Bukan Sekadar Kelalaian: Pelajaran dari Kasus Balita Jatuh dari Lantai 2

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Sebuah video yang memperlihatkan seorang balita terjatuh dari lantai dua rumah di kawasan Rawabunga, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, viral di media sosial dan menyita perhatian publik.

Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur langsung mendatangi lokasi kejadian pada Selasa (6/1), sekitar pukul 16.00 WIB. Saat dilakukan pengecekan, polisi mendapati tiga anak kecil berada di dalam rumah dengan kondisi pintu terkunci.

Dari hasil penelusuran di tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan fakta bahwa salah satu anak berinisial AC (3 tahun) terjatuh setelah naik ke balkon menggunakan kursi kayu. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa insiden terjadi akibat kurangnya pengawasan orang dewasa di rumah.

"Saat pintu rumah diketuk berulang kali, polisi mendapati tiga anak kecil berada di dalam rumah dalam kondisi pintu terkunci. Berdasarkan keterangan warga, ibu dari ketiga anak tersebut tengah bekerja dan kedua orang tua tidak berada di rumah saat kejadian," kata Kanit PPA Polres Jakarta Timur, Kompol Sri Yatmini, lewat keterangannya, Selasa (6/1).

Selain AC, dua saudaranya yang lain, PI (8 tahun) dan GKI (2 tahun), juga berada di dalam rumah tersebut. Ketiganya kemudian dibawa ke Polres Metro Jakarta Timur untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Polisi belum menjelaskan lebih lanjut bagaimana kondisi ketiga anak tersebut saat ini, terutama AC--yang jatuh dari lantai 2.

Psikolog Soroti Pentingnya Pengawasan Anak di Rumah

Menanggapi kejadian tersebut, Psikolog Klinis, Raden Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa anak di bawah usia 10 tahun belum dapat ditinggal sendirian di rumah dalam jangka waktu lama. Menurutnya, balita usia 2–3 tahun berada pada fase perkembangan yang sangat aktif, dengan rasa ingin tahu yang tinggi, namun belum memiliki kontrol diri dan kemampuan menilai risiko secara matang.

“Balita usia 2–3 tahun khasnya semakin aktif, rasa ingin tahu yang tinggi, tetapi kontrol dan penilaian risiko belum matang. Belum tahu akibat dari tindakannya. Karena itu, sangat berisiko tanpa pengawasan orang dewasa,” kata Mutiara kepada kumparanMOM, Rabu (7/1).

Ia menekankan juga bahwa kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan adanya niat buruk dari orang tua. Namun, peristiwa tersebut menjadi tanda bahwa orang tua membutuhkan dukungan dalam pengasuhan anak. Dukungan ini tidak hanya berasal dari keluarga inti, tetapi juga dari lingkungan sekitar.

“Supaya tidak terjadi lagi penting untuk orang tua belajar mengelola konflik di dalam keluarga, tetangga dan keluarga juga perlu berempati jangan cuek, supaya setiap keluarga punya akses ke bantuan sekitar, ketika dibutuhkan. Karena keluarga terdekat adalah tetangga,” tuturnya.

Kemudian, Mutiara menilai bahwa kasus seperti ini tidak bisa dilihat sebagai kesalahan satu pihak semata. Persoalan pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama yang perlu ditangani secara sistemik, melibatkan keluarga, lingkungan, dan dukungan sosial.

“Bagaimanapun kondisinya balita dan anak-anak tidak bisa ditinggal sendiri tanpa pengawasan orang dewasa,” tegas Mutiara.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Keberatan Nama Organisasi Dicatut, LBH PP Muhammadiyah: Massa yang Demo dan Laporkan Pandji Orang-orang Tidak Jelas
• 2 jam lalufajar.co.id
thumb
Kronologi Mentan Amran Salah Sebut Nama Gubernur Jabar, Nama Dedi Mulyadi Mendadak Diganti Ridwan Kamil: Astagfirullah!
• 21 jam lalugrid.id
thumb
KPK Dukung Kejagung Cari Data Alih Fungsi Hutan
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Panen Cuan! Laba Samsung Electronics Diproyeksi Naik 3 Kali Lipat Karena Ini
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Wamenkes Sebut 4.535 Dapur MBG Sudah Kantongi Sertifikat Higiene
• 23 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.