Washington, VIVA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membela petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) AS yang menembak mati seorang wanita di Minnesota pada hari Rabu, 7 Januari 2026. Trump setelah menonton video kejadian yang beredar di media sosial menyimpulkan bahwa petugas tersebut bertindak "untuk membela diri."
"Saya baru saja melihat klip kejadian yang terjadi di Minneapolis, Minnesota. Ini adalah hal yang mengerikan untuk ditonton. Wanita yang berteriak itu, jelas, adalah seorang provokator profesional, dan wanita yang mengendarai mobil itu sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan, yang kemudian dengan kasar, sengaja, dan kejam menabrak petugas ICE, yang tampaknya menembaknya untuk membela diri, " tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social, Rabu, 8 Januari 2026.
Trump melanjutkan dengan mengatakan bahwa petugas ICE tersebut masih hidup dan sedang menjalani pemulihan di rumah sakit setelah kejadian tersebut.
- MPR News
"Situasi ini sedang dipelajari secara menyeluruh, tetapi alasan insiden ini terjadi adalah karena Kelompok Kiri Radikal mengancam, menyerang, dan menargetkan Petugas Penegak Hukum dan Agen ICE kita setiap hari. Mereka hanya mencoba melakukan pekerjaan MENJAGA AMERIKA TETAP AMAN. Kita perlu mendukung dan melindungi Petugas Penegak Hukum kita dari Gerakan Kiri Radikal yang penuh Kekerasan dan Kebencian ini!," kata Trump
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem pada konferensi pers malam hari di Minnesota, menggambarkan insiden tersebut sebagai "tindakan terorisme domestik" yang dilakukan terhadap petugas ICE oleh seorang wanita yang "berusaha menabrak dan melindas petugas dengan kendaraannya. Seorang petugas kami bertindak cepat dan defensif, menembak, untuk melindungi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya."
Noem mengklaim wanita itu adalah bagian dari "gerombolan penghasut" dan mengatakan petugas tersebut telah mengikuti prosedur ketika dalam ancaman. Dia mengatakan petugas veteran yang menembakkan senjatanya telah ditabrak dan diseret oleh seorang pengemudi anti-ICE pada bulan Juni.
Senada, Juru Bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Tricia McLaughlin, mengatakan dalam sebuah unggahan di platform media sosial X bahwa insiden itu terjadi ketika "perusuh yang melakukan kekerasan "mencoba mengganggu operasi ICE yang dilakukan di kota tersebut.




