Densus 88 Antiteror Polri mengungkap sebuah group chat internasional bernama True Crime Community yang menyebarkan paham ekstrem. Grup itu didominasi anak-anak dan remaja.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana menyebut grup itu memiliki puluhan jejaring grup lainnya yang masih aktif. Ada 70 anak di Indonesia yang terpapar.
Mayndra memaparkan sejumlah ciri-ciri anak yang terpapar paham ekstrem dari grup tersebut. Salah satunya, menurut dia, ditemukan sejumlah simbol paham-paham tertentu di gawai atau barang lainnya milik anak, seperti paham white supremacy dan neo nazi.
“Yang pertama, salah satunya ditemukan gambar simbol nama pelaku kekerasan seperti yang tadi telah diuraikan di depan. Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya,” ucap Mayndra dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta pada Rabu (7/1).
Lalu, Mayndra menyebut anak yang terpapar paham ekstrem cenderung tidak terbuka kepada pergaulan.
“Kemudian cenderung menarik diri dari pergaulan karena tadi seperti disampaikan bahwa komunitas ini cukup membuat mereka nyaman, sehingga anak-anak lebih suka menyendiri dan untuk berlama-lama mengakses komunitas True Crime Community ini di dalam kamarnya, biasanya gitu,” ucap Mayndra.
Mereka juga suka menirukan idola mereka di dunia ekstremisme itu. Ia mencontohkan pelaku pengeboman SMAN 72 Jakarta yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Kemudian suka menirukan tokoh atau idola. Nah ini sudah terbukti, kita memiliki insiden, pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari postingannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay yang dimainkan oleh pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya,” ucap Mayndra.
Lalu, anak-anak itu suka melihat konten-konten bermuatan kekerasan dan sadis.
“Cenderung juga kalau kita melihat konten-konten yang diakses tidak normal. Jadi kalau orang normal melihat itu pasti tidak tega melihat kejadian-kejadian kekerasan yang sering di-upload di komunitas tersebut,” jelas Mayndra.
Mayndra juga menilai anak-anak itu akan marah berlebihan bila gawainya dilihat oleh orang lain.
“Kemudian yang kelima, marah berlebihan ketika device-nya dilihat orang lain. Jadi yang bersangkutan paham bahwa ini sesuatu yang privasi bagi dia gitu. Ketika diinspeksi, cenderung bereaksi secara keras,” ucap Mayndra.
“Dan yang terakhir, simbol-simbol yang tadi, simbol baik itu pistol, senjata api replika, dan pisau yang identik dengan kekerasan itu kerap kadang dia bawa ke sekolah gitu ya, untuk dibuat inspirasi melakukan kekerasan,” tambahnya.
Mayndra pun meminta agar para orang tua yang menemukan ciri-ciri tersebut dan ditemukan adanya group chat tersebut di gawai anaknya untuk segera memberikan bimbingan.
“Dan ini masih aktif sebagai sarana kontrol bagi orang tua apabila menemukan grup-grup ini di gawai anaknya, segera untuk diberikan bimbingan ya, bahwa grup-grup ini teridentifikasi berbahaya karena mengajak anak kepada kekerasan,” ucap Mayndra.




