Mengulas Motif Trump Gulingkan Maduro, Minyak dan Geopolitik Jadi Tujuan Utama

fajar.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Fajar.co.id, Jakarta — Pilihan Trump menargetkan Venezuela, mengguligkan, menangkap Maduro berdasar pada sejumlah motif strategis. Pertama membuka kembali akses Amerika ke cadangan minyak Venezuela.

Hal itu disampaikan kreator digital yang juga pemerhati geopolitik yang kini tengah menyelesaikan program S3 di Universitas Trisakti, Faisal Lohy.

Kedua, lanjut Faisal, memperketat tekanan terhadap Kuba, salah satu sumber perlawanan terhadap Amerika dan Israel. Kuba sangat bergantung pada minyak Venezuela bersubsidi untuk menopang ekonominya yg sedang kesulitan dan terdampak sanksi Amerika.

Ketiga, menahan laju perkembangan industri China yg sejauh ini bergantung terhadap impor minyak Venezuela. Cina menjadi penyerap utama minyak Venezuela capai 400rb barel sepanjang 2025.

Keempat, mengamputasi kerjasama Venezuela, Iran, dan Rusia yg sejauh ini diketahui memanfaatkan armada bayangan gabungan untuk mengekspor minyak, menghindari sanksi Amerika Serikat dan internasional.

“Venezuela juga diketahui memberi hak kewarganegaraan dan menyediakan paspor bagi petinggi Iran dan Hizbullah yg memungkinkan mereka bergerak bebas di Amerika Selatan,” bener Faisal Lohy.

Venezuela bahkan dituduh menyediakan sel-sel teroris, pergerakan aksi inteligen Iran dan Rusia menghambat kerja diplomatik untuk menghambat kemajuan pengaruh Amerika & Israel di Amerika Latin. Termasuk terlibat dalam rencana pembunuhan duta besar Israel untuk Meksiko, Einat Kranz Neiger namun berhasil digagalkan pada awal November lalu.

Apakah dengan kesuksesan Trump menangkap menggulingkan dan menangkap Maduro, lantas semua tujuan Amerika tercapai ?

Menyingkirkan Maduro dari kekuasaan adalah satu hal. Lalu menggantinya dengan rezim baru yang dipilih Amerika untuk melanggengkan kepentingannya di Venezuela adalah hal lain.

“Operasi Trump belum berakhir. Masih Sangat prematur, masih jauh dari kata berhasil. Membangun kekuasaan baru sesuai rencana Amerika, bahkan jauh lebih sulit dari yang diperkirakan,” urai Faisal Lohy.

Trump menyadari kerumitan membangun kekuasaan baru Venezuela bahkan sejak menyepakati operasi inteligen penangkapan Maduro sejak Agustus lalu.

Saat ini, ambisi di kepala Trump menyerupai doktrin “Pottery Barn” mantan menlu Amerika Colin Powell. terkait Venezuela: kami yg merusaknya dan kini kami yg bertanggung jawab memulihkannya.

Kini Trump mengatakan, kami akan bertanggung jawab mengelola Venezuela di masa transisi hingga terbentuk kekuasaan resmi. Namun sampai saat ini, belum diketahui langkah detail Trump untuk mewujudkan kepentingan Amerika di Venezuela.

Namun satu hal tampak jelas. Saat ini Trump lebih memilih untuk bekerja sama dengan sisa-sisa rezim yg ada. Trump telah menunjuk wakil presiden pendamping Maduro untuk memimpin pemerintahan. Trump menolak memberdayakan oposisi.

Meskipun di depan media masa wapres Maduro masih tampak malu-malu menerima penugasan tersebut dengan mengatakan: sampai saat ini, Maduro masih menjadi satu-satunya presiden resmi Venezuela.

Menunjuk Wakil Presiden Maduro sebagai pemimpin pemerintahan darurat, mengindikasikan satu kemungkinan kuat: bahwa Amerika Serikat, sejauh ini telah bekerja secara diam-diam dengan elemen-elemen pemerintah Venezuela untuk menjatuhkan Maduro dan mempersiapkan mereka mengambil alih kekuasaan.

Daam skenario lain, penangkapan Maduro akan memicu pembelotan elit. Mereka dipicu kekhawatiran dihadapkan pada risiko hukum, sanksi, dan kehilangan dukungan. Pada situasi ini, Trump berkesempatan memberi penawaran kepada bawahan Maduro untuk mendapatkan jaminan pengampunan, perjalanan aman, amnesti terbatas atau pengasingan di negara ketiga sebagai imbalan atas pengalihan kekuasaan secara sukarela kepada rezim baru yg dibentuk Amerika.

Penyerahan kekuasaan melalui negosiasi semacam itu akan mencegah kekerasan massal, menstabilkan institusi, dan membuka jalan yang sempit namun layak menuju pemulihan ekonomi dan reintegrasi internasional.

Namun Trump juga akan diperhadapkan dengan kemungkinan Skenario terburuk yg jauh lebih suram. Jika sisa-sisa rezim menolak negosiasi dan terpecah belah, Venezuela dapat terjerumus ke dalam konflik gerilya yang berkepanjangan.

Kelompok bersenjata, unit militer yg terlibat dalam kriminalisasi, dan faksi yg terkait dengan Iran, Rusia, Kuba, Cina dapat melancarkan perang asimetris, mengubah sebagian wilayah negara menjadi zona sengketa dan memperpanjang penderitaan warga sipil jauh setelah runtuhnya rezim secara resmi.

Selain itu, dari perspektif ekonomi dan energi, pertanyaan kuncinya adalah bagaimana Trump dan tangan siapa yg akan digunakan Amerika untuk memerintah negara tersebut ?

Bagaimana dengan detail jangka waktu dan sifat pemerintahan transisi, termasuk situasi keamanan di negara tersebut secara keseluruhan dan di lokasi produksi minyak serta pelabuhan sebagai titik strategis ekspor-impor ?

Bagaimana langkah detail Trump memodifikasi rezim sanksi dan blokade Venezuela di era Maduro untuk mendukung secara pendanaan pemerintahan transisi yg dibentuk Amerika ?

Sejauh ini yg terlihat Trump hanya mampu mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjalankan kekuasaan Venezuela tersebut hingga situasi stabil. Trump juga menegaskan bahwa perusahaan minyak Amerika akan kembali ke Venezuela.

Namun bagaimana dengan kemungkinan perlawanan loyalis rezim Maduro yg berasal dari anggota intelijen Kuba yg tersisa, froxy Iran, Rusia dan Cina ? Apakah negara mitra Maduro ini akan membiarkan basis mereka di Venezuela diambil begitu saja tanpa ada perlawanan balik ?

Dari sini, memunculkan kemungkinan, bahwa hanya sedikit perusahaan Amerika yg kemungkinan akan kembali ke venezuela sampai ada rezim hukum dan fiskal yg dapat dikendalikan secara penuh Amerika hingga situasi politik dan keamanan stabil. Berapa lama ? Entahlah !! Ini menjadi pekerjaan besar Trump.

Oleh sebab itu, Sangat tidak pasti bagaimana pemerintahan Amerika akan menangani ekspor dan pengelolaan pendapatan dari hasil eksploitasi energi Venezuela.

Pastinya, saat ini, dalam situasi darurat, Amerika akan berusaha mengizinkan ekspor minyak secara terbatas, sembari memperluas perizinan, dan mengizinkan Venezuela untuk menjual minyak dengan harga pasar, dengan tujuan memaksimalkan pendapatan nasional untuk menopang kinerja pemerintah transisi di bawah kendali Amerika.

Ada kemungkinan bahwa pendapatan tersebut akan masuk ke rekening yg sudah diblokir Amerika untuk kepentingan pemerintahan Venezuela baru yg dibentuk Amerika.

Namun untuk saat ini, tidak ada satupun pakar di luar kekuasaan Trump yang memiliki detail tentang bagaimana pengaturan fiskal dan hukum Venezuela akan berkembang. Terutama kejelasan tentang pencabutan sanksi dan pemulihan perizinan serta informasi lebih lanjut: siapa yg sebenarnya akan mengelola bank sentral dan kementerian keuangan Venezuela.

“Selama belum ada kepastian, prospek ekonomi, produksi dan ekspor minyak Venezuela akan tetap tidak pasti. Artinya, Venezuela belum berakhir,” tutup Faisal Lohy, dikutip Kamis, 8 Januari 2026. (sam/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Respons Gus Yahya soal Gus Yaqut Jadi Tersangka KPK Kasus Korupsi Kuota Haji
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Kadin Indonesia Siapkan Diplomasi Bisnis di WEF Davos, Bidik Investasi dan Perdagangan Global
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Penjelasan Pemerintah soal Draf Aturan TNI Atasi Terorisme
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Selain Rizki Juniansyah, Atlet Taekwondo Peraih Emas Juga Naik Pangkat
• 12 jam lalukompas.com
thumb
KPK Tetapkan Gus Yaqut Tersangka Korupsi Kuota Haji
• 11 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.