Industri tambak udang kerap dipersepsikan sebagai mesin produksi yang harus terus dipacu demi mengejar keuntungan. Namun, ketika penyakit berulang, lingkungan terdegradasi, dan pasar global makin selektif, muncul satu pertanyaan mendasar: Apakah profit tambak udang benar-benar bisa bertahan tanpa keberlanjutan?
Keuntungan tambak udang selama ini sering dibangun di atas eksploitasi intensif dan pengabaian daya dukung lingkungan. Padahal, tanpa perubahan cara pandang menuju keberlanjutan, profit yang dikejar hari ini justru berpotensi menjadi kerugian besar di masa depan.
Realitas inilah yang kini dihadapi industri udang nasional, di tengah tekanan pasar global, krisis lingkungan pesisir, dan meningkatnya risiko kegagalan produksi.
Tekanan Global dan Paradoks ProduksiPermintaan udang dunia terus meningkat seiring pertumbuhan konsumsi protein dan ekspansi pasar ekspor. FAO (2022) mencatat bahwa udang menjadi salah satu komoditas akuakultur paling bernilai secara ekonomi di pasar global. Namun, di balik peluang tersebut, standar keberlanjutan juga semakin ketat.
Negara-negara tujuan ekspor utama—seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang—kini menuntut produk udang yang aman, terlacak, dan diproduksi dengan praktik ramah lingkungan.
Penelitian Boyd et al. (2020) menunjukkan bahwa penolakan produk udang di pasar internasional lebih sering disebabkan oleh isu residu, pengelolaan limbah, dan ketidakpatuhan standar lingkungan, dibandingkan oleh kualitas fisik produk itu sendiri.
Paradoks pun muncul: produksi ditingkatkan, tetapi risiko kegagalan panen dan hambatan pasar justru semakin besar. Kondisi ini menegaskan bahwa orientasi produksi semata tidak lagi relevan dalam industri udang modern.
Penyakit dan Limbah: Masalah Klasik yang Tak Kunjung UsaiDalam praktik budidaya, penyakit masih menjadi penyebab utama kerugian tambak udang. Wabah seperti AHPND, EHP, dan WSSV terus berulang, terutama pada tambak intensif dengan manajemen biosekuriti yang lemah.
Lightner et al. (2021) menyebutkan bahwa lebih dari separuh kegagalan panen udang di Asia berkaitan langsung dengan lemahnya pencegahan penyakit sejak tahap awal produksi.
Selain penyakit, persoalan limbah organik juga menjadi bom waktu lingkungan. Sisa pakan dan feses udang meningkatkan beban nitrogen dan fosfor di perairan sekitar tambak. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini memicu eutrofikasi, menurunkan kualitas air, dan pada akhirnya kembali merugikan tambak itu sendiri (Anh et al., 2023).
Ironisnya, banyak tambak masih memandang pengelolaan limbah sebagai beban biaya, bukan sebagai bagian dari strategi menjaga produktivitas jangka panjang.
Keberlanjutan sebagai Kerangka BisnisDalam kajian keberlanjutan, pendekatan Triple Bottom Line (TBL), yang menyeimbangkan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial, menjadi kerangka yang semakin relevan bagi sektor akuakultur (Elkington, 1997; Badiola et al., 2021). Keberlanjutan tidak dimaknai sebagai pengurangan keuntungan, tetapi sebagai cara menjaga stabilitas usaha.
Aspek lingkungan menuntut pengelolaan kualitas air, limbah, dan kesehatan ekosistem. Aspek ekonomi berfokus pada efisiensi biaya, manajemen risiko, dan akses pasar. Sementara itu, aspek sosial mencakup keselamatan kerja, keterlibatan tenaga kerja lokal, dan hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar tambak.
Badiola et al. (2021) menemukan bahwa unit budidaya yang menerapkan prinsip keberlanjutan justru memiliki volatilitas keuntungan yang lebih rendah dan daya tahan usaha yang lebih baik dibandingkan tambak yang hanya mengejar produksi maksimal.
Biosekuriti: Investasi yang Sering DiabaikanSalah satu bias paling umum dalam budidaya udang adalah memandang biosekuriti sebagai biaya tambahan. Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa investasi biosekuriti mampu menekan risiko kegagalan panen secara signifikan (Lightner et al., 2021).
Langkah-langkah seperti kontrol akses tambak, sterilisasi air masuk, manajemen lalu lintas alat dan pekerja, dan pemantauan kesehatan udang secara berkala terbukti efektif menurunkan intensitas wabah penyakit. Dalam jangka panjang, biaya biosekuriti jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat panen gagal.
Biosekuriti yang kuat juga menjadi prasyarat penting dalam memenuhi standar sertifikasi budidaya berkelanjutan.
Sertifikasi dan Akses PasarSertifikasi seperti CBIB, ASC, atau BAP sering dianggap rumit dan mahal oleh petambak. Namun, riset Bush et al. (2022) menunjukkan bahwa produk udang bersertifikasi memiliki akses pasar lebih luas, risiko penolakan lebih rendah, dan harga yang lebih stabil di pasar internasional.
Lebih dari sekadar label, sertifikasi berfungsi sebagai alat manajerial untuk memastikan praktik budidaya terdokumentasi, konsisten, dan dapat diaudit. Dalam konteks persaingan global, sertifikasi justru menjadi instrumen proteksi pasar bagi produsen udang.
IPAL dan Teknologi: Menjaga Lingkungan, Menjaga ProduksiPengelolaan limbah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan komponen kunci dalam budidaya berkelanjutan. IPAL yang dirancang dengan baik mampu menurunkan beban bahan organik dan patogen sebelum air dibuang atau digunakan kembali.
Penelitian Anh et al. (2023) menunjukkan bahwa tambak yang mengintegrasikan IPAL dan sistem resirkulasi air memiliki kualitas air lebih stabil dan tingkat kelangsungan hidup udang yang lebih tinggi. Artinya, IPAL bukan hanya alat perlindungan lingkungan, melainkan juga penopang produktivitas tambak.
Perkembangan teknologi juga membuka peluang baru. Penggunaan sensor kualitas air dan sistem berbasis IoT memungkinkan pemantauan real-time dan pengambilan keputusan yang lebih presisi (Zhang et al., 2024). Teknologi ini membantu menekan risiko kesalahan operasional dan meningkatkan efisiensi biaya.
Implikasi Manajerial dan KebijakanBagi manajemen tambak, keberlanjutan harus ditempatkan sebagai strategi bisnis inti. Investasi pada sumber daya manusia, pelatihan biosekuriti, dan sistem manajemen mutu terbukti berdampak langsung pada stabilitas produksi dan keuangan (Boyd et al., 2020).
Di tingkat kebijakan, pemerintah perlu memperkuat insentif bagi petambak yang menerapkan praktik berkelanjutan, terutama skala kecil dan menengah. Akses pembiayaan hijau, pendampingan sertifikasi, dan transfer teknologi menjadi kunci agar transformasi menuju budidaya berkelanjutan tidak hanya dinikmati oleh pelaku besar.
Catatan PenutupBudidaya udang yang berkelanjutan bukan sekadar tuntutan lingkungan, melainkan juga kebutuhan ekonomi. Tambak yang menjaga keseimbangan antara ekologi, ekonomi, dan sosial bukan hanya lebih ramah lingkungan, melainkan juga lebih tahan krisis dan lebih dipercaya pasar.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, keberlanjutan bukan lagi pilihan. Ia adalah kunci utama agar profit tambak udang dapat bertahan, hari ini dan di masa depan.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467596/original/066034800_1767924043-photo-collage.png__11_.png)
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F06%2Fa1aa21cf653bbb4ce2810c0c0507f2b4-1001887294.jpg)