Venezuela dan Realpolitik Donald Trump

kumparan.com
21 jam lalu
Cover Berita

Politik dunia adalah panggung teater raksasa. Episode yang tersaji baru-baru ini: sebuah negara berdaulat diserang, presidennya diculik pasukan khusus dan akan diadili di bawah hukum Imperium Kebebasan (Empire of Liberty). Sebuah unjuk kekuatan telanjang di bawah bayang-bayang anarki yang tak bertepi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan khusus AS telah berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Konfrontasi verbal dan retoris yang telah berlangsung lama, berkulminasi dalam peristiwa serangan di Caracas dan penculikan Maduro. Serangan terhadap negara berdaulat dengan penangkapan presidennya, mengindikasikan bahwa dunia jauh dari stabil dan baik-baik saja. Ada indikasi kekacauan tak terperikan.

Ada tabir besar yang tersingkap. Tabir yang sudah koyak, kini luruh seutuhnya. Pertama, ini mengindikasikan hancurnya fondasi moral dalam kebijakan luar negeri AS, fondasi yang dirajut sejak awal eksistensinya; kedua, realpolitik menempati momentum historisnya kembali dibawah anarki dunia; ketiga, tatanan dunia berbasis aturan yang sudah sekarat, kini mati total. Dunia sedang dihadapkan pada ketidakpastian baru yang lebih berbahaya.

Raibnya Moralitas sang Pendakwah

Sejak awal eksistensinya sebagai sebuah negara berdaulat, Amerika Serikat sudah memegang keyakinan eksepsionalisme-nya. Deklarasi Kemerdekaannya mengguncang dunia dengan keyakinan universal bahwa manusia diciptakan setara. Dengan Washington Doctrine, Republik baru itu enggan mengotori jejaknya dalam keterikatan persaingan kekuatan di Eropa yang dianggap amoral. Juga, AS berusaha mencitrakan diri sebagai primus inter pares promotor dan pejuang kebebasan, yang dalam keyakinan Thomas Jefferson akan terwujud dalam Kekaisaran Kebebasan (Empire of Liberty).

Bagi AS, hubungan antar bangsa selalu dipandang dalam kacamata moralitas. Tatapan sinis dan penuh celaan selalu ditujukan pada praktik diplomasi Eropa yang dianggap penuh intrik, nir-moral, dan mempertontonkan perebutan kekuasaan secara telanjang. Kemunculan Woodrow Wilson di panggung dunia pada akhir Perang Dunia Pertama merevisi total hukum purba Eropa tentang keseimbangan kekuatan (balance of power).

Sebagai gantinya, AS mengajukan proposal Liga Bangsa-bangsa dan supremasi hukum internasional. Woodrow Wilson ingin memastikan dunia yang aman bagi demokrasi. Ditulis Henry Kissinger dalam bukunya, Diplomacy, bagi Wilson tatanan internasional harus didasarkan pada hukum universal dan kepercayaan, bukan keseimbangan dan persaingan. Sejak saat itu, kebijakan AS selalu dimotivasi wahyu Wilsonian untuk menjadi promotor demokrasi dan kebebasan, yang merupakan penjelmaan eksepsionalisme Amerika. Singkatnya, kebijakan luar negeri AS selalu didasarkan pada moralitas, tak peduli seberapa hipokrit dalam pelaksanaannya. Amerika menjadi pendakwah paling vokal di dunia.

Keputusan Trump untuk menyerang Venezuela, menculik presidennya, dan dengan gamblang menguasai sumber daya minyaknya, meraibkan moralitas dalam kebijakan luar negeri AS. Dakwah moral yang selama ini menjadi tabir penghalang ambisi AS yang sejati, baik dalam narasi demokrasi, hak asasi, atau kebebasan, kini luruh seutuhnya.

Trump tidak menghancurkannya, ia hanya melepaskan tabir hipokrisi yang selama ini menghalangi. Sejak awal, dakwah moralitas AS yang rapuh dalam menutupi kepentingannya, kini disingkap Trump tanpa segan. Ia ingin minyak Venezuela! dunia harus tahu itu.

Tak ada kejutan apapun dari peristiwa ini. Hanya saja dunia semakin diyakinkan bahwa AS sama sekali bukan kiblat kebebasan, bukan guru demokrasi, bukan pendakwah hak asasi manusia. Eksepsionalismenya luruh tak bersisa. AS tidak berbeda dengan negara lain yang mendasarkan kebijakannya pada raison d’etat, kepentingan negara total, bukan nilai moral.

Realpolitik Trumpian

Realpolitik — kebijakan luar negeri yang didasarkan pada kekuatan dan kepentingan — menjadi pilihan kebijakan Trump. Dunia sangat asing dengan dogma ini, karena selama satu abad berada dalam bayang-bayang Wilsonian. Hantu Bismarck dan Disraeli yang tersingkir, kini menampakkan bayangnya kembali.

Trump tidak segan menegaskan kepentingan nasionalnya di Venezuela, terutama yang berkaitan dengan sumber daya minyak. Ia menganggap Maduro adalah batu karang penghalang yang harus disingkirkan. Sejak Theodore Roosevelt, tidak ada yang mengekspresikan Monroe Doctrine dengan unjuk kekuatan yang telanjang, selain Trump.

Demonstrasi kekuatan di Caracas, dimana sebuah kekuatan hyperpower di Belahan Bumi Barat dan adidaya global, melakukan serangan untuk mencapai kepentingannya. Trump tak ragu untuk mendefinisikan kebijakannya dalam unjuk kekuatan. Tak ada narasi moral untuk membingkai, yang ada hanyalah penegasan kepentingan. Sebuah langkah berani dari seorang Kaisar Imperium Kebebasan.

Rimba raya anarkisme dunia kembali menguat. Saat senjata berbicara, hukum internasional semakin kehilangan taji. Setiap negara akan berada dalam jeruji ketidakamanan yang sama. Keamanan kolektif tak lagi aktif. Pertanyaannya, saat negara yang paling membenci praktik realpolitik kini tanpa malu menggunakannya, alasan apa yang membuat negara lain tidak menggunakannya pula? Dunia bak rimba raya anarki yang akan membuahkan persaingan kekuatan dan ketidakpastian abadi.

Berakhirnya Tatanan Internasional Liberal

Puncaknya, tatanan internasional liberal berbasis aturan yang rapuh, kini mati total. AS yang telah memperjuangkannya dengan melalui dua Perang Dunia yang sangat destruktif, kini berperan dalam kehancurannya. Ironi terbesar dalam sejarah Abad ke-21.

Tatanan berbasis aturan yang terwujud dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang muncul di atas reruntuhan dua Perang Dunia, diarsiteki oleh Amerika Serikat. Nama Woodrow Wilson dan Franklin D. Roosevelt akan abadi melekat dalam sejarah lembaga dunia itu.

Tatanan internasional berbasis aturan adalah eksperimen yang tidak mudah. Sangat sulit dan awalnya dipandang dengan sinisme dan skeptisisme yang tak bisa dihindari. Sulit sekali untuk meyakinkan banyak negara berdaulat untuk sedikit besarnya mengikis kedaulatan mereka dan diserahkan kepada organisasi dunia.

Walaupun dipandang sinis oleh para kritikus realis, tatanan dunia berbasis aturan telah membawa delapan dekade perdamaian relatif, dimana unjuk kekuatan telanjang akan dihadapkan pada kecaman moral. Ratusan resolusi PBB berisi kecaman terhadap konflik dan gangguan terhadap perdamaian. Sistem ini dijalankan dibawah pimpinan Amerika Serikat.

Kini, saat AS sendiri tak lagi mengindahkan hukum internasional, menginvasi negara berdaulat, dan menangkap presiden dari negara berdaulat, kematian tatanan internasional liberal adalah kepastian. Ikatan yang susah payah dirajut sejak Piagam Atlantik, kini perlahan terurai, karena AS sebagai simpul pengikatnya enggan lagi terikat.

Dunia yang tidak aman semakin membayang. Kedaulatan negara semakin nihil arti, saat negara yang lebih besar mendemonstrasikan kekuatannya. Tindakan Trump di Venezuela mungkin menghadiahkan surplus sumber daya, namun ada dampak yang lebih mengerikan dan tak terperikan: hilangnya kepercayaan dalam hubungan antar bangsa.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rekrutmen Bintara dan Tamtama TNI AD 2026 Dibuka, Ini Jadwal, Syarat Dan Cara Daftarnya
• 14 jam lalunarasi.tv
thumb
Pengakuan Mengejutkan Amanda Seyfried: OCD Ekstrem Selamatkan Hidup dan Kariernya
• 4 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Real Madrid Bungkam Atletico, Laga El Classico Tersaji di Final Piala Super Spanyol
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
TPS Dekat Rusunawa PIK 2 Ditutup, Lahan Akan Diubah Jadi Ruang Terbuka
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Eggi Sudjana Temui Jokowi di Solo
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.