GenPI.co - Jambi kehilangan sekitar 2,5 juta hektare hutan selama kurun waktu 5 dekade lebih (52 tahun).
Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Adi Junedi mengatakan hutan yang tersisa hanya 929.899 ha atau 18,5 persen dari luas daratan.
“Angka ini menempatkan Jambi dalam zona kritis ekologis, yang berpotensi menjadi bencana yang terjadi secara eksponensial dan pemulihannya akan membutuhkan biaya besar serta waktu lama,” kata dia, Rabu (7/1).
Adi menjelaskan artinya dalam 10 tahun terakhir Jambi telah kehilangan 112.372 ha atau setara dengan 10 kali luas Kota Jambi.
Dia mengungkapkan pemicu utama hutan hilang ini adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala luas, terutama sawit.
Begitu pula dengan ekspansi pertambangan serta kebakaran hutan dan lahan.
Dia menyebut aktivitas tambang batu bara maupun emas merusak bentang alam, mencemari sungai, dan memunculkan masalah sosial sosial.
Dari 2025 pantauan citra satelit menunjukkan pertambangan batu bara sudah membuka lahan sekitar 16.000 ha.
"Sedangkan penambangan emas tanpa izin (PETI) terindikasi telah merusak lebih dari 60.000 hektare, setara hampir tiga kali luas Kota Jambi, terlihat di kawasan areal penggunaan lain, hingga taman nasional," beber dia.
Menurut dia, kerusakan hutan berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
"Dengan kondisi ini, banjir serta longsor menjadi ancaman permanen, bukan sekadar risiko musiman. Jambi hari ini sedang tidak baik-baik saja dan bencana hanya tinggal menunggu waktu," jelas dia.(ant)
Heboh..! Coba simak video ini:





