Tensi Geopolitik Memanas, Bitcoin Berpeluang Tembus US$100.000 Awal 2026

bisnis.com
22 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga sejumlah aset kripto seperti Bitcoin menanjak seiring dengan gejolak geopolitik yang memanas antara AS dan Venezuela. Terdekat, harga Bitcoin dinilai mampu menembus ke level US$100.000 per koin.

Berdasarkan data CoinMarketCap, harga sejumlah aset kripto menanjak pada perdagangan awal 2026 setelah sepanjang 2025 ambles. Harga Bitcoin saat ini menyentuh level US$90.374 per koin, naik 3,29% dalam sepekan perdagangan.

Kemudian, harga Ethereum naik 5,09% XRP naik 15,45%, dan Solana 8,59% dalam sepekan perdagangan terakhir.

Penguatan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya pada perdagangan awal 2026 seiring dengan tensi geopolitik yang memanas. Sebelumnya diberitakan, Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh AS pada Sabtu (3/1/2026).

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Selain penangkapan, AS juga melancarkan serangan militer skala besar terhadap Venezuela. Lebih dari 150 pesawat militer AS dikerahkan setelah pertahanan udara Venezuela berhasil dilumpuhkan. Kemudian, Unit Delta Force Angkatan Darat AS dikirim ke pangkalan militer tempat Maduro bermalam. 

Menurut laporan Bloomberg, pasukan komando AS hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga jam untuk mengakhiri kekuasaan Maduro, yang selama bertahun-tahun bertahan di tengah tekanan Washington.

Baca Juga

  • Bos Tokocrypto Ungkap 'Bahaya' Kripto Bagi yang Tak Paham Manajemen Risiko
  • Belajar dari Kasus Perampokan di Cilegon, Simak Tips Main Kripto Agar Tak Boncos
  • Dana Cadangan (PoR) INDODAX Capai Rp18 Triliun, Bukti Exchange Kripto Transparan

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan bahwa Caracas telah setuju untuk memasok antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS, setelah Washington menangkap Maduro akhir pekan lalu.

SVP Strategy & Business PINTU Andy Putra menjelaskan sepanjang 2025, pasar kripto mengalami performa yang tidak maksimal jika dibanding aset-aset besar lain seperti emas dan saham AS. Hal tersebut terjadi karena Bitcoin yang sebenarnya sudah mengalami parabola pada 2024. Maka dari itu, investor dan trader mulai mengambil keuntungan mereka sepanjang 2025.

"Dengan koreksi agresif yang terjadi sejak Oktober 2025, terdapat potensi bullish untuk pasar kripto di 2026," kata Andy kepada Bisnis pada Rabu (7/1/2026).

Menurutnya, peluang bullish pasar kripto didorong oleh sejumlah sentimen. Makroekonomi ekonomi saat ini misalnya bergerak cenderung positif.

"Selain kondisi makro, dinamika geopolitik dan potensi pergeseran likuiditas menjelang piala dunia juga dapat berpotensi memengaruhi pasar," ujar Andy.

Kunci faktor pendukung untuk pasar kripto lainnya adalah kebijakan di AS. Quantitative Easing (QE) The Fed akan memompa likuiditas ke pasar. Di sisi regulasi, SEC dan CFTC sangat mendukung pasar kripto dan akan memperjelas berbagai regulasi di AS.

Alhasil, menurutnya Januari akan menjadi bulan yang sangat krusial karena kebijakan QE The Fed akan mulai direspon oleh pasar.

"Jika Bitcoin berhasil keluar dari range harga US$94.000-US$96.000 akan ada potensi untuk kembali ke atas harga US$100.000," ujar Andy.

Bahkan, jika kondisi bullish terjadi, akan ada bensin yang signifikan untuk Bitcoin berusaha kembali ke angka tertinggi sebelumnya US$126.000.

Sebaliknya, jika Bitcoin turun kembali ke angka US$80.000, terdapat potensi breakdown ke angka lebih rendah yang akan menjadi konfirmasi kita berada dalam bear market.

Sebelumnya, Financial Expert Ajaib Panji Yudha mengatakan memasuki 2026, Bitcoin memiliki peluang untuk bangkit dan melampaui angka enam digit, dengan zona target potensial di kisaran US$120.000 hingga US$140.000.

Namun, skenario tersebut membutuhkan dukungan data ekonomi yang suportif dan akumulasi on-chain yang kuat. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, skenario yang lebih mungkin adalah konsolidasi panjang di dalam rentang harga yang lebar atau wide band.

Adapun, sejumlah katalis pemulihan nasib aset kripto pada 2026 adalah aliran dana dari rekening pensiun AS. Pasca perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada Agustus 2025, pintu investasi aset kripto untuk dana pensiun kini terbuka lebar.

Katalis lainnya adalah rencana Komisi Sekuritas dan Bursa AS atau SEC untuk memberikan keringanan regulasi bagi startup kripto untuk menguji produk baru mulai Januari 2026. Kemudian, Pemerintah AS kini memiliki cadangan sekitar 233.736 BTC yang berfungsi sebagai perisai psikologis pasar.

Selain itu, Tether secara konsisten menambah cadangan Bitcoin mereka, termasuk transaksi terbaru sebesar 8.888,88 BTC. Sementara itu, perusahaan Strategy kini memegang 672.497 BTC dengan posisi keuntungan belum direalisasi sekitar 16%. Ditambah, bank besar seperti Morgan Stanley dan Bank of America kini aktif memberikan saran investasi kripto.

“Pasar kripto 2026 memiliki landasan fundamental yang kuat berkat kejelasan regulasi dan potensi masuknya dana pensiun AS. Meskipun tekanan makro dari The Fed masih ada, reformasi pajak di berbagai negara, seperti Jepang yang memangkas tarif menjadi 20% dan langkah strategis institusi memberikan sinyal pemulihan jangka panjang bagi investor,” ujar Panji.

_______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual kripto. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Tarik Utang Rp744 Triliun, Ada Sisa Lebih Pembiayaan Rp48,9 Triliun
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Pengacara Icel Bantah Klaim Anrez Adelio soal Tanggung Jawab Kehamilan Kliennya
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Pelajar SMK Negeri 6 Makassar Raih Runner Up-2 Top Model Star Sulsel 2025
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Peraih Medali Emas Tunggal Terima Bonus 1 Miliar Rupiah, Terbesar Sepanjang Sejarah
• 17 jam lalutvrinews.com
thumb
Purbaya: Defisit APBN Bisa Ditekan Jadi 0%, Tapi Ekonomi Morat Marit
• 20 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.