Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor baru dengan menembus level psikologis 9.002 pada perdagangan Kamis (8/1) pagi. Capaian ini menandai bahwa selama masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, IHSG telah mencetak rekor dua kali. Sebelumnya, pada 15 Agustus 2025, IHSG berhasil menembus level 8.017.
Rekor ini menandakan tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Lonjakan signifikan ini juga tercermin dalam kapitalisasi pasar yang kini telah mencapai Rp16.500 triliun. Para pelaku pasar menilai bahwa keberhasilan IHSG menembus angka 9.000 bukan sekadar fluktuasi teknis, tetapi merupakan refleksi dari optimisme terhadap stabilitas nasional.
David Sutyanto, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, menilai pencapaian ini memiliki makna yang lebih dalam bagi pasar modal. Menurutnya, level 9.000 adalah tonggak psikologis yang menunjukkan bahwa risiko ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dikelola dengan baik.
"Bagi pelaku pasar, rekor indeks tidak pernah berdiri sendiri. Ini adalah hasil dari akumulasi ekspektasi dan keyakinan terhadap prospek dunia usaha. Menembus level 9.000 di awal sesi menunjukkan bahwa optimisme pasar masih kuat, meskipun dalam situasi global yang penuh tekanan geopolitik," ujar David kepada Badan Komunikasi Pemerintah RI, Kamis (8/1).
David juga menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tergolong sehat, karena tidak hanya ditopang oleh antusiasme sesaat. Namun, ia mengingatkan para emiten untuk terus menjaga transparansi dan kinerja, karena pasar yang optimistis akan lebih sensitif terhadap kejutan negatif.
"Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Kualitas komunikasi dan disiplin kinerja emiten kini menjadi faktor yang sangat menentukan," tambahnya.
Senada dengan itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyatakan bahwa pergerakan IHSG mencerminkan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan pemerintah. Fakhrul menekankan bahwa keberlanjutan reli ini tergantung pada koordinasi yang baik antara kebijakan fiskal dan moneter.
"IHSG di level 9.000 bukan sekadar angka. Kunci ke depan ada pada keseimbangan kebijakan dan kualitas pelaksanaan belanja pemerintah. Bagaimana belanja tersebut bisa beredar di ekonomi riil dan meningkatkan perputaran uang," kata Fakhrul.
Fakhrul juga memberikan proyeksi yang optimistis untuk sisa tahun ini. Berdasarkan struktur kebijakan dan likuiditas yang ada, ia percaya indeks dapat terus melaju.
"Kami melihat peluang yang kredibel bagi IHSG untuk mencapai level 10.000 dalam tahun ini. Ini bukan sekadar optimisme kosong, tetapi hasil pembacaan atas sentimen yang sedang terbentuk," ujarnya.




