jakarta.jpnn.com - Oleh: Ignatius Dimie, Siswa Kelas XI SMA Kanisius Jakarta
Seringkali kita berpikiran bahwa kata “politik” tidak luput dari kekuasaan,kekayaan, kecurangan, dan hal hal berkaitan dengan “demi kepentingan diri sendiri”.
BACA JUGA: Kadang Dongkol sama Ajudan, Presiden Prabowo: Cerewet Banget
Harus kita sadari kita hidup di negara yang sistem politik nya kurang berjalan dengan baik, karena banyaknya oknum politik yang sering berbuat curang.
Rasanya hampir setiap hari kita disuguhi berita di media sosial kita mengenai para politikus Indonesia yang terjerat kasus korupsi. Tak heran jika dunia perpolitikan di Indonesia punya citra yang buruk di masyarakat luas.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Ngaku Mau Terima Kritik, Tetapi Jangan Fitnah
Menurut The Economist Intelligence Unit (EIU) pada tahun 2025 , Indonesia masuk kategori flawed democracy, ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di kategori demokrasi yang “cacat”.
Tercatat, jika kita bandingkan indeks demokrasi tahun 2022 adalah 6,71 , tahun 2024 indeks demokrasi kita justru mengalami penurunan di 2024 menjadi 6,44 dan menduduki peringkat 59 dari 167 negara.
BACA JUGA: Presiden Prabowo Minta Menteri Tetap Semangat Ketika Dihujat
Komponen-komponen penilaian ini mencakup fungsi pemerintahan, partisipasi politik,pluralisme, budaya politik, serta kebebasan sipil.
Dari data-data di atas membuat saya turut prihatin dalam keadaan politik di negara kita. Saya punya pemikiran bahwa untuk mencapai tujuan yang benar, kita harus punya dasar dan prinsip kuat yang harus ditanamkan sejak kita kecil.
Dimaksud adalah, pentingnya kita memberikan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada nilai akademik tapi juga nilai moral. Seperti nilai moral yang saya maksud? Yuk, kita bahas.
Saya kini duduk di bangku SMA kelas 11 di Kolese Kanisius Jakarta. “Kanisian” merupakan panggilan untuk siswa sekolah Kolese Kanisius Jakarta. Judul artikel ini mengajak kita untuk melihat politik dari cara pandang seorang Kanisian, yang menurut saya nilai-nilai ini sangat relevan untuk dasar kuat para penerus bangsa membuat perpolitikan di Indonesia jauh lebih baik.
Kembali lagi dengan hal yang saya jelaskan sebelumnya, untuk mencapai tujuan yang benar harus punya dasar yang kuat dari awal.
Kita mulai dari kasus yang paling awam terjadi di politik negara kita, korupsi. Korupsi terjadi disebabkan karena para politikus yang mengambil uang negara untuk kepentingan pribadi.
Pada umumnya dana yang diberikan pemerintah pusat tidak diserap sepenuhnya oleh sebagaimana mestinya dana itu diberikan.
Adapun harga-harga yang di lebih-lebih kan untuk anggaran yang tidak sebagaimana mestinya. Kejujuran menjadi hal yang sangat sepele kelihatan nya ,namun susah di terapkan di negeri ini.
Maka dari itu fokus utama kita adalah, mengajarkan tentang kejujuran. Karena menurut saya, kejujuran adalah dasar utama yang perlu diajarkan ke generasi muda untuk menghapus citra politik yang korupsi.
Be Honest adalah kata yang selalu saya diajarkan kepada saya sebagai seorang Kanisian. Jika sekolah tidak bisa mengajarkan kejujuran kepada anak, sia-sia lah
semua ilmu yang mereka serap jika tidak bisa menerapkannya dengan kejujuran. Negara ini harus dipimpin oleh orang-orang yang punya tingkat kesadaran akan kejujuran yang tinggi.
Dari kejujuran kita bisa mewujudkan politik di Indonesia yang lebih murni,adil dan jelas arahnya.
Tak kalah penting nya yang kedua ialah, menjadi pribadi yang berguna bagi sesama. Benar adanya, bahwa di negeri ini diisi oleh orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan sendiri.
Man for and with others, kalimat yang singkat namun dalam makna nya bagi saya. Kalimat ini menyatakan, bahwa kita harus bisa menjadi pribadi yang berguna bagi sesama dan juga menjadi orang yang mementingkan kepentingan bersama.
Sebagai seorang politikus kita dipercaya oleh masyarakat memimpin mereka dan membantu mereka punya kehidupan yang lebih baik. Karena kepercayaan itu lah kita harus berguna bagi mereka dan membuat perubahan demi kepentingan bersama.
Generasi muda yang suatu saat akan memimpin bangsa ini, harus punya kesadaran bahwa mereka perlu berguna bagi sesama.
Hal yang ketiga yaitu adalah, sikap leadership yang melayani. Terkadang kita kurang menyadari sikap pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak hanya memerintah, namun juga melakukan.
Para penerus bangsa harus diajarkan tentang sikap yang pemimpin yang baik harus melayani sesama, bukan dilayani.
Lebih pentingnya lagi menjadi seorang pemimpin harus punya kesadaran, bahwa posisinya untuk mementingkan kepentingan bersama dan melayani. Melayani dengan cara turun langsung dan ikut serta dalam tercapainya suatu tujuan.
Jadi menurut saya seorang bos dan seorang leader adalah dua pribadi yang beda, bos mengatur sedangkan leader melayani.
Data yang telah saya paparkan diawal menunjukan bahwa demokrasi di Indonesia menurun setiap tahunnya. Ada satu nilai lagi yang saya tak kalah pentingnya untuk perpolitikan di negara kita. Yaitu Be Magis, Apa itu?
Magis menurut ajaran Kanisian yang berdasar dari pendidikan Jesuit, adalah sikap dimana seorang pribadi menjadi lebih baik dari dirinya yang sebelumnya.
Kita melihat bahwa negara kita banyak mengalami penurunan dari banyak hal. Dengan begitu, kita sebagai generasi muda harus punya target dalam hidup kita.
Layaknya seorang Kanisian yang harus selalu Magis, selalu berkembang dan menjadi pribadi yang yang lebih baik dari dirinya sebelumnya.
Generasi muda yang nantinya akan memimpin perpolitikan negara kita, harus punya sikap untuk ingin berkembang dan memperbaiki sistem perpolitikan Indonesia yang lebih baik dari yang kemarin.
Jadi, tolok ukur magis adalah diri kita sendiri, yaitu bangsa kita sendiri bukan bangsa yang lain.
Meskipun perubahan itu sedikit, namun setidaknya kita sudah menjadi negeri yang lebih baik dari negeri kita yang kemarin.
Generasi yang nantinya akan memimpin perpolitikan di Indonesia diberikan amanah oleh para masyarakat, begitu juga Tuhan. Harus kita sadari pula, bahwa semua yang telah dipercayakan ke kita itu juga muncul dari kuasa Tuhan.
Sebagai seorang Kanisian saya disadarkan, bahwa semua yang kita lakukan akan kembali lagi ke Tuhan. Ad majorem Dei
gloriam, yang artinya demi kemuliaan nama tuhan yang lebih besar. Jadi semua yang nantinya kita lakukan,kebijakan apapun yang kita kerahkan. Harus berdasar untuk kemuliaan nama tuhan yang lebih besar. (*)
Redaktur & Reporter : Ragil
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4044199/original/058451700_1654513182-20220606_Konpers_Piala_Presiden_2022_27.jpg)


