Militer Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak ke Caracas, ibu kota Venezuela, dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya. Kabar ini mengguncang dunia. Tindakan tersebut juga membuat rezim-rezim otoriter di seluruh dunia merasa sangat gelisah, terutama Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang selama ini aktif merangkul dan mendukung Venezuela.
EtIndonesia. Pada 3 Januari 2026, militer AS melancarkan operasi kilat terhadap Venezuela dan berhasil menangkap pasangan Maduro, lalu dengan cepat membawa mereka ke New York untuk diadili. Yang patut diperhatikan, sebelum penangkapan tersebut, PKT baru saja mengirim delegasi untuk bertemu Maduro selama beberapa jam dan secara terbuka menyatakan dukungannya.
Pengamat politik Wang He menulis dalam Epoch Times pada 4 Januari bahwa hanya dalam hitungan jam, militer AS berhasil menangkap Maduro. Dunia luar bahkan tidak melihat adanya informasi mengenai bentrokan antara militer Venezuela dan pasukan AS. Hal ini menimbulkan dampak psikologis yang sangat besar bagi Amerika Latin dan negara-negara lain di dunia, terutama bagi PKT.
Wang He menganalisis bahwa peristiwa ini memberikan tiga bentuk penangkalan terhadap PKT:
Pertama, Maduro memiliki hubungan yang sangat dekat dengan PKT. Pada tahun 2023, Maduro berkunjung ke Tiongkok dan hubungan Venezuela–Tiongkok ditingkatkan menjadi “kemitraan strategis sepanjang waktu”. Kini, ketika Amerika Serikat bersiap mengambil alih Venezuela, hubungan Venezuela dengan PKT pasti akan mengalami perubahan drastis.
Kedua, dampak dari insiden Maduro dapat mendorong seluruh Amerika Latin untuk meninjau kembali hubungan mereka dengan PKT. Upaya PKT selama bertahun-tahun membangun pengaruh di kawasan tersebut kini menghadapi guncangan besar.
Ketiga, hal ini menjadi peringatan keras agar PKT tidak bertindak gegabah di Selat Taiwan. Selama kampanye presiden 2024, Trump pernah melontarkan pernyataan mengejutkan: jika PKT menginvasi Taiwan selama masa jabatannya, ia akan membombardir Beijing sebagai balasan. Setelah kembali ke Gedung Putih pada 2025, Trump secara tak terduga memerintahkan pengeboman fasilitas nuklir Iran. Penangkapan hidup-hidup Maduro kembali menunjukkan kekuatan, tekad, dan kredibilitas Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada media bahwa jika Trump mengatakan ia serius terhadap suatu hal, maka itu benar-benar serius.
Pengamat politik Zhou Xiaohui juga menilai bahwa penangkapan hidup-hidup Maduro memberikan tiga pukulan telak bagi PKT :
Pertama, investasi PKT dan utang ratusan miliar dolar AS di Venezuela kemungkinan besar sulit ditagih kembali, dan pengaruh PKT di Amerika Latin akan sangat melemah.
Kedua, operasi militer AS yang nyaris sempurna memaksa PKT untuk kembali menimbang dengan serius apakah konfrontasi dengan Amerika Serikat akan berujung pada nasib yang sama seperti Maduro.
Ketiga, penangkapan Maduro memicu sorakan dukungan luas dari warga Tiongkok di dalam dan luar negeri. Banyak komentar berharap Amerika Serikat dapat membantu membawa perubahan besar di Tiongkok. Arah opini publik ini menambah tekanan yang sangat besar bagi PKT.
Zhou Xiaohui menambahkan bahwa para pemimpin PKT, yang sebenarnya sudah sangat menyadari hilangnya dukungan rakyat dan terus-menerus berbicara soal “menjaga stabilitas”, kini kembali melihat gelombang besar aspirasi publik. Jika mereka memilih terus mempertahankan kekuasaan dan melindungi rezim PKT yang dianggap jahat, melawan arus sejarah, siapa yang bisa menjamin bahwa nasib Maduro tidak akan menimpa mereka sendiri?
Para pakar menganalisis bahwa langkah Amerika Serikat ini secara langsung menghantam keras kepentingan strategis PKT di Amerika Latin, sekaligus membuat rezim-rezim otoriter di seluruh dunia merasa sangat tidak aman.
Harian South China Morning Post yang berbasis di Hong Kong melaporkan bahwa Terry Haines, pendiri lembaga konsultan Pangaea Policy di Washington, menyatakan bahwa berdasarkan Strategi Keamanan Nasional yang dirilis pemerintah Trump akhir tahun lalu, tujuan keseluruhan Amerika Serikat adalah membatasi, menahan, dan melemahkan pengaruh ekonomi serta geopolitik PKT di Amerika Latin.
Haines menegaskan bahwa Venezuela, yang sebelumnya merupakan sekutu paling setia PKT di Amerika Selatan, kini telah “dicabut”. Ini sama artinya dengan Amerika Serikat secara langsung memutus salah satu basis utama PKT untuk menyusup ke kawasan Amerika Latin. Dampaknya tidak hanya “langsung dan negatif” terhadap tata letak PKT di Amerika Tengah dan Selatan, tetapi juga akan memicu reaksi keras dari negara-negara otoriter seperti Iran dan Rusia.
Surat kabar The Times melaporkan bahwa analis senior Eurasia Group sekaligus mantan pejabat Konsulat Jenderal AS di Shenyang, Jeremy Chan, menilai bahwa operasi ini membuat “para diktator dari Havana (Kuba) hingga Beijing kini pasti merasa jauh lebih gelisah dibandingkan kemarin.” Aksi lintas negara bergaya “pemenggalan kepala” semacam ini memiliki efek penangkalan yang sangat besar terhadap sistem otoriter. (Hui)
Tang Zheng




