REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktor Nicholas Saputra menilai pariwisata desa tidak akan memberi manfaat ekonomi jangka panjang jika hanya berfokus pada ramainya wisatawan. Tanpa pengelolaan yang berkelanjutan, desa justru berisiko menanggung kerusakan lingkungan dan beban sosial yang pada akhirnya menggerus pendapatan warga.
“Setiap destinasi memiliki karakter dan cerita yang unik, sehingga pendekatan pengelolaannya perlu disesuaikan dengan kondisi setempat,” ujar Nicholas Saputra, yang juga merupakan Duta Bakti BCA, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Rabu (7/1/2026).
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Desa Wisata Gerakkan Ekonomi Lokal, Kunjungan Tumbuh 11 Persen
- Pemkab Manggarai Barat Dorong Desa Wisata Aktif di Media Sosial
- Di Balik Tantangan Kurangnya Promosi, Tiga Desa Wisata Ini Raih WIA 2025
Menurut Nicholas, kualitas pengelolaan menjadi penentu utama agar pariwisata benar-benar menggerakkan ekonomi lokal. Ketika masyarakat dilibatkan secara aktif dan lingkungan dijaga, manfaat ekonomi tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Pengembangan destinasi yang menghormati kelestarian lingkungan dan budaya, melibatkan masyarakat lokal, serta mengutamakan kualitas pengalaman wisata, akan memperkuat keberlanjutan desa wisata,” kata Nicholas.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk mencegah kebocoran ekonomi desa wisata, di mana belanja wisatawan kerap tidak dinikmati warga setempat. Dengan tata kelola yang lebih baik, desa berpeluang meningkatkan nilai ekonomi dari setiap kunjungan tanpa harus bergantung pada jumlah wisatawan yang terus meningkat.
Dalam forum tersebut, perwakilan pengurus dari 10 desa dan komunitas wisata mengikuti pembelajaran terkait tata kelola pariwisata yang bertanggung jawab dan berstandar tinggi, selaras dengan prinsip Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE).
Model pariwisata berkelanjutan juga dipandang lebih tahan terhadap gejolak ekonomi. Desa yang mengandalkan kualitas layanan, pengalaman wisata, dan pelestarian lingkungan dinilai memiliki ketahanan lebih baik dibanding desa yang hanya mengandalkan kunjungan massal dan bersifat musiman.
Upaya penguatan tata kelola ini sejalan dengan strategi nasional pengembangan pariwisata berkelanjutan dan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pertumbuhan ekonomi inklusif dan perlindungan lingkungan.
Di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan destinasi wisata yang semakin ketat, desa wisata yang mampu menjaga kualitas dan keberlanjutan dinilai memiliki daya saing lebih kuat di pasar nasional maupun internasional.
Saat ini, BCA tercatat membina 27 desa wisata di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah desa binaan tersebut telah meraih penghargaan nasional dan internasional, termasuk pada ajang ASEAN Tourism Awards 2025 serta program United Nations World Tourism Organization (UNWTO). Dengan pendekatan tersebut, desa wisata diharapkan tidak sekadar menjadi tujuan kunjungan, tetapi juga menjadi fondasi ekonomi lokal yang berkelanjutan dan tahan krisis.




