Setiap pagi hingga sore hari, denyut aktivitas di sekitar Stasiun Bekasi tak hanya ditandai lalu-lalang penumpang kereta. Di luar pagar stasiun, tepatnya di Jalan H. Djuanda dan sisi samping stasiun di Jalan Perjuangan, ratusan sepeda motor berderet rapi. Kawasan yang dulu didominasi rumah tinggal dan lahan kosong kini menjelma menjadi kantong-kantong usaha penitipan motor.
Fenomena ini tumbuh seiring padatnya mobilitas warga yang menggantungkan perjalanan harian pada transportasi kereta api. Tarif parkir resmi di dalam area stasiun yang dihitung per jam dinilai memberatkan, terutama bagi para pekerja yang meninggalkan kendaraan sejak pagi hingga petang.
Di area parkir resmi stasiun, tarif satu jam pertama dipatok Rp 2.000 dan bertambah Rp 1.000 untuk setiap jam berikutnya. Jika dihitung selama jam kerja, biaya parkir bisa melonjak cukup tinggi. Kondisi itu membuat banyak pengguna kereta memilih parkir di luar stasiun, yang menawarkan tarif harian lebih terjangkau.
“Kalau parkir di luar stasiun, dulu Rp 5.000, sekarang di tempat kami cukup bayar Rp 6.000 seharian. Walaupun sekarang ada yang mulai naik lagi,” ujar Awan, petugas parkir motor di kawasan sekitar Stasiun Bekasi, Rabu (7/1).
Menurut Awan, kenaikan tarif parkir di luar stasiun tak terelakkan. Ia menyebut faktor kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) menjadi alasan utama penyesuaian harga. Beberapa pengelola parkir bahkan sudah mulai mematok tarif Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per hari.
“Sekarang memang lagi pada naik-naik. Katanya UMR naik, jadi ada rencana bulan depan jadi Rp 7.000. Kalau yang di depan-depan stasiun, saya dengar sudah ada yang Rp8.000,” kata Awan.
Meski demikian, parkir di luar stasiun tetap dianggap lebih ekonomis dibandingkan parkir resmi di dalam area stasiun. Selain harga, faktor kedekatan emosional antara pengelola parkir dan pelanggan juga menjadi daya tarik tersendiri.
“Di sini banyak yang sudah langganan. Sudah kenal satu sama lain. Setiap hari ketemu, jadi ya saling percaya,” ujarnya.
Hal serupa diakui Dimas, pengguna jasa parkir motor asal Tambun. Setiap hari ia menitipkan motornya di salah satu lahan parkir dekat Stasiun Bekasi sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta.
“Kalau dibandingkan, jelas lebih murah di luar. Selisihnya jauh kalau parkir di dalam stasiun,” kata Dimas.
Menurutnya, meski tidak ada sistem pembayaran bulanan, hubungan langganan tetap terjalin secara alami. Pembayaran dilakukan harian, namun rasa aman muncul karena sudah saling mengenal.
“Bayarnya per hari, bukan bulanan. Tapi ya sudah kenal, jadi merasa lebih aman saja,” ujarnya singkat.
Perubahan fungsi rumah dan lahan menjadi area parkir motor kini menjadi pemandangan lazim di sekitar Stasiun Bekasi yang kini tidak hanya simpul transportasi, tetapi juga cermin denyut ekonomi kecil yang tumbuh di sekitarnya. Selama arus penumpang terus mengalir, deretan motor dan bisnis parkir tampaknya akan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari wajah kawasan stasiun.




