Cerita Warga Bertahan di Jakarta dengan Biaya Hidup yang Terus Naik

eranasional.com
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Tingginya biaya hidup masih menjadi persoalan serius bagi banyak warga Jakarta. Kenaikan harga kebutuhan pokok, tarif listrik, biaya sewa tempat tinggal, hingga transportasi membuat penghasilan setara Upah Minimum Provinsi (UMP) sering kali tidak cukup, terutama bagi warga yang telah berkeluarga dan memiliki tanggungan.

Kondisi ini memaksa sebagian besar warga Ibu Kota harus berjuang ekstra untuk bertahan. Ada yang mengambil pekerjaan tambahan, ada pula yang memilih menekan pengeluaran dengan memangkas kebutuhan nonprioritas.

Salah satu kisah datang dari Ardi Saputra (36), warga kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Ia bekerja sebagai staf penjualan di sebuah toko elektronik pusat perbelanjaan dengan penghasilan setara UMP. Namun, gaji tersebut nyaris tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ardi harus menanggung biaya hidup istri, anak berusia satu tahun, serta kedua orangtuanya yang tinggal bersamanya. Demi menambah pemasukan, ia pun bekerja sampingan sebagai pengemudi ojek online.

Rutinitas Ardi dimulai sejak dini hari. Usai salat Subuh, ia langsung mengaspal mencari penumpang hingga menjelang siang. Sekitar pukul 11.00 WIB, ia pulang untuk beristirahat sebelum kembali bekerja di toko pada sore hari. Jika mendapat jadwal kerja pagi, Ardi justru menarik ojek online selepas Maghrib hingga larut malam.

“Lumayan, dari ojek bisa nambah sekitar Rp 100.000 per hari,” ujar Ardi saat ditemui di Tebet, Selasa (6/1/2026).

Jika digabungkan, pendapatan bulanannya dari dua pekerjaan tersebut mencapai sekitar Rp 8,3 juta. Namun, angka itu tetap terasa pas-pasan karena tingginya biaya hidup di Jakarta.

Menurut Ardi, pengeluaran terbesar setiap bulan berasal dari kebutuhan makan dan tagihan rumah tangga.

“Kalau makan itu susah dihitung, kadang masak, kadang beli. Sebulan bisa sampai Rp 4 juta,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, biaya makan untuk dirinya dan sang istri minimal Rp 50.000 per orang per hari. Jika dikalikan sebulan, totalnya mendekati Rp 3 juta. Sementara sisa sekitar Rp 1 juta digunakan untuk kebutuhan anak, seperti susu, makanan tambahan, dan camilan.

Selain itu, Ardi juga harus membayar tagihan listrik sekitar Rp 400.000 per bulan, internet Rp 250.000, serta sewa kontrakan Rp 1,2 juta. Kondisi tersebut membuatnya hampir tidak memiliki ruang untuk menabung.

Tekanan biaya hidup juga dirasakan oleh Nadia Prameswari (26), karyawan swasta di kawasan Jakarta Selatan. Nadia mengaku hanya memiliki penghasilan sekitar Rp 2,6 juta per bulan, jauh di bawah UMP Jakarta.

Di sisi lain, pendapatan suaminya sebagai kurir logistik juga tidak terlalu besar, yakni sekitar Rp 3,5 juta per bulan. Dengan dua sumber penghasilan tersebut, mereka harus membiayai satu orang anak, kontrakan, serta membantu orangtua.

“Kalau digabung, yang langsung habis itu kontrakan dan listrik sekitar Rp 2 juta. Terus ada jatah buat orangtua Rp 500.000,” kata Nadia saat diwawancarai, Senin (5/1/2026).

Agar tetap bertahan, Nadia dan suami memilih hidup sangat sederhana. Salah satu strategi utama adalah menghemat biaya makan dengan lebih sering memasak sendiri di rumah.

“Kalau bisa masak, masak saja. Soalnya makan enggak cuma sendiri, ada suami dan anak,” ujarnya.

Dengan memasak, biaya makan bisa ditekan hingga Rp 50.000 per hari. Sebaliknya, jika membeli makanan di luar, pengeluaran bisa melonjak hingga Rp 100.000 lebih per hari.

Nadia juga menunda berbagai kebutuhan pribadi, mulai dari jalan-jalan hingga membeli produk perawatan diri.

“Skin care diirit-irit, pilih yang murah saja. Yang penting anak dulu,” tuturnya.

Beban biaya hidup Jakarta ternyata juga dirasakan oleh warga dengan penghasilan di atas UMP. Putri Wulandari (30), karyawan swasta dengan gaji sekitar Rp 10 juta per bulan, mengaku tetap harus mengatur keuangan dengan ketat.

“Yang paling mahal itu makan dan tempat tinggal,” kata Putri.

Menurutnya, biaya makan untuk dua orang bisa mencapai Rp 2 juta per bulan, sementara sewa kontrakan sekitar Rp 1,5 juta. Saat ini, Putri juga tengah menanti kelahiran anak pertamanya dan membutuhkan dana tambahan untuk persalinan.

Karena itu, sekitar Rp 5 juta dari penghasilannya sengaja dialokasikan untuk tabungan darurat dan kebutuhan anak.

“Tabungan ini penting, soalnya kadang pengeluaran suka enggak terduga,” ujarnya.

Sementara itu, Dina Maharani (25), pekerja lapangan yang belum menikah, juga merasakan mahalnya biaya hidup di Jakarta meski tidak memiliki tanggungan keluarga.

Dari gaji sekitar Rp 5 juta per bulan, Dina menyisihkan Rp 1 juta hingga Rp 1,3 juta untuk membantu kebutuhan rumah, seperti listrik, internet, dan belanja harian.

“Listrik bisa sampai Rp 600.000 sebulan, walaupun pakai token,” kata Dina.

Selain itu, biaya transportasi kerja juga menjadi beban tersendiri. Tanpa kendaraan pribadi, Dina harus mengeluarkan sekitar Rp 1 juta per bulan hanya untuk ongkos kerja.

“Transportasi umum memang lebih murah, tapi kalau mobilitas tinggi tetap saja mahal,” ujarnya.

Dina menilai, mahalnya biaya hidup Jakarta juga sangat dipengaruhi lokasi dan gaya hidup kawasan.

“Kawasan kayak Kemang, Pondok Indah, atau PIK itu beda banget. Makan jajanan yang sama, harganya bisa jauh lebih mahal dibanding daerah lain,” tuturnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Martina Ayu Senang Sabet 7 Medali di SEA Games, Disorot Prabowo, Dapat Bonus Rp 3,4 Miliar
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Satgas PKH Identifikasi 12 Korporasi Penyebab Banjir Sumatera, Sanksi Berat Menanti
• 15 jam lalumerahputih.com
thumb
Arsenal Vs Liverpool, Laga Besar Menuju Perebutan Takhta Liga Inggris
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Anggota DPRD DKI Minta Bank Jakarta Benahi Keamanan Siber Sebelum IPO 2027
• 12 jam lalusuara.com
thumb
Hakim Ad Hoc PN Samarinda WO dari Sidang Protes Tunjangan, MA Turun Tangan
• 17 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.