Harga minyak dunia ditutup melemah untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (7/1/2026).
IDXChannel - Harga minyak dunia ditutup melemah untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (7/1/2026), setelah investor mencerna kesepakatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengimpor minyak mentah Venezuela hingga senilai USD2 miliar.
Langkah tersebut dipandang berpotensi menambah pasokan ke negara konsumen minyak terbesar di dunia tersebut.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup terkoreksi tajam 1,2 persen ke level USD59,96 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 2 persen ke USD55,99 per barel.
Pada hari sebelumnya, kedua patokan harga tersebut juga telah turun lebih dari USD1 per barel, di tengah ekspektasi pasokan global yang melimpah tahun ini.
Trump menulis dalam unggahan media sosial pada Selasa bahwa Venezuela akan ‘menyerahkan’ sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang selama ini berada di bawah sanksi kepada Amerika Serikat.
Sumber Reuters menyebutkan, kesepakatan antara Washington dan Caracas pada tahap awal kemungkinan mengharuskan pengalihan kargo yang sebelumnya ditujukan ke China.
“Kontrak berjangka minyak terus berada di bawah tekanan setelah aksi jual menjelang akhir perdagangan kemarin, menyusul kabar bahwa Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS,” ujar Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial, Dennis Kissler.
Venezuela diketahui memiliki jutaan barel minyak yang telah dimuat di kapal tanker maupun tersimpan di tangki penyimpanan, namun tidak dapat dikirim sejak pertengahan Desember akibat blokade ekspor yang diberlakukan Trump.
Blokade tersebut merupakan bagian dari kampanye tekanan AS terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang berujung pada penangkapannya oleh pasukan AS pada akhir pekan lalu.
Pejabat tinggi Venezuela menyebut penangkapan Maduro sebagai penculikan dan menuduh Amerika Serikat berupaya mencuri cadangan minyak negara itu yang sangat besar.
Pada Rabu, AS juga menyita sebuah kapal tanker kosong berbendera Rusia yang terkait dengan Venezuela di Samudra Atlantik.
Di sisi lain, penurunan stok minyak mentah AS memberikan sedikit penopang harga.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan, persediaan minyak mentah turun 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Januari. Sebelumnya, analis memperkirakan kenaikan 447 ribu barel.
Namun, stok bensin AS justru melonjak 7,7 juta barel dalam sepekan, jauh di atas perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan kenaikan 3,2 juta barel.
Persediaan distilat, termasuk solar dan minyak pemanas, juga naik 5,6 juta barel, melampaui perkiraan kenaikan 2,1 juta barel.
Analis Morgan Stanley memperkirakan pasar minyak berpotensi mengalami surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026, seiring lemahnya pertumbuhan permintaan tahun lalu dan meningkatnya pasokan dari produsen OPEC maupun non-OPEC.
Meski demikian, analis BMI, unit dari Fitch Solutions, menilai prospek meningkatnya ekspor minyak Venezuela yang diproduksi dengan biaya rendah dapat menahan ekspansi kapasitas produksi di AS dan negara lain.
Venezuela selama ini menjual minyak andalannya, Merey, dengan diskon sekitar USD22 per barel dibandingkan harga Brent untuk pengiriman di pelabuhan-pelabuhannya.
“Hal itu justru meningkatkan ekspektasi harga minyak dalam jangka menengah, terutama jika rezim Venezuela mampu bertahan,” tulis analis BMI. (Aldo Fernando)


