111 Kota di Iran Bergolak, Garda Revolusi Retak, dan Pasukan Elite AS Muncul di Perbatasan

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Gelombang protes nasional di Iran telah memasuki hari ke-10 dan menunjukkan eskalasi paling serius sejak awal demonstrasi pecah. Hingga Selasa (6/1), sedikitnya 35 orang dilaporkan tewas dan sekitar 1.200 warga ditangkap akibat penindasan keras aparat keamanan. Namun alih-alih mereda, perlawanan rakyat justru berkembang menjadi krisis politik dan keamanan berskala nasional.

Perkembangan terbaru menunjukkan dua kota telah sepenuhnya lepas dari kendali rezim Islam Iran, disertai pembelotan aparat keamanan, pemogokan massal di pusat ekonomi Teheran, serta meningkatnya keterlibatan aktor regional dan internasional.

Ancaman Terbuka Rezim: “Pergi atau Mati”

Dalam upaya membendung gelombang perlawanan, Kepala Kehakiman Iran, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, pada awal Januari mengeluarkan instruksi keras kepada aparat penegak hukum. Dia menuntut tindakan hukum ekstrem terhadap pihak-pihak yang disebutnya sebagai “perusuh”.

Di Shahrekord, situasi berkembang lebih jauh. Seluruh unit Garda Revolusi Islam (IRGC) dikerahkan dan mengeluarkan ultimatum langsung kepada massa demonstran: meninggalkan lokasi atau menghadapi kekerasan mematikan.

Pesan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ancaman terbuka: “Pergi, atau mati.”

Langkah ini mencerminkan pola klasik rezim otoriter—mengandalkan teror dan kekerasan untuk membungkam aspirasi publik. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.

Grand Bazaar Teheran Lumpuh Total

Pada 6 Januari 2026, sebuah peristiwa simbolik mengguncang ibu kota. Para pedagang di Grand Bazaar Teheran secara serempak menutup seluruh toko, bergabung dalam pemogokan nasional anti-pemerintah.

Grand Bazaar bukan sekadar pasar. Dia adalah jantung ekonomi dan simbol historis Iran, yang dalam sejarah sering menjadi penentu arah perubahan politik.

Rekaman video yang beredar luas memperlihatkan kios-kios tertutup total, sementara teriakan “kebebasan” menggema tanpa henti. Para pedagang berdiri bahu-membahu, menegaskan bahwa pusat kekuasaan rezim kini menghadapi perlawanan langsung dari pusat ekonomi negara.

Karena hampir seluruh lembaga pemerintahan utama Iran berada di Teheran, aksi ini menjadikan ibu kota kembali sebagai episentrum perlawanan nasional.

Slogan dari Dunia Maya Menjadi Seruan Jalanan

Menariknya, gelombang protes juga dipengaruhi dinamika global. Sebuah kalimat berbahasa Persia yang pernah dilontarkan Elon Musk untuk menyindir Ali Khamenei—yang berarti “bermimpi di siang bolong”—kini berubah menjadi slogan populer di jalan-jalan Iran.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemarahan publik kini terfokus langsung pada figur Pemimpin Tertinggi, bukan lagi sekadar kebijakan pemerintah.

Terobosan Besar: Polisi Meletakkan Senjata, Kota Dibebaskan

Hari yang sama, 6 Januari, menjadi titik balik dramatis.

Di kota Apdanan, seluruh warga turun ke jalan, dan dalam kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya, polisi setempat meletakkan senjata mereka. Aparat terlihat melambaikan tangan kepada massa sebagai tanda dukungan.

Saat senjata dilepaskan, sorak-sorai dan perayaan spontan meledak di jalanan. Apdanan pun menjadi kota pertama yang sepenuhnya lepas dari kendali rezim Islam Iran.

Tak lama berselang, saluran oposisi Iran mengumumkan bahwa kota Malekshahi juga telah “dibebaskan”. Seorang komandan kota baru telah ditunjuk, menandakan pengambilalihan administratif penuh.

Dengan demikian, dua kota kini secara de facto keluar dari kekuasaan rezim Teheran.

Pembelotan IRGC di Kurdistan: Ancaman dari Dalam

Eskalasi berlanjut pada 5 Januari 2026, ketika laporan dari wilayah Kurdistan Iran menyebutkan bahwa anggota Garda Revolusi Islam membelot dan bergabung dengan Tentara Nasional Kurdistan.

Seorang personel keamanan menyampaikan pernyataan resmi yang mengguncang publik: “Sebagai letnan Pasukan Quds, saya dan rekan-rekan saya siap mengambil segala tindakan untuk menghancurkan Republik Islam.”

Pernyataan ini menandai retakan serius di tubuh aparat elit rezim, sekaligus memperbesar risiko konflik internal bersenjata.

Internet Diputus, Pasukan Tambahan Dikirim

Di tengah situasi yang memburuk, warga Apdanan melaporkan bahwa rezim Khamenei mengirim pasukan tambahan ke wilayah tersebut. Secara nasional, sedikitnya 111 kota di Iran telah terdampak aksi protes sejak awal gelombang demonstrasi.

Laporan lain menyebutkan pemutusan koneksi internet nasional, sebuah langkah yang sering mendahului operasi penindasan besar-besaran.

Jika hal ini terjadi, pengamat menilai situasi dapat memicu skenario yang pernah diutarakan Donald Trump—bahwa “peluru telah terisi”, yang berarti intervensi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran bukan lagi sekadar ancaman verbal.

Israel Siaga, AS Bergerak di Perbatasan

Pada 6 Januari, Komandan Pertahanan Dalam Negeri Israel menggelar rapat pengarahan darurat nasional bersama para wali kota dan pimpinan pemerintahan daerah, memerintahkan kesiapsiagaan penuh menghadapi kemungkinan status darurat.

Di saat yang sama, laporan intelijen menyebutkan bahwa Pasukan Delta Angkatan Darat AS telah memasuki wilayah perbatasan Irak, khususnya di area Irak–Suriah–Yordania—wilayah yang kini tegang akibat konflik antara pemerintah Irak dan milisi pro-Iran.

Fakta penting lainnya: Apdanan berada dekat dengan wilayah perbatasan Irak, menambah signifikansi strategis perkembangan di kota tersebut.

Selain itu, Amerika Serikat, Israel, dan Suriah dilaporkan telah menyepakati pembentukan pusat berbagi intelijen bersama dan kelompok komunikasi khusus untuk koordinasi waktu nyata—mulai dari stabilisasi keamanan, diplomasi, hingga potensi kerja sama ekonomi di bawah pengawasan AS.

Manuver Politik Presiden Pezeshkian

Di tengah tekanan yang kian menumpuk, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengeluarkan pernyataan publik yang tidak biasa. 

Dia menyatakan bertanggung jawab penuh atas aksi protes: “Kesalahan ada pada saya. Mahasiswa, pekerja, dan rakyat lainnya tidak seharusnya disalahkan. Kita perlu memperbaiki tindakan kita.”

Pernyataan ini ditafsirkan dalam dua kemungkinan:

  1. Upaya meredakan ketegangan dan membeli waktu agar protes tidak meluas.
  2. Taktik penundaan strategis, sembari menunggu kejelasan langkah Amerika Serikat dan Israel sebelum melancarkan penindasan lebih keras.

Menuju Babak Penentuan

Dengan dua kota lepas dari kendali, aparat elite membelot, internet diputus, dan pergerakan pasukan asing di sekitar perbatasan, Iran kini berada di ambang babak penentuan sejarah.

Pertanyaan yang mengemuka di kalangan pengamat internasional adalah satu:  Apakah kemunculan Pasukan Delta AS di sekitar perbatasan Iran merupakan persiapan operasi penyingkiran Ali Khamenei?

Jawabannya masih belum pasti. Namun satu hal jelas— krisis Iran telah melampaui sekadar demonstrasi, dan dunia kini menahan napas menyaksikan arah berikutnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ultimatum Trump ke Venezuela: Putus dengan Tiongkok–Rusia atau Minyakmu Tak Jalan
• 16 jam laluerabaru.net
thumb
Aksi Curanmor Gunakan Senjata Api Lukai Warga di Palmerah, Polisi Buru Pelaku
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mendagri: 25 Desa di Aceh dan Sumut Hilang Akibat Bencana Banjir dan Longsor
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Kemenkeu Catat Belanja Pemerintah Sentuh Rp 2.602 Triliun hingga Akhir 2025
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Link Live Streaming Arsenal vs Liverpool, Big Match Premier League Dini Hari Nanti Jam 03.00 WIB
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.