Densus 88 Antiteror Polri menyebut pelaku pengeboman SMAN 72 Jakarta terinspirasi dari pelaku kejadian serupa di luar negeri. Mereka memiliki kesamaan, yakni terpapar konten paham ekstrem yang disebarkan melalui grup chat internasional bernama True Crime Community.
Tak hanya terinspirasi, pelaku pengeboman SMAN 72 Jakarta bahkan meniru gaya berpakaian para pelaku kejadian serupa di luar negeri yang tergabung dalam grup tersebut.
“ABH yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari unggahannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, merupakan cosplay yang dimainkan oleh pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya,” kata Juru Bicara Densus 88, Kombes Myandra Eka Wardhana, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (7/1).
Dari grup tersebut, setidaknya terdapat 70 anak di Indonesia yang terpapar paham white supremacy hingga Neo-Nazi. Serangkaian aksi kekerasan di sekolah pun berhasil dicegah di sejumlah daerah, mulai dari Kalimantan Barat hingga Jepara.
Myandra mengungkapkan penyebab rencana aksi pelaku sulit terdeteksi, yakni karena pelaku sangat tertutup atau introvert. Ia juga tidak pernah menceritakan rencananya kepada orang-orang terdekatnya.
“Kemudian, pada 7 November 2025, kita dikejutkan oleh insiden di SMAN 72. Hal itu bisa terjadi karena karakter ABH yang melakukan aksi tersebut benar-benar sangat introvert,” jelas Myandra.
“Sangat tidak bersosialisasi dan tidak berinteraksi dengan anak mana pun dalam melakukan aksinya. Sehingga rekan sekolah dan pihak lain tidak dapat mendeteksi secara cepat untuk dilakukan antisipasi,” tandasnya.





