Kisah CN-235, Lahir Saat Orde Baru sampai Kabar Penyerangan AS ke Venezuela

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

CN-235 kembali diperbincangkan saat penyerangan Amerika Serikat ke Venezuela. Lahir saat Orde Baru, pesawat ini dikenal tangguh mendarat di kawasan sulit.

Jauh sebelum itu, nama CN-235 mengemuka ke publik pada 17 Oktober 1979 saat Orde Baru berkuasa. Saat itu, BJ Habibie, sebagai orang penting di PT Nurtanio dari Indonesia, menandatangani kerja sama dengan CASA, perusahaan asal Spanyol.

Mereka mendirikan perusahaan patungan Aircraft Technology Industry. Pusatnya ada di Madrid. Mereka merancang dan memproduksi pesawat penumpang besar.

PT Nurtanio adalah cikal bakal dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI), sebuah perusahaan kedirgantaraan milik negara yang kini dikenal sebagai pemain utama industri pesawat terbang nasional. Adapun CASA bertransformasi menjadi Airbus Defense & Space merupakan perusahaan asal Spanyol yang juga memproduksi berbagai jenis pesawat.

Saat penandatanganan kerja sama, kedua perusahaan menyampaikan kepada publik bahwa pesawat tersebut diberi nama Air Taxi CN-235. Pesawat ini disebut bermesin ganda dengan kapasitas 35 penumpang (Kompas, 19/10/1979).

Kode CN235 diambil sebagai identitas pesawat dan mencerminkan spesifikasi utamanya. CN diambil dari produsennya, yakni CASA-Nurtanio. Adapun kode 2 melambangkan dua mesin turboprop. Angka 35 adalah kapasitas penumpang yang bisa diangkut pesawat.

Berdasarkan catatan dalam situs PTDI, CN235 adalah pesawat multiguna dengan kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), kemampuan masuk dan keluar suatu area dalam jarak dan waktu sesingkat mungkin. Pesawat ini juga bisa beroperasi di dalam dan di luar bandara, seperti di atas rumput, salju, es, dan pasir.

Dengan kemampuan itu, pesawat ini tangguh di berbagai medan dan tak selalu butuh landasan pacu tradisional beraspal untuk mendarat dan lepas landas. Kemampuan ini memungkinkan pesawat digunakan untuk mengirim bantuan ke tempat bencana, menjangkau tempat terpencil, membantu industri peternakan dan pertanian, hingga pencarian dan penyelamatan.

CN235 juga dirancang dengan ramp door, pintu besar di bagian belakang pesawat. Bagian pintu ini berfungsi sebagai landasan pacu kecil untuk memuat dan menurunkan barang, kendaraan, atau pasukan secara cepat dan efektif. Oleh karenanya, beberapa negara tertarik menggunakan pesawat jenis ini untuk melengkapi armada militer mereka.

Pada 1987, misalnya, BJ Habibie yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi menyebut Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) akan memakai pesawat ini. Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Angkatan Udara AS saat itu, James McGovern, bahkan meninjau langsung pembuatan CN235 di Bandung, Jawa Barat (Kompas, 2/12/1987).

Perkembangan awal dan penggunaannya

Pesawat ini lantas dikembangkan dalam beberapa prototipe awal. Prototipe pertama "Elena" yang diproduksi oleh CASA melakukan penerbangan perdananya pada 11 November 1983. Adapun prototipe kedua "Tetuko" yang diproduksi oleh PTDI terbang pertama kali pada Desember 1983.

Setelahnya, mereka memproduksi beberapa serial CN235 mulai tahun 1986 untuk versi 10 dan 100. Setelahnya, PTDI mengembangkan versi yang disempurnakan. Beberapa di antaranya versi 110 dan 220; sedangkan Airbus Defense & Space dengan versi 200 dan 300-nya.

Di dalam negeri, sampai tahun 1993, pesawat CN235 digunakan untuk penerbangan komersil dan militer. Pemberitaan Kompas berjudul “CN-235 Versi Militer Diserahkan pada Hankam” pada 14 Januari 1993 mengabarkan, 15 pesawat CN235 telah dioperasikan Merpati, saat itu Badan Usaha Milik Negara yang melayani penerbangan regional. Di periode yang sama, dua pesawat versi militer diserahkan dan dioperasikan TNI AU.

Pesawat versi militer ini dimodifikasi berbeda dengan CN235 versi sipil. Pesawat seharga 13 juta dolar AS ini dilengkapi radar yang mampu mendeteksi posisi musuh pada jarak 100-120 kilometer (Kompas, 14/1/1993).

Pesawat yang mampu mengangkut barang lima ton ini, mampu terbang rendah hanya pada ketinggian 3-6 kaki atau sekitar 1-2 meter dari atas permukaan tanah, terutama untuk mengirimkan bantuan dan perbekalan.

Serial Artikel

Pesawat Multiguna Tangguh Produksi Dalam Negeri

Sejumlah negara menggunakan pesawat CN235 yang terbukti tangguh dan memiliki teknologi mumpuni karya anak bangsa PT Dirgantara Indonesia (PTDI). CN235 adalah pesawat komuter multiguna yang bisa dikonfigurasi untuk berbagai kebutuhan.

Baca Artikel

Sedangkan untuk penerjunan barang melalui parasit tanpa orang, pesawat ini terbang pada ketinggian 1.500-3.000 kaki. Pesawat CN235 versi militer mampu mengangkut 33 penerjun dan telah diuji coba mengangkut 625 kilogram beban di masing-masing sayapnya.

"Berarti pesawat ini bisa dimodifikasi untuk mengangkut rudal. Sebab berat rudal yang disimpan di bawah sayap pesawat sekitar 600 kg," ujar Aditya Kusumah, yang saat itu menjabat Vice President Sales PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio, sekarang PTDI.

Ketangguhan CN235 ini bukan tanpa cacatan. Di masa awal penggunaannya, kecelakaan udara datang dari Merpati Nusantara yang menggunakan pesawat CN235 "Trangadi". Pesawat rute Semarang-Bandung ini hilang pada Minggu, 18 Oktober 1992, siang sekitar pukul 13.30 WIB (Kompas, 19/10/1992).

Pesawat dikemudikan Captain Fierda Panggabean dan Ko-pilot Adnan S Paago. "Trangadi" menabrak Gunung Puntang di wilayah gugusan Gunung Papandayan, Jabar. Kejadian ini menewaskan 31 penumpang dan awaknya (Kompas, 31/12/1992).

Pesawat bernomor registrasi PK-MNN dengan catatan menjelang 2.000 jam terbang ini dilaporkan dalam keadaan laik terbang (Kompas, 21/10/1992). Artinya, kondisi pesawat dinyatakan baik dan aman digunakan untuk terbang.

Dalam catatan Kompas, penyebab jatuhnya pesawat Merpati ini diperkirakan karena cuaca buruk. Itu ditambah dengan rute ke Bandung punya kerumitan khas. Kota ini dikelilingi gunung dan perbukitan yang pada musim hujan sering diliputi awan tebal, sehingga menyulitkan jarak pandang dari udara menjelang pendaratan.

Perkembangannya kini

Kini, CN235 terus dikembangkan dalam berbagai versi. Dalam situs PTDI, hingga saat ini lebih dari 300 CN235 telah diproduksi dalam banyak versi dengan dua mesin General Electric CT7-9C terbaru, masing-masing memiliki 1.750 shapefile (SHP).

Dalam portofolio PTDI, CN235 masuk kategori pesawat dengan sayap tetap. Ada CN235-220 yang dirancang untuk misi khusus, seperti pencarian dan pertolongan (SAR), pengawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut, pengawasan dan keamanan laut, mengontrol penyelundupan, hingga mengontrol imigrasi.

Di kelasnya, jenis ini punya kemampuan hot and high performance mumpuni. Ia bisa beroperasi dengan kondisi ketinggian dan suhu sekitar bandara yang berpotensi buruk pada kinerja pesawat. Jenis ini mampu bertahan terbang lebih dari 11 jam.

Ada dua versi pesawat CN235-220 ini, yakni versi sipil dan militer. Versi sipil diproduksi dan bisa didesain sesuai permintaan konsumen untuk keperluan pengangkutan logistik, bantuan bencana, hingga mobilitas pasukan penjaga perdamaian.

Dalam catatan PTDI, Pesawat Angkut Militer CN235-220 dirancang untuk membawa berbagai barang kebutuhan prajurit, evakuasi medis, hingga mengangkut penerjun payung. Pesawat ini bisa membawa 49 pasukan bersenjata atau penerjun payung lengkap dengan perlengkapannya sampai 34 personel.

Beberapa hari terakhir, pesawat ini menjadi perbincangan saat AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dalam operasi bertajuk "Absolute Resolve" pada 3 Januari 2026. Laporan The New York Times menyebut operasi ini melibatkan sedikitnya 150 pesawat militer, satu di antaranya CN235.

Pendapat publik pun beragam. Sebagian menganggap, hal itu menjadi bukti ketangguhan teknologi anak bangsa. Namun, sebagian lagi menyayangkan ketika pesawat itu ikut terlibat konflik yang mengegerkan dunia.

Serial Artikel

Venezuela dan Masa Depan Rezim Maduro

Kekuatan besar militer dikerahkan Amerika Serikat ke Laut Karibia di sekitar Venezuela. Pengerahan ini merupakan bagian dari upaya untuk melengserkan Maduro.

Baca Artikel


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tiga Tim Berpeluang Jadi Juara Paruh Musim, Siapa yang Paling Berhak?
• 18 jam lalufajar.co.id
thumb
DJKI Kementerian Hukum Imbau Musisi & Pencipta Pastikan Keanggotaan dalam LMK
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Blak-blakan! Julius Ibrani Pertanyakan Alasan Aktivis Muda NU dan Muhammadiyah Laporkan Pandji
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Selamat, Matsui Jurina Eks AKB48 Resmi Menikah dengan Tsujimoto Tatsunori
• 17 jam laluinsertlive.com
thumb
Balita Jadi Korban Peluru Nyasar, KemenPPPA Minta Semua Pihak Pastikan Keamanan Anak
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.