- 1. Ubah Cara Pandang soal Kebohongan
- 2. Ganti Hukuman dengan Rasa Aman
- 3. Cari Stres di Balik Kebohongan
- 4. Bangun Budaya Jujur di Rumah
Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak dari kita dibesarkan dengan anggapan berbohong adalah bentuk tidak hormat yang layak dihukum. Namun, menurut pakar parenting dan perkembangan anak, pendekatan seperti itu justru bisa membuat anak semakin tertutup.
Alyssa Blask Campbell, pakar pendidikan anak usia dini dan CEO Seed and Sew menekankan, tujuan utama orang tua seharusnya bukan sekadar menghentikan kebohongan, tetapi menciptakan rasa aman terhadap kejujuran. Berikut panduan lengkapnya mengutip CNBC Make It.
1. Ubah Cara Pandang soal KebohonganMenurut Campbell, berbohong pada anak sebenarnya merupakan bagian normal dari perkembangan otak.
Kemampuan berbohong menunjukkan anak mulai mampu merencanakan, memecahkan masalah, dan membayangkan berbagai kemungkinan seperti keterampilan penting dalam proses belajar dan kreativitas.
Para peneliti bahkan menyebutnya sebagai "executive function in action". Dengan kata lain, kebohongan adalah tahapan perkembangan, bukan kegagalan moral.
Anak bisa berbohong karena berbagai alasan, mulai dari takut dihukum, tekanan sosial, impuls yang belum terkontrol, hingga keinginan menjaga kemandirian. Memahami alasannya membuat orang tua bisa merespons kebutuhan anak, bukan sekadar perilakunya.
2. Ganti Hukuman dengan Rasa AmanAlih-alih memarahi, Campbell menyarankan orang tua membangun rasa aman saat anak berkata jujur. Ia merekomendasikan empat kalimat berikut:
- "Ayah/ibu tidak marah. Aku hanya khawatir karena aku ingin kamu aman. Yuk kita bicarakan bagaimana supaya ke depan bisa lebih baik."
- "Ayah/ibu tetap sayang kamu meski kamu membuat kesalahan. Kamu bisa berkata jujur."
- "Kamu takut bilang jujur karena khawatir ayah/ibu marah? Tidak apa-apa. Ayah/ibu tidak akan marah, justru kami ingin bisa membantu kamu."
- "Ayah/ibu ingin kamu merasa aman untuk berkata jujur. Jadi ayah/ibu akan mendengarkan cerita kamu dan kita bisa menyelesaikan masalah bersama."
Kalimat-kalimat ini mengirim pesan yang kuat bahwa kejujuran tidak akan berujung pada ancaman, melainkan solusi.
Campbell memberi contoh kasus Eva (12), yang melanggar aturan penggunaan iPhone satu jam setelah sekolah dan berbohong kepada ibunya, Jane. Ternyata Eva hanya ingin menyamakan pakaian dengan temannya.
Alih-alih fokus pada pelanggaran, Jane memilih berkata, "Terima kasih sudah jujur. Ibu paham, tetapi aturan pakai HP tetap satu jam, tapi lain kali bilang saja. Ibu lebih memilih memberi lima menit tambahan daripada kamu harus berbohong."
Respons seperti ini menjaga kepercayaan dan mengajarkan, kejujuran menghasilkan pemahaman, bukan hukuman.
Campbell menegaskan, bahkan di rumah yang penuh kepercayaan, anak tetap bisa berbohong. Itu bagian dari proses belajar. Untuk memperkuat budaya jujur:
- Normalisasi kesalahan agar anak tidak takut berkata jujur.
- Validasi perasaan anak, misalnya dengan mengatakan, "Aku paham kenapa kamu gugup mengatakannya."
- Tegaskan batasan dengan tenang, karena empati bisa berjalan seiring disiplin.
- Tetap fleksibel, agar anak melihat kejujuran membawa manfaat nyata.
"Semakin aman perasaan anak bersama orang tuanya, semakin besar kemungkinan mereka bersikap jujur, bahkan ketika itu sulit," ujar Campbell.
Ia menutup dengan pesan penting bagi orang tua. Alih-alih bertanya, "Bagaimana caranya supaya anak berhenti berbohong?", lebih baik bertanya, "Apa yang sedang dilindungi anak lewat kebohongan ini?"
Tanggapi dengan empati. Jaga agar pintu kejujuran tetap terbuka. Itulah cara Anda membangun kepercayaan yang langgeng.
(hsy/hsy)




