FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Politikus PDIP, Ferdinand Hutahaean, kompak dengan Komika Arie Kriting, menyerang Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi.
Seperti diketahui, antara Teddy dan Arie sebelumnya terlibat perdebatan tentang buzzer di Media Sosial X.
Di tengah perdebatan, muncul Ferdinand memberikan skakmat kepada Teddy dengan menyebutnya sebagai penjilat penguasa.
Celakanya, Ferdinand menuturkan bahwa Teddy yang selama ini intens pasang badan bagi penguasa tidak kunjung mendapat jabatan.
“Si penjilat ini tak kunjung dapat tempat,” ujar Ferdinand di X @ferdinand_mpu (8/1/2026).
Ferdinand bilang, tidak heran jika Teddy hingga saat ini bersikap seperti Politikus PSI Ade Armando. Terus berteriak sampai mendapat potongan kue.
“Maka tak heran kalau dirinya selalu berupaya seperti Ade Armando,” tandasnya.
Sebelumnya, Teddy tidak terima dengan materi stand up Pandji Pragiwaksono. Salah satu bagian materinya menyebut Wapres Gibran ngantukan.
Berangkat dari situ, ia menyolek Arie Kriting sebagai rekan seprofesi Pandji.
“Mas Arie izin bertanya, apakah dapat dibenarkan Pandji dalam mencari nafkah untuk makan keluarganya, dengan cara menghina fisik orang lain, yang bukan partner kerjanya?,” ucap Teddy.
Lanjut dia, jika hal tersebut tidak dibenarkan, kenapa komika lain, termasuk Arie Kriting, ikut membela Pandji Pragiwaksono.
“Kalau anda membenarkan hal itu, apakah boleh orang lain mengolok-olok fisik mas Arie dan kawan-kawan Komika?,” timpalnya.
Suami Indah Permatasari itu memilih tidak terjebak dalam pertanyaan Teddy. Ia hanya melempar pertanyaan balik agar politikus Partai Garuda itu memperjelas kembali pertanyaannya.
“Apa? Bisa diulang pertanyaannya? Maaf mas, maksudnya bagaimana?,” balas Arie.
Seperti diketahui, sebelumnya Aire memang sempat menyinggung soal kemunculan para buzzer menyusul viralnya materi tepi jurang stand up Pandji Pragiwaksono.
“Gampang kok cara membedakan Buzzer dan bukan Buzzer,” kata Arie sebelumnya.
Dijelaskan pria 40 tahun itu, jika timelinenya 90 persen soal politik dari salah satu pihak, maka dapat disimpulkan dia merupakan buzzer.
“Kalau sekali-sekali saja membahas politik, berarti bukan buzzer,” terangnya.
Arie bilang, sesekali membahas politik merupakan bentuk kepedulian terhadap negara sebagai seorang warga yang peduli.
“Iya kadang kita bahas politik, tapi sebagai warga negara yang peduli,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)



