BOGOR, KOMPAS.com – Setiap hari, di jalur Cikaret, Bogor Selatan, seorang pria tampak turun ke selokan. Dengan tangan kosong dan peralatan sederhana, ia memunguti sampah, mengeruk lumpur, serta memangkas rumput liar yang menutup aliran air.
Tanpa seragam petugas dan tanpa bayaran, aksi itu telah ia lakukan hampir satu dekade—hingga akhirnya mengundang perhatian warga dan pemerintah kota. Bagi sebagian orang yang melintas, pemandangan tersebut mungkin sudah tak lagi asing.
Seorang pria turun ke selokan, memunguti sampah dengan tangan, mengeruk lumpur, lalu memotong rumput liar yang menjalar ke badan air.
Baca juga: Dede Sukria Sukarela Bersihkan Sampah Demi Ibadah, Kini Disorot Wali Kota Bogor
Tanpa rompi petugas, tanpa iring-iringan alat berat. Hanya seorang diri, ditemani panas matahari dan bau menyengat dari selokan.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=indepth, in depth, Pembersihan selokan sukarela, Dede Sukria Bogor, Perubahan lingkungan Cikaret, Aksi tanpa pamrih&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8yMjI2MDQ3MS9kaWtpcmEtcGV0dWdhcy1rZWJlcnNpaGFuLWRlZGUtc3VrcmlhLWp1c3RydS1qYWRpLXBlbmphZ2Etc2Vsb2thbi1zZWNhcmE=&q=Dikira Petugas Kebersihan, Dede Sukria Justru Jadi Penjaga Selokan Secara Sukarela di Bogor§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Namun, bagi warga sekitar, kehadiran Dede Sukria bukan sekadar pemandangan rutin. Ia perlahan menjadi penanda perubahan.
Selokan yang rawan tersumbat kini lebih terbuka. Air yang sebelumnya tertahan sampah mulai mengalir.
Dari warung kecil di tepi jalan hingga rumah-rumah yang berhadapan langsung dengan selokan, warga menyaksikan perubahan itu hari demi hari.
Dede, warga asal Cikaret, Bogor Selatan, yang membersihkan selokan secara sukarela, dianggap membantu warga menjaga aliran sungai.
Tak luput dari pandangan wargaBagi warga yang sehari-hari beraktivitas di sekitar selokan, perubahan paling awal terasa dari kebersihan visual.
Sampah yang biasanya mengendap berhari-hari mulai berkurang. Bau yang kerap tercium saat siang hari perlahan memudar. Aktivitas warga di sekitar selokan pun menjadi lebih nyaman.
Adun (57), warga sekitar yang menjaga warung di lokasi dekat selokan, mengaku cukup sering memperhatikan aktivitas Dede.
Baca juga: Kisah Dede Sukria, Sepuluh Tahun Bersihkan Selokan di Bogor Tanpa Upah
Dari balik warungnya, ia melihat langsung bagaimana Dede turun ke selokan, bekerja sendirian dari pagi hingga sore.
Sebagai warga, Adun menilai apa yang dilakukan Dede bukan sekadar kerja fisik, tetapi juga bentuk bantuan nyata bagi lingkungan sekitar.
“Bagus, ya dalam bentuk dia membersihkan sampah sendiri jadi membantu warga, efektif juga ada yang membersihkan," kata Adun saat ditemui di tokonya, Selasa (6/1/2026).
Sampah kiriman dari huluMeski berada di tengah permukiman, selokan di kawasan tersebut bukanlah titik akhir aliran air.
Adun menyebut, air mengalir dari wilayah hulu menuju Cikaret. Karena itu, meski warga sekitar merasa tidak membuang sampah ke selokan, tumpukan sampah tetap kerap muncul.
Berdasarkan pengamatannya, sampah tersebut bukan berasal dari lingkungan terdekat. Sampah datang terbawa arus, mengendap di titik-titik tertentu, lalu menumpuk jika tidak segera dibersihkan.
“Banyak sampahnya. Kan sampahnya itu dari hulu kebanyakan ke sini. Enggak tahu sampahnya dari mana, mungkin dari atas tapi Mang Dede kan bersinnya dari atas, dari mulai dari atas terus ke bawah," kata dia.
Baca juga: Dari Emping Jengkol hingga Wisata Air, Menyusuri Kampung Labirin Bogor
Warga tak buang sampah sembaranganSebagai penjaga warung, Adun berada di posisi yang memungkinkan dirinya mengamati aktivitas warga sekitar setiap hari.
Ia menyebutkan, sejauh yang ia lihat, warga di lingkungan tersebut tidak membuang sampah ke selokan. Kesadaran untuk tidak menjadikan selokan sebagai tempat pembuangan sudah cukup terjaga.
Namun, arus air tetap membawa sampah dari wilayah lain. Rumput liar yang tumbuh cepat juga kerap menahan sampah yang hanyut.
“Paling kalau di sini kan rumput-rumput memang cepat numbuh Kadang-kadang warga juga ngebersihin, tapi kan cepat numbuh Kalau sampah dari atas," kata dia.
Menurut Adun, pengelolaan sampah di lingkungan itu masih dilakukan secara sederhana.
Sampah rumah tangga biasanya dikumpulkan di rumah masing-masing dan kemudian diangkut petugas. Sebagian warga juga memilih membakar sampah agar tidak berakhir di saluran air.




