Densus 88 Antiteror Polri dan BNPT menemukan sebuah grup chat internasional bermuatan konten kekerasan dan paham radikalisme yang diisi oleh anak-anak hingga remaja.
Grup itu bernama True Crime Community dan diisi anak-anak yang saling menginspirasi untuk melakukan kekerasan. Akibatnya, ada 70 anak Indonesia terpapar paham radikalisme, white supremacy, hingga neo nazi.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol Mayndra Eka Wardana dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan pada Rabu (7/1) mengatakan grup itu memuat berbagai propaganda radikalisme di media sosial menggunakan video pendek, animasi, meme, hingga musik. Propaganda itu dibuat menarik untuk menggaet kalangan muda bergabung.
“Kondisi ini rentan bila bertemu dengan kondisi psikologis anak yang masih berada pada fase pencarian identitas, belum memiliki kemampuan berpikir kritis, serta memiliki kecenderungan mencari pengakuan,” ucap Mayndra.
“Akibat paparan radikalisme maupun paham kekerasan di media sosial ini sangatlah cepat dalam mempengaruhi perilaku, emosi, juga pola pikir anak-anak,” tambahnya.
Mayndra mengatakan grup ini tidak didirikan oleh kelompok tertentu. Grup ini tumbuh dengan sendirinya menggunakan propaganda yang dibuat tersebut.
Pemicu 70 Anak Gabung Grup RadikalismeDensus 88 Antiteror Polri mengungkap pemicu 70 anak yang terpapar paham radikalisme, Neo-Nazi, dan white supremacy yang tersebar di 19 provinsi. Salah satu pemicunya adalah sebagian anak tersebut menjadi korban perundungan (bullying).
“Dari pemetaan dan asesmen yang dilakukan bersama, dapat diidentifikasi bahwa terdapat penyebab yang memicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini, salah satunya adalah terjadinya perundungan,” kata Myandra.
“Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, yaitu di luar sekolah,” lanjutnya.
Pemicu lainnya, kata Eka, adalah latar belakang keluarga anak-anak tersebut, seperti broken home, orang tua meninggal dunia, hingga kurangnya perhatian dari keluarga.
“Kemudian broken home, rata-rata orang tuanya bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, mengalami trauma di dalam keluarga, atau kerap menyaksikan kekerasan di rumah. Selain itu, orang tua terlalu sibuk, kurang teman, dan membutuhkan apresiasi,” jelasnya.
Cegah Aksi di Jepara-KalbarMayndra menyebut setidaknya ada 5 aksi kekerasan yang direncanakan anak-anak karena grup tersebut.
Yang pertama, seorang anak di Jepara mencoba menjadi pelopor aksi kekerasan di sekolah. Ia berencana melangsungkan aksinya sebelum kejadian pengeboman SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu.
“Di mana di Jepara itu ada seorang anak yang juga ingin menjadi pelopor kekerasan di sekolah, kemudian ingin meng-upload juga di komunitas mereka gitu ya. Dan ini bisa ditangani oleh Densus 88 bersama dengan Polda Jateng,” ucap Mayndra.
Lalu, kejadian pengeboman SMAN 72 itu sendiri menurut Mayndra juga terpengaruh komunitas tersebut. Mayndra mengatakan, aksi itu tak bisa dicegah karena sang anak tak terbuka secara sosial.
Lebih lanjut, Densus 88 mencegah rencana aksi kekerasan lainnya di Kalimantan Barat hingga Jawa Timur.
Cara Pikat Anak Agar TertarikDensus 88 Antiteror Polri mengungkap maraknya propaganda di media sosial yang dikemas dalam bentuk video pendek, animasi, hingga meme untuk menarik minat anak-anak terhadap paham white supremacy dan Neo-Nazi.
“Adapun perkembangan propaganda melalui media sosial, baik dalam bentuk video pendek, animasi, meme, hingga musik yang dikemas secara menarik, dapat membangkitkan semangat untuk menjadikan ideologi dan paham ekstremisme sebagai inspirasi,” kata dia.
Menurut Myandra, kondisi tersebut sangat rentan apabila terpapar kepada anak-anak. Sebab, anak-anak masih berada dalam fase pencarian jati diri.
“Kondisi ini rentan apabila bertemu dengan kondisi psikologis anak yang masih berada pada fase pencarian identitas, belum memiliki kemampuan berpikir kritis, serta memiliki kecenderungan mencari pengakuan,” jelasnya.
Ciri-ciri Anak Terpapar EkstremismeMayndra memaparkan sejumlah ciri-ciri anak yang terpapar paham ekstrem dari grup tersebut. Salah satunya, menurut dia, ditemukan sejumlah simbol paham-paham tertentu di gawai atau barang lainnya milik anak, seperti paham white supremacy dan neo nazi.
“Yang pertama, salah satunya ditemukan gambar simbol nama pelaku kekerasan seperti yang tadi telah diuraikan di depan. Ini bisa jadi menjadi tokoh idola atau sosok yang ingin diikuti perilakunya,” ucap Mayndra.
Lalu, Mayndra menyebut anak yang terpapar paham ekstrem cenderung tidak terbuka kepada pergaulan.
“Kemudian cenderung menarik diri dari pergaulan karena tadi seperti disampaikan bahwa komunitas ini cukup membuat mereka nyaman, sehingga anak-anak lebih suka menyendiri dan untuk berlama-lama mengakses komunitas True Crime Community ini di dalam kamarnya, biasanya gitu,” ucap Mayndra.
Mereka juga suka menirukan idola mereka di dunia ekstremisme itu. Ia mencontohkan pelaku pengeboman SMAN 72 Jakarta yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Kemudian suka menirukan tokoh atau idola. Nah ini sudah terbukti, kita memiliki insiden, pernah terjadi insiden di SMAN 72 dan ABH yang melakukan tindakan tersebut, dari replika senjatanya, dari postingannya, dari gaya berpakaiannya, bahkan aksi-aksinya, ini adalah cosplay yang dimainkan oleh pelaku-pelaku sebelumnya dari negara asalnya,” ucap Mayndra.
Lalu, anak-anak itu suka melihat konten-konten bermuatan kekerasan dan sadis.



