FIFA Hadirkan AI Avatar 3D Pemain di Piala Dunia 2026, VAR Jadi Lebih Akurat

kumparan.com
22 jam lalu
Cover Berita

Setiap pemain yang tampil di Piala Dunia 2026 musim panas mendatang akan memiliki AI avatar 3D, yang akan digunakan untuk membantu pengambilan keputusan video assistant referee (VAR), khususnya dalam situasi offside. Teknologi ini kembangkan oleh FIFA dengan berkolaborasi bersama Lenovo.

Inovasi ini mencakup pemindaian digital seluruh tubuh pemain, sehingga ukuran fisik yang selama ini kerap luput diperhitungkan berpotensi menjadi faktor penentu dalam keputusan offside.

Johannes Holzmüller, FIFA Director of Innovation, menjelaskan penggunaan AI avatar 3D ini nantinya akan memastikan keputusan offside menjadi jauh lebih presisi. Ini menjadi kemajuan besar dalam teknologi pelacakan offside semi-otomatis, yang menghadirkan visual lebih baik, keputusan lebih cepat, dan pemahaman yang lebih jelas bagi semua pihak, termasuk pemain, pelatih, wasit, hingga penonton.

“Kami mengidentifikasi area-area yang masih bisa dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas Piala Dunia, terutama pengalaman bagi para pemain di lapangan. Salah satunya adalah membawa AI ke dalam permainan, bukan karena kami sekadar ingin menggunakan AI, tetapi karena kami percaya AI dapat membantu di banyak aspek,” papar Johannes kepada kumparanTECH dalam ajang Consumer Electronic Show (CES) 2026, di Las Vegas, Amerika Serikat, Rabu (7/1).

“Contohnya dengan avatar 3D. Kami memindai para pemain dan membuat avatar 3D mereka di platform digital yang dikembangkan oleh Lenovo. Model digital 3D ini, yang sangat presisi, akan digunakan untuk sistem pelacakan optik kami. Artinya, sistem pelacakan ini akan sangat andal dan membantu kami untuk segera memberi tahu wasit mengenai situasi offside.”

Secara teknis, teknologi yang disebut semi-automated offside (SAOT) ini merupakan pengembangan dari protokol VAR yang mengotomatisasi elemen-elemen kunci dalam proses pengambilan keputusan offside. Di Liga Inggris, misalnya, SAOT menggunakan sekitar 30 kamera untuk mengidentifikasi posisi bola dan melacak hingga 10.000 titik data per pemain.

Namun, selama ini model grafis yang digunakan VAR tidak sepenuhnya merepresentasikan ukuran tubuh asli pemain. Dengan penambahan avatar yang dipersonalisasi, FIFA yakin kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan akan meningkat signifikan.

“Saat ini, yang terjadi adalah asisten wasit, ketika ragu, harus menunda mengangkat bendera. Mereka tidak bisa langsung mengangkat bendera karena adanya jeda. Namun kini, dengan lapisan informasi tambahan ini, kami dapat lebih sering memberi tahu wasit melalui peringatan audio otomatis: ‘Offside, offside’, berdasarkan AI cerdas yang kami miliki. Dengan demikian, asisten wasit dapat langsung mengangkat bendera offside,” ujar Johannes.

Avatar 3D memungkinkan sistem untuk melacak pergerakan pemain secara andal, bahkan dalam situasi cepat atau ketika pandangan kamera terhalang. Penggunaan dimensi tubuh spesifik pemain juga akan mempersonalisasi keputusan offside seperti belum pernah terjadi sebelumnya.

Untuk mengimplementasikan teknologi ini, nantinya seluruh pemain akan dipindai sebelum turnamen dimulai untuk menciptakan model 3D masing-masing. Proses pemindaian ini hanya membutuhkan waktu sekitar satu detik, namun mampu menangkap dimensi tubuh pemain dengan tingkat akurasi tinggi.

Model-model ini akan digunakan oleh VAR dalam perhitungan offside melalui SAOT. FIFA juga berencana mengintegrasikan avatar tersebut ke dalam siaran televisi, sehingga keputusan wasit dapat ditampilkan secara lebih realistis dan menarik, baik bagi penonton di stadion maupun pemirsa di seluruh dunia.

“Mengapa ini penting? Pertama-tama, para penggemar tidak perlu lagi menunggu setelah sebuah gol tercipta bertanya-tanya, ‘Apakah saya boleh merayakan atau tidak?’. Mereka bisa langsung merayakan karena informasi tersebut sudah dikirimkan terlebih dahulu kepada asisten wasit. Aspek lainnya adalah, dengan penundaan pengibaran bendera, di antara momen offside hingga bola keluar dari permainan, bisa terjadi cedera. Bisa saja ada pemain yang cedera. Dan itulah yang ingin kami hindari,” ujarnya.

Selain menghadirkan VAR berbasis AI, kolaborasi FIFA dan Lenovo juga melahirkan platform data baru bernama Football AI Pro, yang akan tersedia bagi seluruh negara peserta Piala Dunia.

Platform ini diklaim akan membantu meratakan lapangan permainan antara negara-negara dengan sumber daya besar dan negara yang infrastrukturnya lebih terbatas, di tengah sepak bola modern yang semakin berbasis data.

Selain itu, FIFA juga akan menghadirkan edisi khusus Piala Dunia dari ponsel lipat Motorola Razr, merek yang berada di bawah naungan Lenovo.

“FIFA adalah organisasi sepak bola, bukan perusahaan teknologi. Karena itu, kami memerlukan mitra teknologi kelas dunia untuk mewujudkan apa yang ingin kami lakukan. Lenovo adalah salah satu yang akan membantu kami membawa Piala Dunia ke level berikutnya dalam hal pengalaman,” tutupnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mengerikan! Pria Depok Tewas Ditusuk Saat Tertidur, Pelaku Tinggalkan Pesan Bikin Merinding
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Satgas Rehabilitasi Bencana Sumatera: 25 Desa Hilang Akibat Banjir dan Longsor
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Cerita Don Muzakir Terima Satyalencana Wirakarya dari Presiden Prabowo
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Pengacara Roy Suryo Ungkap Ada Tawaran Damai dari Pihak Jokowi
• 4 jam lalufajar.co.id
thumb
Tekanan Fiskal Menguat, KDM Pilih Bangun Jalan Keluar Lewat Infrastruktur
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.