringankan beban pikiran. Menerima bukan berarti pasrah, tetapi memahami batas antara hal yang bisa diupayakan dan hal yang memang harus dilepaskan.
Menuliskan Isi Pikiran Secara Jujur
Menulis dapat menjadi ruang aman untuk menampung pikiran yang terasa penuh. Tidak perlu memikirkan tata bahasa atau struktur yang rapi, cukup tuliskan apa pun yang muncul di kepala. Dengan menuliskannya, pikiran yang semula berputar-putar menjadi lebih nyata dan mudah dipahami. Aktivitas ini bisa dilakukan kapan saja, terutama saat pikiran terasa terlalu ramai.
Membagi Masalah Menjadi Hal-Hal Kecil
Overthinking sering membuat satu masalah tampak sangat besar dan menakutkan. Padahal, ketika diurai, masalah tersebut biasanya terdiri dari bagian-bagian kecil. Dengan membaginya menjadi langkah-langkah sederhana, pikiran menjadi lebih terstruktur dan tidak mudah kewalahan. Fokus pun bergeser dari rasa cemas ke hal-hal yang bisa dilakukan.
Mengalihkan Fokus dengan Aktivitas yang Menenangkan
Memberi jeda pada pikiran adalah hal yang penting. Mengalihkan fokus ke aktivitas ringan seperti berjalan kaki, mendengarkan musik, merapikan kamar, atau melakukan hobi dapat membantu pikiran beristirahat. Pengalihan ini bukan bentuk pelarian, melainkan cara memberi ruang agar pikiran tidak terus-menerus bekerja tanpa henti.
Berlatih Berbicara Lebih Lembut pada Diri Sendiri
Sering kali, overthinking diperparah oleh cara kita berbicara pada diri sendiri. Pikiran yang penuh tuntutan dan penilaian negatif membuat kecemasan semakin kuat. Cobalah mengganti kalimat seperti “aku selalu salah” dengan “aku sedang belajar”. Berbicara lebih lembut pada diri sendiri adalah langkah kecil yang berdampak besar dalam menenangkan pikiran.
Memberi Waktu dan Ruang untuk Proses
Mengelola overthinking bukan perjalanan satu arah. Akan ada hari-hari ketika pikiran terasa lebih tenang, lalu kembali ramai di hari berikutnya. Hal ini wajar dan tidak perlu disesali. Proses yang perlahan justru memberi kesempatan untuk mengenal diri sendiri dengan lebih baik tanpa tekanan untuk segera pulih.
Overthinking tidak harus dilawan dengan keras atau dihilangkan sepenuhnya. Dengan mengenal pola, menerima keterbatasan, dan melangkah perlahan, pikiran bisa dikelola dengan lebih sehat. Tidak apa-apa jika prosesnya terasa lambat, karena setiap orang memiliki ritme masing-masing. Yang terpenting, kita memberi diri sendiri ruang untuk bernapas dan tidak terburu-buru untuk selalu baik-baik saja. [Nazala Habibah Fathyadin]




