Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Venezuela akan menggunakan seluruh pendapatan dari kesepakatan penyerahan hingga 50 juta barel minyak kepada AS untuk membeli produk buatan Negeri Paman Sam.
Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menyebut pembelian tersebut akan mencakup, antara lain, produk pertanian Amerika, obat-obatan buatan AS, serta perangkat dan peralatan medis, termasuk perlengkapan untuk meningkatkan jaringan listrik dan fasilitas energi Venezuela.
“Dengan kata lain, Venezuela berkomitmen menjadikan Amerika Serikat sebagai mitra utama dalam aktivitas bisnisnya,” katanya dikutip dari Bloomberg, Kamis (8/1/2026).
Trump meningkatkan tekanan terhadap pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, agar memperluas hubungan ekonomi dengan AS, menyusul operasi akhir pekan lalu yang berujung pada penangkapan pemimpin kuat Venezuela, Nicolás Maduro.
Pada Selasa, Trump mengumumkan rencana Venezuela mengirimkan minyak ke AS untuk dipasarkan, dengan nilai sekitar US$2,8 miliar berdasarkan harga pasar saat ini.
Menurut sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, hasil penjualan minyak akan disimpan di rekening Departemen Keuangan AS guna melindungi dana tersebut dari klaim para kreditur Venezuela.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan AS telah mulai memasarkan minyak mentah Venezuela.
AS Mencuri Minyak Venezuela?Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan, pihaknya tidak mencuri minyak dari siapa pun. Dia menuturkan, hasil penjualan minyak tersebut akan kembali ke Rakyat Venezuela.
“Kami akan memulai kembali penjualan minyak Venezuela di pasar global, menempatkan dananya di rekening atas nama Venezuela, lalu mengembalikannya ke Venezuela untuk kepentingan rakyat Venezuela," kata Wright
Wright menegaskan, dana hasil penjualan minyak Venezuela pada tahap awal tidak akan digunakan untuk membayar klaim Exxon Mobil Corp., ConocoPhillips, maupun perusahaan AS lain yang asetnya dinasionalisasi oleh pemerintahan pendahulu Maduro, Hugo Chávez, pada pertengahan 2000-an.
Meski demikian, Wright menyatakan perusahaan-perusahaan tersebut tetap perlu mendapatkan kompensasi, namun hal itu dikategorikan sebagai isu jangka panjang.




