FAJAR.CO.ID, SUMBAR — Fenomena sinkhole di area pesawahan Jorong Tepi, Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) bikin heboh warga sekitar. Demikian pula publik di jagad maya Indonesia.
Badan Geologi dalam keterangan yang disampaikan melalui laman resminya menyampaikan respons. Badan di bawah Kementerian ESDM itu meminta warga setempat untuk mewaspadai munculnya fenomena serupa.
Melalui rekomendasi non teknis, Badan Geologi meminta agar dilakukan pembatasan akses dan aktivitas di sekitar area sinkhole.
Pasalnya, ada potensi perluasan sinkhole pada tanah yang labil. Selain itu, perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi bahaya geologi terkait karst serta kewaspadaan ketika warga mendengar suara gemuruh bawah tanah atau melihat retakan baru.
”Bila mulai terbentuk retak dan rekahan yang membesar, masyarakat agar melakukan pemantauan dan melaporkan kepada aparat setempat untuk berkoordinasi dengan instansi yang berwenang,” bunyi keterangan itu.
Tidak hanya rekomendasi non teknis, Badan Geologi menyampaikan rekomendasi geologi teknik. Menurut badan tersebut, sinkhole yang terbentuk tidak disarankan untuk ditimbun. Jika sinkhole akan ditimbun, maka diperlukan rekayasa teknis. Poin penting rekayasa teknis adalah mengetahui pengaruh erosi buluh pada lapisan tanah penutup dan dampaknya terhadap area sekitar.
”Membuat zonasi area rentan sinkhole di sekitar lokasi kejadian untuk antisipasi kejadian sinkhole di masa yang akan datang. Manfaat zonasi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kebijakan penataan ruang,” saran Badan Geologi.
Metode yang disarankan oleh Badan Geologi terdiri atas pemetaan geologi teknik, pemetaan hidrogeologi dan pendugaan geofisika seperti georadar; geolistrik; atau seismik, untuk mengetahui kondisi rongga atau saluran air bawah tanah dan pengaruhnya terhadap pembentukan sinkhole. Dalam keterangan yang sama, sinkhole di Jorong Tepi bertipe cover-collapse.
“Di mana rongga (cavity) di batu gamping tertutup oleh lapisan tanah alluvial atau endapan gunung api. Berdasarkan foto sinkhole yang terbentuk berupa sumuran vertikal, tanpa tanda subsidence atau amblesan yang bersifat gradual. Mekanisme utama adalah pelepasan butir (ravelling) ditambah dengan erosi buluh (piping) yang dipercepat hujan ekstrem,” urai laman itu.
Disebutkan bahwa fenomena sinkhole itu terjadi karena proses erosi buluh dan tidak terjadi secara mendadak. Proses tersebut terjadi pada batuan berbutir halus dengan intensitas hujan tinggi. Proses pembentukan sinkhole di Jorong Tepi berbeda dengan proses pembentukan sinkhole pada batu gamping. (jpg/sam/fajar)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5135707/original/002195800_1739783758-Tekel_Horor_Rizky_Ridho_Beckham_Putra-6.jpg)
