EtIndonesia. Feller lahir dan tumbuh di kawasan kumuh. Seperti banyak anak lain yang besar di lingkungan itu, dia berjiwa kompetitif dan gemar membolos sekolah. Namun yang membedakannya dari anak-anak lain adalah: sejak kecil Feller memiliki mata yang tajam untuk menemukan peluang dan kekayaan.
Suatu hari, dia memperbaiki sebuah mobil mainan rusak yang dia temukan di jalan. Setelah itu, dia meminjamkannya kepada teman-temannya untuk dimainkan, dengan menarik biaya 0,5 sen per orang. Dalam waktu satu minggu saja, dia berhasil mengumpulkan cukup uang untuk membeli sebuah mobil mainan baru.
Guru Feller merasa sangat menyayangkan bakatnya dan berkata: “Kalau saja kamu lahir di keluarga kaya, kamu pasti bisa menjadi pengusaha hebat. Tapi itu sudah mustahil bagimu. Kalau bisa jadi pedagang kaki lima saja, itu sudah bagus.”
Setelah lulus SMP, seperti ramalan gurunya, Feller benar-benar menjadi pedagang kecil. Dia menjual baterai, perkakas kecil, hingga limun—dan semuanya dia kelola dengan sangat piawai. Dibandingkan dengan teman-temannya sesama anak kawasan kumuh, dia sudah bisa dibilang jauh lebih berhasil.
Namun ramalan sang guru tidak sepenuhnya benar. Feller memulai langkah besarnya berkat satu muatan sutra. Dari seorang pedagang kecil, dia melonjak menjadi pengusaha.
Muatan sutra itu berasal dari Jepang, jumlahnya mencapai satu ton. Saat pengangkutan dengan kapal, sutra tersebut terkena badai dan terendam air, sehingga warnanya rusak. Sutra-sutra itu menjadi masalah besar bagi para pedagang Jepang: ingin dijual, tak ada yang mau membeli; ingin dibuang ke darat, takut didenda oleh dinas lingkungan hidup. Akhirnya, mereka berniat membuangnya ke laut saat kapal kembali berlayar.
Di pelabuhan, ada sebuah bar bawah tanah yang sering dikunjungi Feller untuk minum. Suatu malam, dia mabuk. Saat berjalan sempoyongan melewati beberapa pelaut Jepang, dia mendengar mereka mengeluhkan sutra-sutra bermasalah itu.
Ucapan itu mungkin tanpa sengaja, tetapi bagi Feller, itulah peluang emas.
Keesokan harinya, Feller mendatangi kapal tersebut. Dia menunjuk sebuah truk yang terparkir di pelabuhan dan berkata kepada kapten kapal : “Aku bisa membantu kalian mengurus sutra-sutra tak berguna itu.”
Hasilnya, tanpa mengeluarkan sepeser pun, Feller mendapatkan seluruh sutra yang telah rusak warnanya itu. Dia lalu mengolahnya menjadi pakaian loreng, dasi loreng, dan topi loreng. Hampir dalam semalam, dia mengantongi 100.000 dolar AS.
Suatu hari, Feller mengincar sebidang tanah di pinggiran kota. Dia menemui pemiliknya dan menawarkan 100.000 dolar AS.
Setelah menerima uang itu, sang pemilik tanah diam-diam menertawakan Feller : “Lokasi terpencil seperti ini, hanya orang bodoh yang mau membayar semahal itu!”
Tak disangka, setahun kemudian, pemerintah kota mengumumkan pembangunan jalan lingkar di wilayah pinggiran tersebut. Tak lama berselang, nilai tanah Feller melonjak 150 kali lipat.
Seorang konglomerat kota datang menemuinya dan menawarkan 20 juta dolar AS untuk membeli tanah itu, dengan rencana membangun kompleks vila mewah. Namun Feller menolak.
Dia tersenyum dan berkata: “Aku ingin menunggu sedikit lagi. Menurutku, tanah ini masih bernilai lebih tinggi.”
Benar saja. Tiga tahun kemudian, tanah itu terjual dengan harga 25 juta dolar AS.
Para rekan bisnisnya sangat penasaran. Mereka ingin tahu dari mana Feller mendapatkan semua informasi itu. Bahkan ada yang mencurigainya memiliki koneksi dengan pejabat pemerintah. Namun kenyataannya mengecewakan mereka—Feller tidak memiliki satu pun teman yang bekerja di pemerintahan.
Feller meninggal pada usia 77 tahun. Menjelang wafat, dia meminta sekretarisnya memasang sebuah pengumuman di surat kabar: bahwa dia akan pergi ke surga dan bersedia menyampaikan pesan kepada orang-orang yang telah kehilangan anggota keluarga. Biaya jasa tersebut: 100 dolar AS per orang.
Pengumuman yang terdengar konyol itu justru memicu rasa ingin tahu banyak orang. Hasilnya, dia kembali meraup 100.000 dolar AS. Jika dia bisa bertahan hidup beberapa hari lebih lama, jumlahnya mungkin akan lebih besar lagi.
Wasiatnya pun tak kalah unik. Dia meminta sekretarisnya memasang iklan bahwa dia adalah seorang pria terhormat yang ingin dimakamkan satu liang dengan seorang wanita berpendidikan. Akhirnya, seorang wanita bangsawan bersedia membayar 50.000 dolar AS untuk beristirahat bersama Feller selamanya.
Hikmah Cerita:
Bagi banyak orang, perjalanan hidup dan kekayaan Feller selalu terasa seperti misteri. Namun jawaban terbaik justru datang darinya sendiri.
Tulisan pada batu nisannya—yang penuh kecerdikan—merangkum hidupnya yang sepanjang masa mampu menemukan keajaiban di tengah hal-hal biasa, sekaligus mungkin membuka rahasia kesuksesannya:
“Di sekitar kita sebenarnya tidak pernah kekurangan kekayaan. Yang kurang adalah mimpi dan mata yang mampu melihatnya.”(jhn/yn)



