Arsip Foto ”Kompas”: Jembatan Ampera Tidak Lagi Naik Turun

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Membentang di atas Sungai Musi, Jembatan Ampera sudah puluhan tahun menjadi ikon Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Jembatan Ampera memiliki panjang 1.177 meter dan lebar 22 meter serta dilengkapi dua menara setinggi 63 meter di kedua sisinya. Bukan hanya menjadi penghubung wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir di Kota Palembang, kehadiran Jembatan Ampera juga menjadi kebanggaan warga Palembang.

Salah satu keunikan Jembatan Ampera adalah bagian tengah jembatan dapat terangkat saat ada kapal besar yang akan melintas.

Hingga awal tahun 1970-an fungsi naik-turun jembatan masih dapat dilihat. Saat bagian tengah terangkat dan kapal melintas di bawahnya seolah menjadi ”pertunjukan” dan hiburan warga. Mereka biasanya beramai-ramai menonton dari tepi Sungai Musi.

Perasaan takjub itu dituturkan Nelliyanto (48), warga Seberang Ulu yang berprofesi sebagai sebagai pengemudi speed boat. Ada perasaan terkesima setiap kali melihat bagian tengah jembatan yang terangkat perlahan-lahan, kemudian diturunkan lagi selama sekitar 30 menit.

”Wah, pokoknya itu pemandangan yang menakjubkan, apalagi dilihat dari atas perahu,” ujar Nelliyanto (Kompas, 19 April 2003).

Namun, pada Kamis 29 Maret 1973, untuk pertama kalinya, bagian tengah Jembatan Ampera yang dapat terangkat itu macet saat sedang dioperasikan. Jembatan yang sedang dalam posisi terangkat itu tergantung diatas dan tidak dapat diturunkan.

Tentu saja insiden yang terjadi pada pukul 15.00 WIB itu menyebabkan Jembatan Ampera tidak dapat dilalui kendaraan yang akan menyeberangi Sungai Musi dari dua arah.

Peristiwa pada Kamis sore itu bermula saat sebuah kapal Karana II milik Gesuri Llyod yang mengangkut besi tua sebanyak 2.400 ton melintas di Sungai Musi.

Sebelum kapal lewat di bawah Jembatan Ampera, bagian tengah jembatan kemudian dikerek ke atas dan kapal melintas. Saat akan diturunkan kembali, bagian tengah jembatan itu macet.

Selama sekitar 2,5 jam bagian tengah jembatan itu tidak dapat diturunkan kembali dan tetap tergantung sehingga membuat kemacetan lalu lintas di darat.

Sebetulnya sebelum peristiwa itu, jembatan sudah tak pernah dinaik-turunkan selama sekitar satu tahun. Terutama sejak berhentinya produksi batubara di Tanjung Enim sehingga tidak ada lagi kapal yang membawa batubara.

Kapal-kapal yang akan melintas di bawah jembatan dikenai tarif. Saat itu, tarif yang ditetapkan dianggap terlalu mahal. Kapal berukuran hingga 1.000 ton dikenai tarif Rp 15.000.

Adapun tarif kapal berukuran 1.000-3.000 ton sebesar Rp 20.000 dan kapal berukuran 3.000-6.000 ton dikenai tarif Rp 25.000.

Sesudah insiden kemacetan itu, ditambah lumpuhnya sistem mekanis yang mengatur naik turunnya jembatan, sisi tengah atau lift span Jembatan Ampera tidak pernah lagi dicoba untuk dinaik-turunkan. Bahkan, hingga beberapa tahun sesudahnya.

Kemacetan di bagian peralatan hidrolik yang menggerakkan ”roda gila” pada Jembatan Ampera hingga Desember 1976 belum berhasil diatasi. Beberapa tenaga ahli Indonesia telah berulang kali mengadakan survei dan pemeriksaan, tetapi belum menemukan titik sentral kerusakan yang menyebabkan fungsi naik turun jembatan macet total (Kompas, 11 Desember 1976).

Jembatan Ampera mulai dibangun pada 1962. Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 April 1962.

Pembangunan jembatan, yang awalnya sempat diberi nama Jembatan Soekarno itu dibiayai dari pampasan perang Jepang sebesar 7 juta dolar AS, itu selesai pada Mei 1965. Sebagian besar proyek jembatan dilakukan oleh kontraktor dan subkontraktor dari Jepang, seperti Fuji Car Mfg Co Ltd, Kishimoto Gumi, Murakami, dan Iwasa. Adapun dari Indonesia ada Hutama Karya dan Waskita Karya.

Jembatan Ampera pernah direnovasi pada 1981 dan 1991. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan potensi kerusakan Jembatan Ampera yang bisa membuatnya ambruk.

Pada perbaikan tahun 1981 mulai dilakukan pembongkaran alat pemberat yang digunakan untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan saat ada kapal yang akan melintas. Dua alat pemberat (counter weight) dengan dilapisi rangka baja dan beton yang masing-masing memiliki berat 450 ton itu tergantung di ketinggian 30 meter dan terikat oleh rantai besi. Dengan dibongkarnya alat pemberat itu, praktis bagian tengah jembatan tidak dapat lagi dinaikturunkan.

Pada 1990, dua bandul pemberat di menara jembatan ini dibongkar dan diturunkan untuk menghindari risiko kerusakan jembatan apabila bandul itu jatuh ke badan jembatan.

Enam dekade berlalu, Jembatan Ampera telah melalui banyak perubahan dari masa ke masa. Tak hanya menjelma menjadi ikon identitas, tetapi juga menjadi ikon wisata.

Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia
Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Empat Dekade Tol Jakarta-Tangerang
Baca JugaArsip Foto ”Kompas” : Memori Bus Tingkat 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Setahun Program MBG, Polda Riau Bangun 15 SPPG
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Polisi Tetapkan 6 Tersangka Kasus Penganiayaan di Depok, Salah Satunya Anggota TNI AL
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Korban Bencana Sumatra Diberi Bantuan Air Bersih Sampai Nutrisi Anak
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gubernur Sumut Bobby Nasution Terima Donasi Bencana Rp4,7 Miliar dari Pemko Batam
• 10 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Lirik Lagu Bang Jono Versi Korea yang Viral di TikTok
• 40 detik laluinsertlive.com
Berhasil disimpan.