Jakarta, CNBC Indonesia - Kisruh antara pemerintah negara bagian Minnesota dan otoritas federal Amerika Serikat semakin memuncak setelah seorang agen imigrasi AS menembak mati seorang warga sipil dalam operasi penegakan hukum di Minneapolis. Insiden yang menewaskan Renee Nicole Good, ibu tiga anak berusia 37 tahun, memicu gelombang protes luas serta perbedaan tajam versi peristiwa antara pejabat negara bagian dan pemerintah federal.
Penembakan terjadi di kawasan permukiman Minneapolis dan melibatkan seorang agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang identitasnya belum diungkap. Good diketahui merupakan warga negara Amerika Serikat. Insiden ini langsung menuai kecaman dari pejabat lokal dan memicu demonstrasi di Minnesota serta kota-kota besar lain di AS.
Kontroversi makin melebar ketika Minnesota Bureau of Criminal Apprehension (BCA) mengumumkan pada Kamis (8/1/2026) bahwa pihaknya menarik diri dari penyelidikan kasus tersebut. BCA sebelumnya sepakat dengan FBI untuk melakukan investigasi bersama, namun menurut Kepala BCA Drew Evans, FBI secara sepihak mengubah keputusan dan mengambil alih penyelidikan sepenuhnya.
Evans mengatakan keputusan tersebut membuat BCA tidak lagi memiliki akses ke barang bukti di lokasi kejadian, dokumen kasus, maupun proses wawancara saksi.
"Sebagai akibatnya, BCA dengan berat hati menarik diri dari penyelidikan," ujar Evans, dilansir Reuters.
Jaksa Agung Minnesota Keith Ellison menyebut langkah FBI itu "sangat mengkhawatirkan."
Dalam wawancara dengan CNN, Ellison menegaskan bahwa otoritas negara bagian tetap dapat melakukan penyelidikan, dengan atau tanpa kerja sama pemerintah federal. Ia menambahkan bahwa bukti yang telah ia lihat, termasuk sejumlah bukti yang belum dipublikasikan, membuka kemungkinan adanya tuntutan pidana di tingkat negara bagian.
Sementara itu, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem membantah anggapan bahwa negara bagian disingkirkan dari proses hukum. Ia menyatakan bahwa BCA tidak memiliki yurisdiksi dalam kasus tersebut.
Gubernur Minnesota dari Partai Demokrat, Tim Walz, memperingatkan bahwa penyelidikan federal tanpa keterlibatan negara bagian berisiko dianggap sebagai upaya "cuci tangan."
"Saya mengatakan ini karena orang-orang yang berada di posisi kekuasaan, dari presiden hingga wakil presiden sampai Kristi Noem, sudah lebih dulu menjatuhkan penilaian dan menyampaikan hal-hal yang secara nyata tidak benar," kata Walz dalam konferensi pers.
Adapun FBI menolak memberikan komentar terkait pernyataan BCA tersebut.
Sementara itu, agen ICE yang menembak Good termasuk di antara sekitar 2.000 petugas federal yang dikerahkan pemerintahan Presiden Donald Trump ke wilayah Minneapolis. Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menyebut operasi itu sebagai "operasi terbesar DHS yang pernah dilakukan."
Pejabat DHS, termasuk Noem, membela tindakan agen tersebut dengan menyebut penembakan terjadi sebagai bentuk pembelaan diri. Pemerintah federal bahkan menuduh Good berusaha menabrak petugas dan menyebut tindakannya sebagai bentuk "terorisme domestik."
Namun, Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dengan tegas membantah narasi itu.
Frey menyebut klaim pemerintah federal sebagai "omong kosong" dan "sampah," merujuk pada video yang direkam warga di lokasi kejadian, yang menurutnya bertentangan dengan versi resmi pemerintah. Frey dan Walz sama-sama mendesak Trump untuk menarik pasukan federal dari Minneapolis karena kehadiran mereka dinilai menciptakan kekacauan di jalanan kota.
Meski demikian, laporan The New York Times menyebut pemerintahan Trump justru mengirim lebih dari 100 personel tambahan dari Customs and Border Patrol ke Minneapolis menyusul insiden penembakan tersebut.
Wakil Presiden JD Vance memperkuat narasi pemerintah dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Kamis. Ia berulang kali menyebut tindakan Good sebagai "serangan" terhadap aparat penegak hukum dan mengatakan agen yang menembak layak mendapat "utang budi." Vance juga menepis kemungkinan seorang petugas federal dapat dituntut oleh otoritas negara bagian.
Video yang direkam warga memperlihatkan dua petugas dengan penutup muka mendekati mobil Good yang berhenti dalam posisi menyilang di sebuah jalan di Minneapolis. Salah satu petugas memerintahkan Good keluar dari mobil sambil menarik gagang pintu.
Mobil tersebut sempat mundur singkat sebelum melaju ke depan dan berbelok ke kanan, tampak berusaha meninggalkan lokasi.
Seorang petugas ketiga, yang sebelumnya merekam kejadian lalu berjalan ke depan mobil, mengeluarkan pistol dan melepaskan tiga tembakan sambil melompat mundur. Tembakan terakhir diarahkan ke jendela pengemudi setelah bumper mobil tampak telah melewati tubuh petugas tersebut.
Dari video tersebut, tidak jelas apakah mobil Good benar-benar mengenai tubuh petugas. Petugas tersebut tetap berdiri dan terlihat berjalan setelah insiden. Noem mengatakan petugas itu dibawa ke rumah sakit dan dipulangkan pada hari yang sama. Namun, Trump menulis di media sosial bahwa Good telah "melindas petugas ICE."
DHS belum memberikan respons atas pertanyaan terkait identitas agen yang terlibat. Namun, Vance mengungkap bahwa agen yang sama pernah diseret mobil pada tahun lalu dan mengalami luka yang memerlukan 33 jahitan.
Deskripsi itu sesuai dengan kasus Juni 2025, ketika seorang migran tanpa izin tinggal berusaha kabur saat hendak ditangkap agen ICE di Bloomington, Minnesota, dan menyeret seorang petugas sejauh sekitar 100 meter.
Petugas tersebut, yang dalam dokumen pengadilan diidentifikasi sebagai Jonathan Ross, mengalami luka di lengan dan tangan yang memerlukan total 33 jahitan. Pengemudi dalam kasus itu divonis bersalah bulan lalu atas penyerangan terhadap petugas federal.
Sementara itu, menurut Washington Post, Good berasal dari Colorado dan meninggalkan seorang putri berusia 15 tahun serta dua putra masing-masing berusia 12 dan 6 tahun. Ia meraih gelar sarjana Bahasa Inggris pada 2020 dari Old Dominion University di Virginia dan pernah memenangkan penghargaan puisi tingkat sarjana.
Penembakan Good membuat situasi Minneapolis makin tegang. Ribuan orang turun ke jalan dalam aksi protes. Pada Kamis pagi, ratusan demonstran berkumpul di depan gedung federal yang menampung pengadilan imigrasi, meneriakkan kata "malu" dan "pembunuhan" kepada petugas federal bersenjata dan bertopeng. Beberapa petugas membalas dengan gas air mata dan peluru merica.
Aksi protes serupa berlangsung atau direncanakan di kota-kota lain, termasuk New York, Chicago, Seattle, Los Angeles, dan Philadelphia. Gubernur Walz telah menyiagakan Garda Nasional Minnesota, sementara sekolah-sekolah negeri di Minneapolis ditutup pada Kamis dan Jumat sebagai langkah pencegahan.
Di tengah penutupan sekolah, seorang pelajar berusia 17 tahun, Addie Flewelling, ikut dalam aksi protes di Minneapolis. Ia mengecam penembakan tersebut dan kebijakan pengetatan imigrasi, termasuk penggerebekan di sekolahnya awal pekan ini.
"Siswa dikejar-kejar di tempat mereka seharusnya mendapatkan pendidikan," katanya. "Ini tidak bisa diterima. Saya takut pergi ke sekolah."
(luc/luc)



