Sulit Membuang Barang, Wajar atau Tanda Hoarding Disorder?

kumparan.com
17 jam lalu
Cover Berita

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya mulai mengalami kesulitan ketika harus membereskan barang. Rasa berat untuk memilah, keterikatan emosional pada benda tertentu, hingga kecemasan berlebih saat harus membuangnya sering dianggap sebagai sifat pribadi. Padahal, kondisi ini patut menjadi perhatian ketika mulai mengganggu kenyamanan, kebersihan, dan fungsi ruang hidup.

Hoarding disorder merupakan gangguan psikologis yang ditandai dengan ketidakmampuan menetap untuk membuang barang, terlepas dari nilai guna benda tersebut. Akibatnya, barang menumpuk secara berlebihan, hingga membuat ruang menjadi sempit, tidak tertata, dan berdampak pada kualitas hidup.

Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai kemalasan atau kurang disiplin, padahal sering berkaitan dengan kecemasan, pengalaman kehilangan, dan kesulitan mengelola emosi.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan hoarding dapat mulai berkembang sejak masa remaja hingga dewasa awal dan berdampak signifikan pada fungsi psikososial individu (Dozier et al., 2025).

Stres psikososial juga diketahui memperkuat keterikatan emosional seseorang terhadap barang-barang yang dimilikinya (Cromer et al., 2023). Dalam situasi hidup yang terasa tidak stabil, barang sering kali menjadi sumber rasa aman semu, sesuatu yang bisa dikendalikan ketika aspek lain dalam hidup terasa tidak pasti.

Secara teoritis, hoarding disorder dapat dipahami melalui model kognitif—pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Frost dan Hartl. Kesulitan mengambil keputusan, lemahnya kemampuan mengorganisasi, dan keyakinan irasional terhadap barang membuat individu merasa takut kehilangan.

Dari sisi emosional, attachment theory menjelaskan bahwa barang dapat berfungsi sebagai pengganti rasa aman ketika kebutuhan afeksi dan relasi interpersonal tidak terpenuhi.

Dalam perspektif Islam, perilaku menimbun secara berlebihan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual. Rasulullah SAW bersabda, “Kebersihan itu sebagian dari iman” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dan keteraturan bukan sekadar urusan fisik, melainkan juga bagian dari kualitas keimanan seseorang.

Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar tidak bersikap berlebihan dalam menjalani kehidupan. Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Prinsip ini menegaskan pentingnya keseimbangan, memiliki secukupnya, menyimpan seperlunya, tanpa keterikatan yang berlebihan.

Melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling—khususnya konseling agama Islam—penanganan hoarding disorder tidak hanya diarahkan pada perubahan perilaku, tetapi juga pemulihan emosi dan penguatan makna hidup.

Menata ruang hidup dapat dimaknai sebagai bagian dari ibadah dan ikhtiar menata batin, sejalan dengan firman Allah SWT bahwa Dia mencintai orang-orang yang menyucikan diri (QS. Al-Baqarah: 222).

Pada akhirnya, tidak semua tumpukan barang menandakan gangguan psikologis. Namun, ketika ruang hidup terasa semakin sesak dan memunculkan kegelisahan, kondisi tersebut layak menjadi bahan refleksi. Sebab, menata ruang sering kali menjadi langkah awal untuk menenangkan jiwa.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kenaikan Tarif Transjakarta Ditunda, Stafsus Gubernur Bongkar Alasannya
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Panduan Cek Penerima PIP Kemdikbud Go Id 2026 untuk Siswa TK hingga SMA
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Bom Saudi Menghantam Logistik Uni Emirat Arab: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Yaman?
• 6 jam laluerabaru.net
thumb
Proses Normalisasi Sungai Batang Kuranji Dipercepat Pascabencana Banjir
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Heboh Sumur Warga di Bangkalan Keluarkan Cairan Diduga Minyak Mentah
• 50 menit lalugenpi.co
Berhasil disimpan.