BOGOR, KOMPAS.com – Di tengah lalu lintas yang tak pernah sepi dan bau lumpur selokan yang menyengat, Dede Sukria (37) menuruni bibir saluran air di kawasan Cikaret, Bogor Selatan.
Tanpa rompi proyek dan tanpa embel-embel jabatan resmi, ia kembali melakukan rutinitas yang telah dijalaninya hampir satu dekade: membersihkan selokan sendirian, dengan niat yang ia yakini sebagai ibadah.
Sepasang sepatu bot karet kuning menjejak lumpur hitam yang licin. Air selokan berwarna keruh mengalir pelan, tersendat oleh plastik, dedaunan, dan sisa-sisa sampah rumah tangga.
Di atasnya, suara kendaraan roda dua dan mobil bersahutan, berpadu dengan gemericik air yang teraduk cangkul.
Baca juga: Dari Emping Jengkol hingga Wisata Air, Menyusuri Kampung Labirin Bogor
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=indepth, Bogor Selatan, relawan kebersihan, in depth, Dede Sukria, Bersih-bersih selokan&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8yMjA4Mzk3MS9kZWRlLXN1a3JpYS1zdWthcmVsYS1iZXJzaWhrYW4tc2FtcGFoLWRlbWktaWJhZGFoLWtpbmktZGlzb3JvdC13YWxpLWtvdGE=&q=Dede Sukria Sukarela Bersihkan Sampah Demi Ibadah, Kini Disorot Wali Kota Bogor§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Di bahu jalan, sepeda motor milik Dede terparkir. Sebilah cangkul, pengki, karung-karung kosong, hingga mesin pemotong rumput tersusun di bibir selokan. Dari balik semak liar, ia membungkuk, mengangkat sampah yang tersangkut di akar dan bebatuan.
Tak ada upah, tak ada jadwal resmi. Yang ada hanya tubuh yang terus bergerak, seolah mengabaikan panas matahari dan risiko luka.
Aksi itulah yang selama hampir 10 tahun dilakukan Dede Sukria. Bukan sehari dua hari, melainkan nyaris setiap hari, dengan satu pegangan yang selalu ia ulangi: niat ibadah.
Dari kerja senyap di selokan-selokan Cikaret itu pula, nama Dede akhirnya sampai ke telinga Wali Kota Bogor. Sorotan tersebut datang setelah bertahun-tahun ia bekerja sendirian, tanpa bayaran dan tanpa pendampingan.
Bertahun-tahun bekerja senyapPerhatian dari Pemerintah Kota Bogor menjadi titik balik yang tak pernah dibayangkan Dede sebelumnya. Selama bertahun-tahun, aktivitas bersih-bersih itu ia lakukan dalam sunyi, tanpa dokumentasi dan tanpa laporan.
"Sekarang alhamdulillah (dapat bayaran) kayaknya perbulan, cuman saya kan belum pernah terima gaji kan. Baru bulan ini jadi tidak tahu angkanya," kata Dede saat ditemui, Selasa (6/1/2026).
Baca juga: Kisah Dede Sukria, Sepuluh Tahun Bersihkan Selokan di Bogor Tanpa Upah
Ia turun ke selokan bukan sebagai bagian dari program pemerintah, melainkan sebagai warga yang resah melihat lingkungan sekitarnya sendiri.
Sebelum dikenal, Dede terbiasa bekerja dalam keterbatasan. Ia mengandalkan uang pribadi untuk membeli bensin, karung, hingga alat kerja. Sampah yang terkumpul pun sering ia angkut seorang diri, tanpa truk pengangkut atau petugas penjemput.
“Saya sudah hampir 10 tahun dari tahun 2015 Itu sendiri emang," kata Dede.
Ia mengenang masa-masa ketika seluruh pekerjaan ditangani sendiri, jauh sebelum ada bantuan atau perhatian dari pemerintah kota.
“Misalkan 40 karung saya dari ujung sana sampai ke depan bawa motor saya sendiri. Pokoknya bersih-bersih masuk karungan, langsung bawa angkut Sampai pulang ke rumah jam 6," katanya.



