Bisnis.com, JAKARTA — Saham sektor pertambangan dan energi tercatat menjadi penopang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026.
Berdasarkan daftar 15 emiten penggerak utama pasar sepanjang periode 1- 6 Januari 2025, saham-saham tambang dan energi terlihat mendominasi kontribusi kenaikan indeks sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD).
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) mengukuhkan diri sebagai lokomotif utama bursa dengan bobot sebesar 40,35 poin terhadap indeks. Hal ini diraih berkat kenaikan harga sahamnya yang mencapai 20,62%.
Di posisi kedua, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) menyumbang 27,73 poin seiring dengan apresiasi harga sahamnya sebesar 16,82% YtD.
Langkah BRMS kemudian diikuti oleh PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) dan entitas Grup Bakrie lainnya, yakni PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang masing-masing berkontribusi sebesar 26,81 poin dan 25,54 poin terhadap IHSG.
Berbeda dengan sektor komoditas yang agresif, sektor perbankan dan teknologi cenderung memberikan kontribusi yang lebih moderat. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), misalnya, menyumbang 7,93 poin dengan kenaikan harga 6,25%.
Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang naik 1,24% YtD tercatat memberikan kontribusi sebesar 9,51 poin terhadap indeks komposit.
Saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) juga masuk dalam daftar lantaran harga sahamnya yang meroket 94,14% YtD. Kenaikan itu membuat perseroan menyumbangkan 6,43 poin ke IHSG.
Secara keseluruhan, lebih dari separuh pertumbuhan IHSG di awal 2026 masih ditopang oleh saham berbasis komoditas, mulai dari mineral, batu bara, hingga jasa energi. Konsentrasi penguatan pada segelintir saham tersebut mengindikasikan bahwa reli pasar modal belum merata ke seluruh sektor.
Sementara itu, dominasi emiten perbankan serta katalis positif dari sektor konsumer diyakini bakal menjadi mesin utama penggerak indeks LQ45.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebutkan bahwa emiten perbankan berkapitalisasi pasar besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI diyakini akan kembali menjadi penggerak indeks.
“Sektor perbankan didukung oleh pemulihan aliran modal masuk asing dan kebijakan dividen yang kuat. Bahkan, imbal hasil dividen BBRI diprediksi mampu mencapai angka 9%,” ungkap Abida, Selasa (6/1/2026).
Selain perbankan, Abida menuturkan bahwa sektor konsumer dan peternakan diperkirakan bakal memberikan kontribusi signifikan. Emiten seperti ICBP, INDF, CPIN, dan JPFA diprediksi menjadi penopang utama.
Kinerja sektor ini didorong oleh lonjakan permintaan yang bersumber dari realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintah.
Selain itu, melandainya harga bahan baku komoditas global berpotensi mempertebal margin keuntungan emiten-emiten tersebut tahun ini.
Di sisi lain, ASII juga dijagokan akan menyokong indeks. Penguatan saham emiten otomotif ini didorong oleh peningkatan penetrasi kendaraan listrik, serta keberhasilan strategi diversifikasi bisnis perusahaan ke sektor mineral dan kesehatan yang dinilai lebih defensif terhadap gejolak pasar.
Berikut daftar saham penggerak utama (top leaders) IHSG sepanjang 1 – 6 Januari 2026:1. AMMN: +20,62% – 40,346 poin
2. BRMS: +16,82% – 27,731 poin
3. BYAN: +10,67% – 26,810 poin
4. BUMI: +26,78% – 25,535 poin
5. DCII: +12,01% – 23,988 poin
6. MDKA: +18,42% – 11,061 poin
7. BBCA: +1,24% – 9,506 poin
8. DEWA: +21,64% – 9,155 poin
9. ASII: +2,99% – 8,220 poin
10. GOTO: +6,25% – 7,925 poin
11. VKTR: +15,38% – 6,974 poin
12. PTRO: +9,61% – 6,563 poin
13. BIPI: +94,19% – 6,429 poin
14. MBMA: +15,79% – 5,934 poin
15. ANTM: +9,52% – 5,670 poin
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





