Koalisi Saudi Serang Yaman Selatan, Incar Separatis

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan di Yaman selatan pada Rabu (7/1), dengan menyasar pasukan separatis Dewan Transisi Selatan Yaman (Southern Transitional Council/STC) yang didukung Uni Emirat Arab (UEA).

Serangan itu dilakukan setelah pemimpin kelompok separatis tersebut, Aidaros Alzubidi, dilaporkan melarikan diri dan batal menghadiri perundingan di Riyadh, Arab Saudi.

Dilansir dari Al Jazeera, koalisi telah melakukan serangan pendahuluan terbatas di provinsi Al-Dhale, selatan Yaman, untuk mencegah eskalasi konflik oleh STC yang dipimpin Alzubidi.

Alzubidi sejatinya dijadwalkan terbang dari kota Aden, Yaman pada Selasa (6/1) malam menuju ibu kota Arab Saudi, Riyadh, guna membahas upaya meredakan bentrokan antara kelompok separatis dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Namun, ia tidak menaiki pesawat tersebut.

Koalisi menyatakan Alzubidi justru “melarikan diri ke lokasi yang tidak diketahui”, meninggalkan anggota dan pimpinan kelompoknya tanpa informasi mengenai keberadaannya.

Pada saat yang sama, koalisi mengaku menerima laporan bahwa Alzubidi memobilisasi pasukan besar.

“Termasuk kendaraan lapis baja dan tempur, senjata berat dan ringan, serta amunisi,” tulis koalisi tersebut.

Menurut koalisi, pasukan separatis itu meninggalkan Aden sekitar tengah malam dan kemudian terdeteksi berada di provinsi Al-Dhale.

Serangan pendahuluan pun dilancarkan sekitar pukul 04.00 waktu setempat untuk melumpuhkan pasukan tersebut dan menggagalkan apa yang disebut sebagai upaya Alzubidi “meningkatkan konflik”.

Dikutip dari AFP, koalisi menegaskan pihaknya bekerja sama dengan pemerintah Yaman dan otoritas lokal untuk mendukung upaya keamanan serta menjaga ketertiban di wilayah tersebut.

Di sisi lain, STC mengeluarkan pernyataan yang menyerukan Arab Saudi agar menghentikan serangan udara.

Kelompok separatis itu juga mengklaim telah kehilangan kontak dengan delegasi mereka yang berada di Riyadh, serta menyebut Alzubidi masih berada di Aden untuk mengawasi operasi militer dan keamanan.

STC, yang didukung UEA, sebelumnya merupakan sekutu pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam melawan pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman utara.

Namun pada Desember 2025, kelompok ini berbalik melancarkan serangan terhadap pasukan pemerintah yang didukung Saudi, dengan tujuan mendirikan negara merdeka di Yaman selatan.

STC sempat menguasai sebagian besar wilayah selatan Yaman, termasuk provinsi strategis Hadramout dan Mahra. Hadramout berbatasan langsung dengan Arab Saudi, sementara Mahra berada dekat kawasan perbatasan. Kedua provinsi ini mencakup hampir setengah wilayah Yaman.

Kemajuan separatis itu memicu kekhawatiran Riyadh. Arab Saudi merespons dengan melancarkan serangan udara di pelabuhan Mukalla pada 30 Desember 2025, menargetkan apa yang disebut sebagai pengiriman senjata yang terkait dengan UEA. Riyadh juga mendukung seruan pemerintah Yaman agar pasukan Emirat menarik diri dari negara tersebut.

Abu Dhabi membantah tudingan pengiriman senjata dan menyatakan komitmennya terhadap keamanan Arab Saudi. Tak lama kemudian, pihaknya mengumumkan berakhirnya apa yang disebutnya sebagai “misi kontra-terorisme” di Yaman.

Didukung serangan udara Saudi, pasukan pemerintah Yaman kemudian berhasil merebut kembali Hadramout dan Mahra. STC menyatakan kesediaannya menghadiri pembicaraan damai yang dimediasi Arab Saudi, dan koalisi mengonfirmasi bahwa delegasi STC—kecuali Alzubidi—telah berangkat menuju Riyadh pada dini hari Rabu.

Sementara itu, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang diakui secara internasional, Rashad al-Alimi, mengumumkan pencopotan Alzubidi dari dewan tersebut dengan tuduhan “pengkhianatan tingkat tinggi”.

Al-Alimi juga mengatakan telah meminta Jaksa Agung Yaman untuk membuka penyelidikan dan mengambil langkah hukum terhadap pemimpin separatis itu.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang sama-sama merupakan produsen minyak utama, selama ini mendukung faksi-faksi yang bersaing dalam konflik Yaman, khususnya di wilayah selatan. Perpecahan di antara sekutu lama itu menambah kompleksitas perang Yaman, yang telah berlangsung sejak kelompok Houthi menggulingkan pemerintah pada 2014 dan menguasai sebagian besar wilayah utara negara tersebut.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waspada Modus Penipuan Digital yang Kian Beragam, Nama Bea Cukai Kerap Disalahgunakan
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Polda Metro Jaya tangkap tiga pengedar ganja seberat 83 kg di Bekasi
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Menteri Agus Andrianto Resmikan Immigration Lounge di PIK Avenue untuk Tingkatkan Layanan Keimigrasian
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Pekan Krusial Super League: Ambisi Malut United Tembus Dominasi Persib Bandung dan Persija Jakarta di Tengah Bayang Bernardo Tavares Bersama Persebaya
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Presiden SENYAP 08 Hadiri Perayaan Natal Bersama 2025 di RSPAD Gatot Soebroto
• 17 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.