EtIndonesia. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat tidak hanya mengguncang Amerika Latin, tetapi memicu efek domino geopolitik global yang kini terasa dari Timur Tengah hingga Asia Timur. Sejumlah analis menilai, rangkaian peristiwa yang terjadi setelahnya menunjukkan bahwa dunia telah memasuki fase baru persaingan kekuatan besar yang lebih terbuka, langsung, dan berisiko tinggi.
Gema di Iran: Pesan Jalanan yang Menggetarkan Rezim
Di Iran, beberapa hari setelah penangkapan Maduro, muncul fenomena yang tidak biasa. Stiker-stiker dan coretan di tembok kota Teheran mulai bermunculan dengan tulisan provokatif: “Trump, Iran sedang menunggumu.”
Pesan ini dengan cepat menyebar di media sosial Iran, memicu kekhawatiran di kalangan elite politik Teheran. Para analis Timur Tengah menilai bahwa rakyat Iran membaca kejatuhan Maduro sebagai preseden berbahaya bagi rezim-rezim otoriter, terutama yang selama ini bergantung pada represi internal dan aliansi anti-Amerika.
Kemiripan Struktur Kekuasaan Maduro dan Xi Jinping
Sejumlah pakar politik internasional menggarisbawahi setidaknya enam kesamaan utama antara struktur kekuasaan Maduro dan Presiden Tiongkok Xi Jinping:
- Negara dilebur ke dalam kekuasaan pribadi pemimpin
- Pergantian rezim dianggap sebagai ancaman eksistensial
- Militer beralih fungsi dari penjaga negara menjadi penjaga pemimpin
- Pemusnahan sistematis ruang masyarakat sipil
- Pengendalian ekonomi secara ekstrem oleh negara
- Ketergantungan eksternal yang sengaja diciptakan
Kedua rezim juga membangun aliansi anti-Amerika, melibatkan Rusia dan Iran, serta saling melindungi di forum internasional seperti Dewan HAM PBB.
Badai Opini Publik di Tiongkok
Di dalam negeri Tiongkok, dampak psikologis kejatuhan Maduro mulai terasa. Media sosial diguncang ketika seorang warganet menggunakan lagu populer Sayang Bukan Kamu milik Liang Jingru sebagai sindiran simbolik terhadap Xi Jinping.
Tak lama setelah viral, lagu tersebut dilaporkan menghilang dari sejumlah platform, memicu gelombang komentar sinis warganet: “Ini terlalu sensitif.”
Komentar lain menyimpulkan dengan nada lebih serius: “Dari minyak ke opini publik, dari Amerika Latin ke Timur Tengah, dari Caracas ke Beijing—ini bukan lagi operasi tunggal, melainkan rantai perhitungan geopolitik yang terus memanjang.”
Pertanyaan yang kini menggantung di banyak ibu kota dunia adalah: Jika diktator pertama jatuh, berapa lama yang kedua dan ketiga bisa bertahan?
Trump Bahas Akuisisi Greenland, Opsi Militer Tidak Dikesampingkan
Pada hari yang sama, Gedung Putih secara resmi mengonfirmasi bahwa Presiden AS, Donald Trump dan lingkaran inti pemerintahannya tengah membahas secara serius rencana akuisisi Greenland, dengan opsi militer tidak dikecualikan.
Dalam pernyataan resmi, Greenland disebut sebagai prioritas keamanan nasional Amerika Serikat, terutama dalam konteks persaingan strategis dengan Rusia dan Partai Komunis Tiongkok di kawasan Arktik.
Seorang pejabat tinggi AS yang menolak disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Washington sedang mengevaluasi beberapa jalur:
- Pembelian langsung dari Denmark
- Pembentukan hubungan khusus menyerupai status asosiasi bebas
Trump disebut berambisi menyelesaikan pengaturan Greenland dalam masa jabatannya.
Meski langkah ini menuai keberatan dari sebagian negara Eropa dan NATO, Gedung Putih menegaskan bahwa isu Greenland telah naik kelas dari diplomasi biasa menjadi persoalan keamanan geopolitik tingkat tinggi. Trump bahkan secara terbuka menyatakan Denmark tidak mampu menjamin keamanan kawasan tersebut, dan bahwa Uni Eropa memahami kepentingan AS dalam kendali Arktik.
Para analis menilai, ini adalah sinyal jelas bahwa persaingan Arktik telah memasuki fase panas dan terbuka.
Israel Akui Somaliland, Strategi PKT di Afrika Terguncang
Di Afrika, kejutan besar datang ketika Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat dan menjalin hubungan diplomatik.
Langkah ini dinilai sebagai pukulan strategis terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang selama dua dekade membangun pengaruh di kawasan Tanduk Afrika. Pengakuan ini juga membuka terobosan diplomatik besar bagi Taiwan, yang selama ini terisolasi secara internasional.
Somaliland memiliki garis pantai terpanjang di Afrika dan berada di simpul jalur pelayaran Eurasia. Kolaborasi dengan Israel dan Taiwan dinilai dapat mengancam jalur maritim strategis PKT dalam proyek Belt and Road Initiative.
Komentator politik Wang Duran menyatakan: “Ini bukan sekadar kegagalan diplomatik PKT, melainkan pukulan struktural terhadap strategi jangka panjangnya di Afrika.”
Prancis Pertimbangkan Kirim Ribuan Tentara ke Ukraina
Di Eropa, Prancis menggelar Konferensi Paris bersama negara-negara pendukung utama Ukraina. Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa Paris tengah mempertimbangkan pengiriman ribuan tentara ke Ukraina pasca-gencatan senjata.
Macron menegaskan bahwa pasukan tersebut bukan untuk terlibat pertempuran, melainkan berfungsi sebagai jaminan keamanan dan stabilitas.
Konferensi ini dihadiri oleh 35 negara, dengan Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengirim utusan khusus secara langsung. Meski masih terdapat perbedaan sikap di antara para peserta, para pengamat menilai pertemuan ini sebagai pergeseran nyata dari sekadar retorika ke tahap perencanaan konkret.
Kesimpulan
Rangkaian peristiwa sejak awal Januari 2026 menunjukkan satu pola yang semakin jelas: dunia sedang bergerak menuju fase geopolitik baru, di mana perubahan rezim, akuisisi wilayah strategis, dan penataan ulang aliansi global terjadi secara simultan dan saling terkait.
Dari Caracas hingga Teheran, dari Arktik hingga Tanduk Afrika, satu pesan kini bergema:
stabilitas lama telah retak, dan tatanan baru sedang dipaksa lahir.




