Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk memperkuat imunitas tubuh dalam menghadapi penyebaran super flu.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Rokomyanmas, mengatakan pertahanan utama menghadapi super flu adalah kondisi tubuh yang prima.
“Jadi begini, menurut kami pertahanan terbaik adalah imunitas tubuh yang harus diperkuat. Jadi anak-anak, siapa pun itu—dewasa maupun lansia—perkuatlah pertahanan tubuh dengan imunitas yang baik,” kata Aji saat ditemui di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1).
“Makan bergizi, istirahat cukup. Kemudian vaksin itu boleh-boleh saja, tetapi sifatnya opsional,” lanjutnya.
Ia menambahkan, vaksinasi flu tidak bersifat wajib dan lebih dianjurkan bagi kelompok rentan.
“Jadi tidak wajib. Vaksin boleh untuk kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, dan tenaga kesehatan,” tuturnya.
Aji juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri beraktivitas saat sedang sakit.
“Kalau memang sakit, sebaiknya tetap di rumah, pakai masker, terapkan etika batuk dan bersin. Kalau sudah berat, sakitnya lebih dari dua atau tiga hari, segera periksa ke dokter atau fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Kemenkes Pantau Super Flu
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, Kemenkes telah mengidentifikasi beberapa varian influenza dari ratusan sampel yang dikumpulkan.
“Ditemukan dari hasil WGS (Whole Genome Sequencing) ada Influenza A PDM 09,” kata Aji.
“Kemudian ditemukan juga Influenza A H3N2. Dari H3N2 tersebut, sekitar 62 persen merupakan subclade K. Sisanya adalah Influenza B,” sambungnya.
Aji menyebut seluruh pasien yang terdeteksi dalam laporan tersebut kini telah pulih.
“Itu sebenarnya sudah sehat semua, karena datanya—yang 62 tadi—kita dapat pada minggu ke-36 tahun 2025 atau minggu pertama September. Jadi tidak ada yang sakit berat dan tidak ada yang meninggal,” jelas Aji.
Terkait protokol kesehatan, Aji menegaskan belum ada kewajiban seperti saat pandemi Covid-19, meski masyarakat tetap dianjurkan untuk waspada.
“Kalau kita merasa sakit atau kurang sehat, dan terpaksa harus bekerja, gunakan masker. Kemudian jaga jarak dan cuci tangan,” imbuh Aji.
“Kewaspadaan tetap kita lakukan. Kami juga memantau laporan dari WHO, CDC, dan sumber lainnya, lalu mengompilasikannya dengan laporan dari daerah,” tandasnya.





