Sentani (ANTARA) - Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Jayapura Djimmy Yomaiwi Douw mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua telah melayani hingga 7.000 penerima manfaat dengan 179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah beroperasi.
"Mayoritas penerima program MBG masih berasal dari kalangan peserta didik jenjang TK hingga SMP," katanya di Sentani, Kamis.
Menurut Djimmy, dalam pendistribusian MBG pihaknya menggandeng berbagai pihak termasuk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) untuk menjangkau kelompok rentan seperti ibu hamil.
"Jadi kami bekerja sama agar distribusi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dapat berjalan optimal ini juga bagian dari upaya menurunkan angka stunting," ujarnya.
Baca juga: BGN: Presiden berpesan jangan “ngoyo” dalam MBG, utamakan kualitas
Dia menjelaskan pihaknya optimis target penurunan stunting hingga 2030 dapat tercapai jika program MBG berjalan baik dan konsisten.
"Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target besar bagi Tanah Papua yakni 25.000 penerima manfaat hingga Agustus 2026," katanya lagi.
Dia menambahkan, berdasarkan perhitungan yang dilakukan pihaknya, target tersebut bisa tercapai melalui tiga jalur yaitu jalur aglomerasi, jalur 3T, dan jalur khusus.
"Untuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar ) serta jalur khusus pendanaan nya langsung melalui APBN sehingga prosesnya lebih cepat," ujarnya.
Baca juga: BGN: Awal tahun, jumlah SPPG untuk MBG bertambah jadi 19.800 unit
Dia mengatakan pihaknya mengakui hingga kini kelayakan mitra SPPG belum sepenuhnya 100 persen atau rata-rata sudah 80 persen di mana kendala utama saat ini adalah kelengkapan administrasi seperti sertifikat laik higienis, sertifikat keamanan pangan, dan sertifikat halal yang masih dalam proses.
"Secara umum program sudah berjalan baik dan terus menuju penyempurnaan sehingga kami optimis ke depan semua persyaratan dapat dipenuhi sehingga pelayanan MBG semakin optimal di Papua," katanya.
Baca juga: BGN: Kasus SPPG berhenti operasional di Sampang karena pergantian PPK
"Mayoritas penerima program MBG masih berasal dari kalangan peserta didik jenjang TK hingga SMP," katanya di Sentani, Kamis.
Menurut Djimmy, dalam pendistribusian MBG pihaknya menggandeng berbagai pihak termasuk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) untuk menjangkau kelompok rentan seperti ibu hamil.
"Jadi kami bekerja sama agar distribusi kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dapat berjalan optimal ini juga bagian dari upaya menurunkan angka stunting," ujarnya.
Baca juga: BGN: Presiden berpesan jangan “ngoyo” dalam MBG, utamakan kualitas
Dia menjelaskan pihaknya optimis target penurunan stunting hingga 2030 dapat tercapai jika program MBG berjalan baik dan konsisten.
"Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target besar bagi Tanah Papua yakni 25.000 penerima manfaat hingga Agustus 2026," katanya lagi.
Dia menambahkan, berdasarkan perhitungan yang dilakukan pihaknya, target tersebut bisa tercapai melalui tiga jalur yaitu jalur aglomerasi, jalur 3T, dan jalur khusus.
"Untuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar ) serta jalur khusus pendanaan nya langsung melalui APBN sehingga prosesnya lebih cepat," ujarnya.
Baca juga: BGN: Awal tahun, jumlah SPPG untuk MBG bertambah jadi 19.800 unit
Dia mengatakan pihaknya mengakui hingga kini kelayakan mitra SPPG belum sepenuhnya 100 persen atau rata-rata sudah 80 persen di mana kendala utama saat ini adalah kelengkapan administrasi seperti sertifikat laik higienis, sertifikat keamanan pangan, dan sertifikat halal yang masih dalam proses.
"Secara umum program sudah berjalan baik dan terus menuju penyempurnaan sehingga kami optimis ke depan semua persyaratan dapat dipenuhi sehingga pelayanan MBG semakin optimal di Papua," katanya.
Baca juga: BGN: Kasus SPPG berhenti operasional di Sampang karena pergantian PPK




