Bisnis.com, DENPASAR – Pembangunan jalan cepat atau shortcut Singaraja - Mengwitani kembali dilanjutkan untuk tahun anggaran 2026. Proyek ini ditandai dengan groundbreaking pada Rabu (7/1/2025) di Pegayaman, Kabupaten Buleleng.
Gubernur Bali Wayan Koster menjelaskan kelanjutan pembangunan tersebut menjadi bagian dari prioritas konektivitas wilayah utara–selatan di Pulau Bali. Pada periode anggaran kali ini akan dibangun shortcut titik 9 dan 10. Menurut dia, keberadaan jalur cepat ini mendesak untuk menopang mobilitas penumpang dan logistik.
“Pembangunan shortcut ini kebutuhannya sangat mendesak, baik untuk pelayanan transportasi penumpang maupun logistik. Karena itu saya mohon agar pembangunan Titik 9 dan 10 dapat segera dilanjutkan, dan sekarang sudah berjalan,” jelas Koster, Rabu (7/1/2025).
Ke depan, pemerintah daerah menyiapkan percepatan pembebasan lahan untuk Titik 11 dan 12. Medan di dua titik tersebut disebut paling berat sehingga membutuhkan penanganan lebih matang.
Koster menargetkan proses pembebasan lahan dimulai tahun 2026. Dengan demikian, pekerjaan konstruksi diharapkan dapat dimulai pada akhir 2027 atau awal 2028. Ia menegaskan target penyelesaian proyek sebelum akhir masa jabatannya.
“Saya ingin jalan shortcut ini tuntas minimal sampai titik 12 sebelum masa jabatan saya berakhir, kami berkomitmen untuk menuntaskan pembangunan infrastruktur strategis di Bali paling lambat tahun 2030, pada periode keduanya sebagai gubernur," katanya.
Baca Juga
- Pemprov NTB Minta PT GNE Fokus ke Bisnis Konstruksi, Usaha Lain Dihentikan
- Harga Pupuk Subsidi 2026, Prabowo Janjikan Ini Kepada Petani
- Daftar 38 Provinsi di Indonesia Tahun 2026 dan Ibu Kotanya
Pembangunan konektivitas antarwilayah tersebut dinilai penting untuk mengurai kemacetan sekaligus mendukung pemerataan pembangunan. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum disebut telah menyatakan dukungan penuh untuk mempercepat proyek ini.
Dalam paparannya, Koster juga menyoroti besarnya kontribusi Bali dalam sektor pariwisata nasional. Ia menyebut dari total 13,9 juta wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia, sekitar 6,3 juta atau 45 persen di antaranya berkunjung ke Bali. Kontribusi devisa diperkirakan mencapai Rp170 triliun atau sekitar 53 persen dari total devisa pariwisata nasional.
Karena itu, persoalan kemacetan disebut menjadi ancaman bagi daya saing pariwisata ke depan.
“Masalahnya, daerah tidak punya anggaran cukup besar untuk menyelesaikan persoalan kemacetan ini sendirian. Kalau tidak segera ditangani, Bali bisa merosot daya saingnya karena isu kemacetan terus-menerus,” kata Koster.




