Kementerian Kesehatan memastikan seluruh rumah sakit di wilayah terdampak bencana telah kembali beroperasi per 1 Januari 2026.
Sementara itu, dari ratusan puskesmas yang terdampak, masih tersisa tiga puskesmas di Aceh yang belum beroperasi di dalam gedung akibat kerusakan berat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, pemulihan layanan kesehatan dilakukan secara bertahap, mulai dari rumah sakit karena bersifat kritikal dan menyelamatkan nyawa.
“Tahap yang pertama adalah kita harus segera memulihkan layanan kesehatan di rumah sakit. Karena ini adalah layanan yang paling critical dan life-saving. Karena banyak yang harus segera dirawat di rumah sakit agar kondisinya bisa kita selamatkan,” jelas Budi dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1).
87 Rumah Sakit Terdampak, Sembilan Sempat Berhenti TotalBudi menyebutkan, dari total 130 rumah sakit di wilayah Aceh dan Sumatera, sebanyak 87 rumah sakit terdampak bencana.
Per 1 Desember 2025, sembilan rumah sakit sempat berhenti beroperasi, terdiri dari delapan rumah sakit di Aceh dan satu rumah sakit di Sumatera Utara.
“Nah, dari 87 rumah sakit yang terdampak pada saat bencana ini terjadi, kita lihat dalam seminggu beberapa di antaranya bisa pulih kembali. Nah, ada sembilan yang benar-benar harus berhenti beroperasi,” ungkap Budi.
“Satu di Sumatera Utara, Tanjung Pura di Langkat, dan delapan itu di Aceh ya,” lanjutnya.
Untuk menangani kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan membentuk pusat krisis kesehatan di wilayah terdampak.
“Jadi tanggal 1 Desember, kita membentuk Pusat Krisis Kesehatan, itu sudah prosedur yang standar di Kementerian Kesehatan. Namanya Health Emergency Operation Center, di tiga provinsi dan seluruh kabupaten/kota terdampak,” jelas Budi.
Meski belum pulih 100 persen, seluruh rumah sakit terdampak kini telah berhasil kembali melayani pasien.
“Tapi dalam dua minggu, seluruh 87 RSUD di daerah bencana, termasuk sembilan yang banjirnya setinggi pinggang lebih yang benar-benar udah alatnya udah nggak karu-karuan, itu bisa mulai beroperasi kembali,” ungkap Budi.
867 Puskesmas Terdampak, Tiga Masih Belum Beroperasi di GedungSetelah rumah sakit, pemulihan berlanjut ke layanan puskesmas yang jumlahnya jauh lebih banyak. Dari total 1.265 puskesmas, sebanyak 867 puskesmas terdampak bencana.
Per 1 Desember 2025, sebanyak 152 puskesmas berhenti beroperasi, terdiri dari 139 di Aceh, 12 di Sumatera Utara, dan satu di Sumatera Barat.
“Kita ingin memulihkan kembali layanan kesehatan di seluruh puskesmas. Ini jauh lebih berat karena lebih banyak puskesmas-nya, ada 867, dan 152 benar-benar kerendam tinggi sekali, udah berantakan sekali, berhenti beroperasi,” jelas Budi.
Hingga awal Januari 2026, sebagian besar puskesmas telah kembali melayani masyarakat. Namun, masih ada tiga puskesmas di Aceh yang belum dapat beroperasi di dalam gedung.
“Dan Alhamdulillah sampai awal Januari 2026, tinggal tiga lagi yang belum bisa beroperasi, yaitu di Aceh Tengah (Rusip Antara), di Aceh Tenggara (Jambur Lak Lak), dan di Aceh Timur (Lokop),” ungkapnya.
Budi menambahkan, khusus Puskesmas Lokop, kerusakan yang terjadi sangat parah sehingga harus dibangun ulang.
“Yang Lokop ini benar-benar sudah hancur, jadi ketimpa kayu-kayu besar ya jadi Puskesmas roboh, sekarang sedang kita bangun baru,” tandasnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466082/original/062042000_1767802988-1500_x_845.jpg)