FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Merasa geram dengan cara pemerintah merespons kritik publik, Ustaz Hilmi Firdausi memberikan ceramah kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ceramah ini disampaikan UHF, akronim namanya, melalui akun X pribadinya, @hilmi28.
Kepada Prabowo dan seluruh anak buahnya di kabinet, Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) ini menegaskan bahwa mereka bisa duduk manis di kursi mewah karena mandat dari rakyat.
“Tugas pemerintah adalah bekerja melaksanakan mandat atasannya yaitu rakyat,” ujar UHF, Kamis (8/1/2026).
Sebagai pemberi mandat, kata UHF, maka wajar jika rakyat mengkritisi pemerintah. Apalagi roda pemerintahannya keluar dari jalur.
“Nah tugas rakyat sebagai atasan adalah mengontrol dan mengkritisi, itu sudah tepat,” sebutnya.
Diungkapkan UHF, Mengerahkan buzzer untuk menyerang balik pengkritik bukan akhlak terpuji bagi pelayan rakyat.
Ia kemudian menarik contoh serangan buzzer ke Komika Pandji Pragiwaksono setelah spesial shownya yang bertajuk ‘Mens Rea’ sukses mencuri perhatian.
“Jadi jangan malah mengerahkan buzzer untuk menyerang pemberi mandat atau bahkan pemerintah sendiri yang mengkritik rakyatnya yg bersuara,” terangnya.
UHF bilang, pola-pola lama yang banyak ditemui di era Jokowi menjabat Presiden itu mesti ditinggalkan.
“Pola-pola semacam ini yang sudah terjadi satu dekade terakhir tolong segera diakhiri,” tandasnya.
“Kritik rakyat itu seperti suplemen agar pemerintah bekerja lebih maksimal,” kuncinya.
Sebelumnya, Pandji menegaskan, Mens Rea tidak dibuat untuk menyerang kelompok atau pihak tertentu.
Dikatakan Pandji, banyak orang keliru memahami arah materi yang ia bawakan di atas panggung.
“Orang berpikir Mens Rea itu dibikin untuk nyenggol ini, nyenggol itu,” ujar Pandji dikutip pada Selasa (6/1/2026).
Namun, ia menekankan bahwa sasaran utama dalam spesial show tersebut justru adalah masyarakat luas.
“Yang disenggol oleh Mens Rea, rakyat Indonesia,” tegasnya.
Pandji menjelaskan, sejak awal hingga akhir pertunjukan, materi stand up yang ia bawakan bertujuan untuk mengajak penonton lebih sadar akan peran mereka dalam sistem demokrasi.
“Dari awal sampai akhir, materi stand up dalam Mens Rea itu untuk bikin semua orang yang tahu dia adalah bagian dari negara demokrasi untuk lebih baik menjadi bagian dari demokrasi,” katanya.
Ia juga menyinggung soal kondisi politik nasional yang kerap dipersoalkan publik.
Kata Pandji, situasi politik tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada elite atau lembaga negara semata.
“Gua ngerasa kondisi politik kita itu sebenarnya tanggung jawab kita juga,” ucapnya.
Pandji menekankan, masyarakat sering kali gemar menyalahkan DPR dan pemerintah tanpa bercermin pada realitas bahwa wakil rakyat merupakan cerminan dari masyarakat itu sendiri.
“Cuma kita sering banget, ih salah ini, salah ini, DPR kacau. Lah DPR kan rata-rata rakyat,” Pandji menuturkan.
“Ia melanjutkan, Kan perwakilan rakyat, rata-rata rakyat kayak gitu ya lu dapet orang kayak gitu,” tambahnya.
Karena itu, Pandji mengajak masyarakat untuk mulai berbenah jika menginginkan perubahan dalam dunia politik.
“Kalau nggak pengen dapat orang kayak gitu, yah benahi diri kita. Gue jamin sejamin-jaminnya,” timpalnya.
Terkait Mens Rea, Pandji mengklaim pertunjukan tersebut dirancang agar bisa dinikmati oleh semua kalangan, baik yang paham politik maupun yang awam.
“Orang nggak ngerti politik, masuk Mens Rea, keluar ngerti. Gue jamin. Belum tentu suka, tapi ngerti,” terang dia.
(Muhsin/fajar)





