Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Venezuela akan “menyerahkan” hingga 50 juta barel minyak ke AS menyusul operasi militer mengejutkan yang menggulingkan Presiden Nicolás Maduro dari kekuasaan.
Melansir BBC pada Rabu (7/1/2026), minyak tersebut akan dijual sesuai harga pasar, dan dana hasil penjualannya akan dikelola langsung oleh Trump untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikannya melalui media sosial, di tengah klaimnya bahwa industri minyak Amerika Serikat akan kembali “beroperasi penuh” di Venezuela selama 18 bulan ke depan. Trump juga menyebut akan ada arus investasi besar-besaran ke negara tersebut.
Namun, para analis sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa pemulihan kapasitas produksi minyak Venezuela membutuhkan investasi hingga puluhan miliar dolar AS dan berpotensi memakan waktu hingga satu dekade untuk mencapai kembali tingkat produksi sebelumnya.
Trump menyatakan hal tersebut beserta jumlah barel minyaknya dalam unggahan di Truth Social pada Selasa (06/01).
“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 JUTA barel minyak berkualitas tinggi yang terkena sanksi kepada Amerika Serikat! Minyak ini akan dijual sesuai harga pasar, dan uang tersebut akan diatur oleh saya (Trump), sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan bahwa dana tersebut digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat!” tulis Trump.
Baca Juga
- Tekanan Trump, Venezuela Alihkan Ekspor US$2 Miliar Minyak dari China ke AS!
- Surplus Pasokan Tekan Harga Minyak Global, Isu Venezuela Jadi Sorotan
- Elon Musk Tawarkan Layanan Starlink Gratis saat Hubungan AS dan Venezuela Memanas
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Delcy Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden Venezuela, dilantik sebagai presiden sementara. Sementara itu, Nicolás Maduro telah dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkoba dan kepemilikan senjata.
Pada Senin (06/01), Trump mengatakan kepada NBC News mengenai ketertarikannya akan minyak di negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
“Memiliki Venezuela sebagai produsen minyak adalah hal yang baik bagi Amerika Serikat karena dapat menjaga harga minyak tetap rendah,” seperti yang dikutip dari BBC.
BBC melaporkan bahwa perwakilan dari perusahaan minyak besar Amerika Serikat dijadwalkan bertemu dengan pemerintahan Trump pada pekan ini.
Meski demikian, BBC mencatat bahwa para analis bersikap skeptis terhadap rencana Trump akan berdampak signifikan terhadap pasokan minyak global maupun harga minyak dunia. Menurut mereka, perusahaan-perusahaan energi akan membutuhkan stabilitas pemerintahan Venezuela. Sekalipun investasi dilakukan, hasilnya baru akan terasa beberapa tahun ke depan.
Trump berargumen bahwa perusahaan minyak Amerika mampu memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang telah lama mengalami penurunan. Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak, namun produksinya terus menurun sejak awal 2000-an.
Pemerintahan Trump melihat potensi besar cadangan minyak Venezuela bagi kepentingan energi Amerika Serikat. Namun, peningkatan produksi akan memakan biaya besar karena karakter minyak Venezuela yang berat dan lebih sulit untuk diolah. Saat ini, hanya Chevron, perusahaan AS yang mengolah minyak di Venezuela.
Juru bicara Chevron Bill Turenne menanggapi komentar Trump dengan mengatakan perusahaan tetap berfokus pada keselamatan karyawan dan integritas asetnya.
“Kami terus beroperasi dengan mematuhi seluruh hukum dan regulasi yang berlaku,” ujarnya.
Sementara itu, ConocoPhillips, perusahaan minyak besar AS yang tidak lagi beroperasi di Venezuela, menyatakan sedang memantau perkembangan terbaru.
“Masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai aktivitas bisnis atau investasi di masa depan,” kata juru bicara ConocoPhillips, Dennis Nuss.
Exxon, perusahaan minyak besar lainnya, belum memberikan tanggapan atas komentar Trump.
Sebagai pembenaran dari penangkapan Maduro, Trump mengklaim Venezuela telah “secara sepihak menyita dan mencuri minyak milik Amerika.” Komentar serupa juga disampaikan Wakil Presiden JD Vance melalui media sosial X.
Ben Chu dari BBC Verify menyebut klaim “mencuri” dinilai terlalu menyederhanakan permasalahan. Analis juga menyebutkan bahwa meskipun terdapat sengketa kompensasi, minyak Venezuela secara hukum tidak pernah menjadi milik Amerika Serikat.
Venezuela telah menasionalisasi industri minyaknya sejak 1976, dan memperketat kendali negara atas aset perusahaan asing pada 2007 di era Presiden Hugo Chávez. Pada 2019, pengadilan Bank Dunia memerintahkan Venezuela membayar kompensasi US$8,7 miliar kepada ConocoPhillips, yang belum dibayarkan hingga kini. (Stefanus Bintang Agni)





