ISPA hingga Diare Dominasi Penyakit di Wilayah Bencana Sumatera, Menkes: Campak Paling Dikhawatirkan

suara.com
1 hari lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Menteri Kesehatan mengumumkan ISPA menjadi kasus terbanyak ditemukan di wilayah bencana Sumatra pada Rabu, 7 Januari 2026.
  • Kementerian Kesehatan sangat khawatir terhadap penyakit campak karena tingkat penularannya yang sangat tinggi di lokasi pengungsian.
  • Pemerintah telah memulai program imunisasi khusus bagi anak-anak di lima kabupaten teridentifikasi kasus campak di wilayah terdampak.

Suara.com - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi kasus paling banyak ditemukan di wilayah bencana di Sumatera.

Selain ISPA, penyakit kulit dan diare juga mendominasi laporan harian layanan kesehatan di daerah terdampak.

“Kami memonitor juga data harian penyakit yang masuk. Jadi yang paling besar itu ISPA, kemudian kulit, penyakit diare. Itu obat-obatan kita sesuaikan dengan jenis penyakitnya,” kata Budi dalam konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Namun, di antara berbagai penyakit yang muncul, Kementerian Kesehatan menaruh perhatian khusus pada penyakit menular dengan tingkat penularan tinggi. Salah satunya adalah campak.

“Nah, menularkan penyakit yang kita amati dengan sangat dekat, itu yang paling kita takuti adalah campak. Karena campak itu penularannya tingkat reproduksinya paling tinggi,” ujarnya.

Menurut Budi, satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan ke banyak orang lain dalam waktu singkat. Kondisi ini menjadi sangat berisiko di wilayah bencana, terutama di lokasi pengungsian yang padat.

Kemenkes telah mengidentifikasi kasus campak di lima kabupaten di wilayah terdampak.

Merespons temuan tersebut, pemerintah langsung menjalankan program imunisasi khusus bagi anak-anak di daerah yang terdeteksi.

“Campak itu kita identifikasi ada di lima kabupaten. Di situ kita sudah melakukan program imunisasi khusus, jalan sejak minggu ini. Hari Senin kemarin juga sudah jalan,” kata Budi.

Baca Juga: Hujan Tinggi Saat Anak Masuk Sekolah, IDAI Ingatkan Waspada Penularan Penyakit Ini

Anak-anak pengungsi di Gampong Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. [Suara.com/Iskandar]

Program imunisasi tersebut difokuskan pada anak-anak di wilayah yang telah terbukti terdapat kasus campak. Langkah ini dilakukan untuk memutus rantai penularan sejak dini.

Selain campak, Kemenkes juga menemukan penyakit menular lain di wilayah bencana, seperti tuberkulosis (TBC) dan leptospirosis. Meski TBC disebut sebagai penyakit yang memang selalu ada, temuan leptospirosis turut menjadi perhatian.

Meski begitu, Menkes menegaskan campak menjadi ancaman paling serius, terutama bagi anak-anak. Penyakit ini tidak hanya cepat menular, tetapi juga berpotensi fatal jika terlambat ditangani.

“Yang paling kita khawatirkan adalah campak, karena penularannya cepat sekali dan itu bisa mematikan kalau di anak-anak kalau terlambat ditangani,” katanya.

Budi menegaskan, alasan tersebut yang mendasari keputusan Kemenkes untuk segera melakukan imunisasi khusus di wilayah-wilayah yang telah terkonfirmasi terdapat kasus campak, guna mencegah meluasnya wabah di tengah kondisi pascabencana.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kata Ridwan Kamil soal Anak hingga Harta Gana-Gini usai Cerai dengan Atalia Praratya
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Mensos Sebut Prabowo Setuju MBG Lansia-Disabilitas, Akan Ada Care Giver
• 20 jam laludetik.com
thumb
KPK Usut Aliran Uang Korupsi Ade Kunang ke Wakil Ketua DPRD Bekasi
• 2 jam laludetik.com
thumb
Resolusi Pinjaman Daring 2026: OJK Perketat Batas Utang
• 18 jam lalukompas.id
thumb
Polda Metro Jaya Agendakan Panggil Tersangka Klaster 1 Kasus Ijazah Jokowi
• 16 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.