Teror dan Syahwat Menonton Netizen

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Di penghujung tahun 2025, lini masa media sosial kita disuguhi pemandangan yang anehnya mulai seperti biasa, yaitu rekaman cctv bom molotov di rumah DJ Donny serta sebelumnya pengiriman bangkai ayam dan video coretan pylox di mobil influencer Sherly Annavita.

Apabila kejadian tersebut terjadi di era dua puluh tahun silam, saya yakin warga sekitar akan melakukan ronda semalam suntuk. Tapi hari ini? Kita melihatnya sambil menyeruput teh, lalu jempol kita dengan lincah mengetik di kolom komentar “palingan pengalihan isu” atau “cari panggung ya mbak?”

Saya berpendapat, masalah kedua jauh lebih mengerikan dibandingkan ledakan bom molotov itu sendiri. Netizen Indonesia sedang mengidap penyakit Voyeunisme Teror. Atau pemahaman mudahnya kita melihat kekerasan bukan sebagai ancaman kemanusiaan melainkan sebuah show atau pertunjukkan yang harus dikritik aktingnya.

Teror Molotov dan Matinya Rasa Gentar

Mari kita jujur, saat melihat foto bangkai ayam yang dikirim ke Donny dan mobil Sherly dicoret, saraf empati kita tidak lagi bekerja secepat saraf “curiga” kita. Dengan kata lain sebagian Netizen kehilangan common sense untuk merasa ngeri.

Kenapa hal ini terjadi? Karena di ruang digital, realitas telah berubah dan mengalami apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai The Precession of Simulcra. Dalam teori ini, simlasi (apa yang nampak di layar) menjadi lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.

Teror yang menimpa Sherly dan Donny tidak dianggap sebagai peristiwa fisik yang menyakitkan melainkan dianggap sebagai “produk narasi”. Netizen tidak lagi peduli pada bau bensin yang menyengat di rumah orang, tapi lebih peduli pada apakah “skrip” teror ini masuk akal atau tidak dalam skema politik kita. Dan sialnya ini cara berpikir yang sakit tapi sering kita jumpai di kolom komentar Instagram maupun X.

Kebenaran yang "Erotis"

Persoalan kedua yang luput dari sorotan adalah bagaimana masyarakat kita mengonsumsi kebencian secara erotis. Netizen menyukai konflik dan juga butuh musuh untuk merasa “hidup”. Dalam konteks politik, kita sering terjebak dalam Tribalisme Digital. Jika korban bukan dari kubu kita, maka teror itu legal atau minimal layak ditertawakan.

Saya menjadi teringat apa yang dikatakan oleh Erich Fromm dalam bukunya The Anatomy of Human Destructiveness. Fromm membedakan antara agresi defensif (untuk membela diri) dan agresi nekrofilus (hasrat untuk menghancurkan yang hidup). Masyarakat kita, tanpa sadar sedang dipupuk menjadi massa yang nekrofilus.

Apa benar nekrofilus lebih dipupuk ke masyarakat? Saya akan bertanya apabila Netizen senang melihat sesuatu yang mapan hancur, lalu kegirangan melihat orang yang vokal dibungkam, selama orang itu bukan bagian dari “kita”. Jika merasa demikian maka jawabannya adalah iya.

Menjemput Nalar yang Tertukar

Lalu bagaimana kita mengembangkan cara berpikir di tengah kepungan asap molotov dan aroma bangkai ayam? Solusinya bukan sekadar menambah kuota internet untuk scroll medsos tapi melakukan kurasi mental.

Kita butuh beralih dari pola pikir “reaksi instingtif” ke “aksi reflektif”. Misalnya apabila ada kejadian teror, nalar pertama dari kita adalah teror merupakan kejahatan terhadap manusia. Titik. Urusan apakah kita setuju pendapat politik korban atau sebaliknya, itu adalah urusan paragraf kemudian. Kita harus kembali terbiasa memisahkan antara subjek (manusia) dan objek (pendapat).

Sebagai penyimbang dari kegilaan massa ini, kita perlu merenung dari apa yang ditulis oleh Jose Ortega y Gasset seorang filsuf dan esais asal Spanyol dalam bukunya yang fenomenal yaitu The Revolt of the Masses.

Ia menulis "Massa tidak pernah datang ke hadapan publik kecuali untuk menghancurkan. Mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk berdialog karena mereka merasa telah memiliki kebenaran yang mutlak tanpa perlu pembuktian."

Apa yang ditulis Jose menampar tepat di pipi kita, jika hanya merasa sakit ketika “orang kita” diteror namun bersorak saat “lawan” yang dikirimi molotov, sejatinya kita sudah bukan individu yang berpikir.

Kita hanyalah bagian dari “Massa” yang digambarkan Ortega y Gasset adalah kumpulan orang yang merayakan kehancuran nalar demi kepuasan sesaat.

Jangan Jadi Penonton yang Jahat

Kita perlu melakukan Digital Stoicism. Kita harus berdaulat atas emosi kita sendiri. Jangan biarkan algoritma atau kebencian partisan mendikte kapan kita harus empati dan kapan kita boleh mencaci.

Pada akhirnya, teror kepada DJ Donny dan Sherly Annavita adalah ujian bagi nalar publik. Apakah kita akan terus menjadi penonton bioskop yang sibuk mengomentari lighting dan plot hole dari sebuah teror nyata, atau kita kembali menjadi manusia yang tahu bahwa api di rumah tetangga—siapa pun dia—adalah ancaman bagi rumah kita juga?

Sebab, jika hari ini kita membiarkan api itu menyala hanya karena kita tidak suka pada wajah si empunya rumah, jangan kaget jika besok-lusa, saat api itu sampai ke daster atau sarung kita, orang-orang hanya akan menonton sambil sibuk mencari tahu: "Ini settingan atau bukan?"


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ancaman Serius Generasi Muda, Densus 88 Ungkap 70 Anak di 19 Provinsi Terpapar Konten Kekerasan Ekstrem
• 2 jam lalumerahputih.com
thumb
IHSG Diproyeksi Tancap Gas ke Level 9.000, Analis Bocorkan 5 Saham Potensial Cuan
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Ramalan Zodiak Pisces Bulan Januari 2026
• 5 menit lalukumparan.com
thumb
Pemkot Surabaya Akan Gelar Perayaan Natal di Balai Kota, Perkuat Toleransi dan Kebersamaan
• 20 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Polisi Kejar Otak Love Scamming dari Cina, Jaringan Lampung Ikut Dibidik
• 18 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.