Jakarta, VIVA – Perubahan cara kerja akibat kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi sekadar 'isapan jempol' belaka, melainkan realitas yang sedang berlangsung di banyak perusahaan global. Dari sektor teknologi hingga konsultansi, AI memaksa organisasi besar untuk menata ulang struktur tenaga kerja, mengubah peran, dan menuntut kecepatan adaptasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Salah satu contoh paling nyata datang dari McKinsey & Company. Firma konsultan manajemen ternama dunia ini secara terbuka mengakui bahwa AI telah mengubah secara fundamental cara mereka membangun dan mengelola tenaga kerja.
Dampaknya tidak hanya pada produktivitas, tetapi juga pada siapa yang direkrut, siapa yang dipangkas, dan bagaimana pekerjaan didefinisikan ulang. Bob Sternfels, Global Managing Partner McKinsey, memaparkan perubahan tersebut.
Menurut Sternfels, McKinsey kini menerapkan pendekatan yang ia sebut sebagai “25 squared”. Dalam model ini, peran yang berhadapan langsung dengan klien, yang selama ini identik dengan konsultan McKinsey, tumbuh sekitar 25 persen. Tetapi di sisi lain, peran non-client-facing yang mencakup sekitar separuh tenaga kerja, justru menyusut sekitar 25 persen.
- BBC/Getty Image.
“Model kami selama ini selalu identik dengan pertumbuhan yang hanya terjadi jika jumlah total karyawan bertambah. Sekarang justru terbelah. Kami bisa tumbuh di sisi client-facing, menyusut di sisi lain, dan tetap mencatat pertumbuhan agregat secara keseluruhan,” ujar Sternfels, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Kamis, 8 Januari 2026.
Menariknya, meskipun jumlah peran non-klien menyusut, output dari sisi tersebut justru meningkat sekitar 10 persen. Hal ini, menurut Sternfels, sepenuhnya dimungkinkan berkat adopsi AI secara agresif.
Sternfels juga menjelaskan bahwa McKinsey meraih lonjakan produktivitas yang signifikan dari penggunaan AI. Sepanjang tahun lalu saja, perusahaan berhasil menghemat sekitar 1,5 juta jam kerja yang sebelumnya dihabiskan untuk pencarian data dan sintesis informasi.
Alih-alih mengerjakan tugas-tugas rutin yang biasanya dilakukan oleh karyawan junior, para konsultan kini “naik kelas” dan fokus menangani persoalan yang lebih kompleks. “Kami melihat para konsultan bergerak ke level yang lebih tinggi dalam rantai nilai pekerjaan,” ungkap Sternfels.




