Setelah Maduro, Siapa Berikutnya? Tiongkok Terpukul, Xi Jinping Masuk Mode Siaga

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dunia diguncang oleh perkembangan dramatis setelah Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap oleh pasukan militer Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer skala besar yang mengejutkan komunitas internasional. Penangkapan ini mengikuti serangkaian serangan udara dan serangan terhadap pangkalan militer di Venezuela pada 3 Januari 2026 dini hari, yang secara resmi disebut “Operation Absolute Resolve” oleh militer AS.

Serangan Militer dan Penangkapan Mendadak

Operasi militer yang dimulai pada tanggal 3 Januari 2026 itu melibatkan ratusan pesawat serta unit pasukan khusus seperti Delta Force dan unit laut serta udara lainnya. Sasaran serangan mencakup pangkalan militer utama di Caracas, termasuk La Carlota (Generalissimo Francisco de Miranda Air Base) dan Fort Tiuna, serta fasilitas penting lain di wilayah utara Venezuela. Akibat operasi tersebut, terjadi ledakan di sejumlah titik strategis dan beberapa bagian Kota Caracas dilaporkan kehilangan pasokan listrik.

Tak lama setelah serangan udara dimulai, pasukan khusus AS berhasil masuk ke kawasan tempat tinggal Maduro dan menangkapnya bersama istrinya. Keduanya kemudian dibawa keluar dari wilayah Venezuela dan diterbangkan ke Amerika Serikat, tiba di Stewart Air National Guard Base di negara bagian New York pada hari yang sama.

Sidang Perdana di New York

Pada 5 Januari 2026, Maduro dan Cilia Flores muncul di pengadilan federal Manhattan, New York, di bawah pengamanan ketat. Keduanya menghadapi tuduhan serius terkait konspirasi narkoterrorisme, perdagangan kokain, dan kejahatan lain yang berkaitan dengan impor narkotika ke AS — dakwaan yang sudah bergulir sejak tahun 2020. Di hadapan hakim, kedua terdakwa menyatakan “tidak bersalah” atas semua dakwaan tersebut. Maduro diperintahkan tetap ditahan hingga persidangan lanjutan yang dijadwalkan 17 Maret 2026.

Kekacauan Politik Internasional dan Kecaman Global

Operasi militer ini memicu gelombang kritik internasional yang intens. PBB dan lembaga hak asasi manusia menilai tindakan AS melanggar hukum internasional, karena menggunakan kekuatan militer tanpa mandat Dewan Keamanan PBB atau persetujuan Kongres AS. Beberapa negara anggota Dewan Keamanan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan nasional.

Sementara itu, pemerintah Venezuela menyatakan kecaman keras terhadap serangan tersebut, menyebutnya sebagai agresi imperialistis. Pemerintah sementara yang dibentuk, dengan Delcy Rodríguez sebagai pemimpin sementara, mengumumkan masa berkabung nasional dan menegaskan akan mempertahankan kedaulatan negara.

Reaksi Domestik dan Dampak di AS

Di Amerika Serikat sendiri, langkah militer yang dramatis ini turut memicu perdebatan politik. Laporan menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap Presiden Donald Trump meningkat tajam setelah penangkapan Maduro, dengan sebagian pendukung memuji tindakan keras terhadap pemerintahan yang dituduh korup dan bersekongkol dalam perdagangan narkoba. Namun, banyak anggota parlemen dan pakar hukum menyoroti kekhawatiran legalitas tindakan tersebut.

Trump sendiri mengumumkan bahwa AS “akan menjalankan” Venezuela sementara waktu untuk mengatur transisi yang aman, meskipun rincian praktis dari kebijakan ini masih belum jelas dan menuai kritik luas. Pernyataan mengenai pengelolaan minyak Venezuela juga menjadi sorotan, terutama di tengah spekulasi bahwa AS akan memanfaatkan cadangan minyak besar negara itu untuk kepentingan strategisnya.

Dampak Global dan Perubahan Kekuatan Energi

Penangkapan Maduro dipandang sebagai pergeseran besar dalam geopolitik energi global. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan kontrol atas sumber daya ini menjadi salah satu alasan kuat di balik keputusan AS. Beberapa analis mencatat bahwa hilangnya akses terhadap minyak Venezuela merupakan pukulan besar bagi negara-negara yang selama ini mengandalkan pasokan energi murah dari Caracas.

Kesimpulan

Penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan Cilia Flores pada awal Januari 2026 adalah peristiwa luar biasa yang mengguncang tatanan geopolitik internasional. Operasi militer AS dan konsekuensi hukum yang menyertainya menandai titik balik hubungan antara AS, Amerika Latin, dan komunitas internasional secara umum.

Perkembangan terbaru masih terus memunculkan ketidakpastian, baik secara hukum, politik, maupun dampaknya terhadap stabilitas regional. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bukan Solskjaer atau Carrick, MU Diam-Diam Incar Sosok Mengejutkan Ini
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
BGN Kucurkan Rp 855 Miliar per Hari untuk Program MBG di Awal 2026
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Polisi Bandara Soetta amankan perempuan diduga pramugari gadungan
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Foto: Kasus Penembakan Picu Amarah Warga, Demonstrasi Minneapolis Memanas
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Terdesak Biaya Nikah, Residivis di Surabaya Nekat Curi Motor Warga | BERUT
• 8 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.