Orang Terdekat sebagai Tempat Pelampiasan Emosi

kumparan.com
18 jam lalu
Cover Berita

Sebagai makhluk sosial, manusia tak pernah lepas dari hubungan dan interaksi antar sesamanya. Mulai dari teman kerja, kolega, sahabat karib, pasangan, orang tua dan sebagainya. Dalam konteks relasi sosial, pasangan dan teman terdekat sering kali menjadi figur dengan tingkat kedekatan emosional tertinggi. mereka umumnya adalah sosok yang paling dekat dan dianggap paling aman secara signifikan dalam hubungan interpersonal.

Namun terdapat paradoks, ada kalanya seorang individu secara sadar maupun tidak sadar menjadikan keberadaan mereka sebagai tempat pelepasan residu emosi: amarah, kecemasan, frustrasi yang berasal dari konteks lain, dan kadang kala berujung pada pola hubungan yang buruk, meskipun menurut individu itu sendiri perilaku tersebut datang dan dilakukan dengan tidak bermaksud seperti itu.

Di lain kasus hubungan yang tenang dan baik-baik saja bisa menjadi sebuah keterikatan yang asing bahkan mengancam. Ketiadaan konflik dan tegangan dalam internal hubungan itu sendiri menciptakan paradoks keamanan dalam hubungan, semakin aman suatu hubungan, seringkali dimaknai sebagai semakin kosong dan berjaraknya rasa emosional serta intensitas afektif. Fenomena ini bukan semata-mata di sebabkan oleh kurangnya empati maupun lemahnya moral, tapi memiliki akar permasalahan psikologis sendiri. Lantas apa dan mengapa perilaku dan kebiasaan seperti itu bisa terjadi secara psikologis?

Attachment Sebagai Modal Dasar Suatu Hubungan

Secara biologis, attachment adalah insting evolusioner untuk mencari keamanan dari figur terdekat atau orang tua ketika anak menemukan ancaman atau ketidaknyamanan(Holmes,1993). Seorang anak mengharapkan figur tersebut menjadi sosok yang akan mengurangi ketidaknyamanan dan ancaman yang sedang ia hadapi, dan ini penting ketika anak masih pada fase perkembangan(Holmes, 1993).

Maka secara biologis dan evolusioner, pada dasarnya terdapat suatu pola bahwa manusia dalam beberapa kasus cenderung untuk melampiaskan atau melepaskan beban serta tanggung jawab masalahnya terhadap figur yang ia anggap dekat.

Sebab, manusia cenderung membutuhkan rasa aman dan mengharapkan kedekatan, serta keterikatan dengan seseorang yang ia anggap bisa untuk secara tidak langsung bertanggung jawab akan segala masalah yang ia hadapi dan hal-hal seperti itu yang ia bawa sejak ia kecil.

Pola keterikatan ini tidak berhenti pada masa kanak-kanak, tetapi terus memengaruhi cara individu memaknai dan merespons pengalaman emosional di masa dewasa.

Skema dan Pengalaman Subjektif

Manusia dewasa tersusun dari berbagai pengalaman subjektif yang terbentuk dari lingkungan dan bagaimana ia menafsirkan lingkungannya melalui faktor personal yakni suatu proses kognitif sehingga akhirnya proses itu membentuk suatu individu dari suatu proses timbal balik dengan lingkungannya (Bandura,1986). Dari proses yang berulang itu akan terbentuk suatu skema yang menetap pada individu sehingga akhirnya mempengaruhi bagaimana individu itu akan merespons ulang, memaknai, dan memprediksi berbagai hal yang akan datang dalam hidupnya melalui skema yang telah ada sebelumnya (Bartlett, 1932; Piaget, 1952). Dengan demikian, pengalaman yang berulang tidak hanya disimpan sebagai ingatan, tetapi membentuk kerangka rujukan internal yang menentukan apa yang terasa familiar, aman, dan dapat diprediksi bagi individu. Kerangka inilah yang kemudian menjadi dasar dalam merespons pengalaman baru, termasuk dalam relasi emosional di masa dewasa.

Dalam konteks relasi interpersonal yang intim, skema ini berperan sebagai dasar bagaimana individu menilai keamanan emosional pasangan atau teman dekat, serta menentukan kepada siapa emosi negatif lebih mungkin dialihkan. Individu dengan pengalaman dan familiaritas attachment yang tidak konsisten dan kecenderungan avoidant dapat memaknai hubungan yang stabil sebagai membosankan atau mengancam, ini akan memicu suatu tegangan karena tidak sesuai dengan model internal yang telah terbentuk sebelumnya.

Maka dari skema yang bekerja itu, ketegangan paling mungkin terjadi sehingga tercipta pola hubungan yang tidak sehat, seperti kesalahan dalam memaknai perhatian yang diberikan oleh orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, atau menjadi alasan mengapa dalam konteks hubungan interpersonal yang intim dengan intensitas dan kedekatan tertinggi justru malah mungkin menjadi tempat bagi residu emosi serta menjadi kunci akar permasalahan interpersonal dari individu itu sendiri.

Dengan demikian, semakin tinggi intensitas kedekatan, semakin tinggi pula rasionalisasi skema, yang menjadi dasar mengapa orang terdekat seringkali menjadi sasaran dari pelepasan residu emosi.

Blue Dot Effect: Ketika Kestabilan Menjadi Paradoks

Dalam sebuah eksperimen yang di lakukan di Universitas Harvard, para partisipan diminta untuk memilih titik ungu di antara banyaknya titik biru, ketika titik ungu tersebut sudah tidak di tampilkan lagi, para partisipan tetap memilih titik biru yang dianggapnya sebagai titik ungu. Fenomena ini dikenal sebagai Prevalence-induced concept change (Levari et al., 2018).

Eksperimen ini mengungkapkan sebuah paradoks kognitif yang penting, yaitu bahwa persepsi manusia bersifat subjektif dam kontekstual bukan objektif, Penilaian kita terhadap sesuatu sangat bergantung pada perbandingan dengan apa yang kita lihat sebelumnya. Ketika masalah atau ancaman berkurang, manusia cenderung memperluas konsep masalah hanya agar tetap mendeteksi suatu masalah, meskipun secara realita masalah serta ancaman itu tidak benar-benar ada.

Dalam konteks hubungan interpersonal seseorang yang terbiasa dengan tegangan, konflik, dan ketidakpastian ketika berada dalam hubungan baru dengan situasi yang sama sekali berbeda seperti berada dalam hubungan yang konsisten, stabil, dan relatif aman, akan dapat mengalami pergeseran persepsi, seperti kesalahan kecil terasa besar, ketenangan terasa mencurigakan, perbedaan ringan dimaknai sebagai masalah serius. Bukan karena hubungan tersebut bermasalah, melainkan karena kerangka persepsi masih berada dalam situasi dan tegangan konflik yang tinggi.

Kesimpulan

Dengan demikian, orang terdekat kerap menjadi tempat residu emosi bukan karena mereka yang paling bersalah, tetapi karena mereka adalah yang paling aman secara emosional dan paling relevan bagi sistem keterikatan individu. Namun ini juga membuka ruang pemahaman baru dalam memandang hubungan interpersonal. Pola attachment, skema, dan model prediksi bukanlah hal yang kaku, bahwasanya hal-hal tersebut bersifat plastis dan dapat berubah di mulai dengan kita mengetahui dan memahami bagaimana individu bekerja secara psikologis.

Penting untuk memahami akar permasalahannya secara psikologis. Dengan memahami paradoks psikologis ketika kedekatan yang semakin dekat akan semakin rentan serta bagaimana dan mengapa orang terdekat sering kali menjadi tempat residu emosi diharapkan akan meningkatkan kualitas hubungan interpersonal dan dapat menjadi modal bagi individu untuk menjadi lebih bertanggung jawab dan meregulasi emosi secara sadar. Dari situ relasi interpersonal dapat bergerak dari sekadar pengulangan pola menuju hubungan yang lebih reflektif, empatik, dan dewasa.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Inara Rusli Kesal Insanul Fahmi Tak Ambil Sikap, Minta Dipertemukan Bertiga dengan Wardatina Mawa
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Klasemen Serie A Liga Italia Usai AC Milan Ditahan Imbang Genoa 1-1
• 18 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Dinkes DKI Sediakan Vaksin Super Flu Berbayar, Dibuka untuk Masyarakat Umum
• 6 jam laludisway.id
thumb
Respons Gus Yahya soal Gus Yaqut Jadi Tersangka KPK Kasus Korupsi Kuota Haji
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kata Pelapor, Materi Pandji Pragiwaksono di Mens Rea Merendahkan
• 8 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.