Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Ciputra Indonesia (Ciputra Life) membidik pertumbuhan pendapatan premi double digit pada 2026, meskipun tidak membeberkan berapa nilainya.
Target tersebut didasarkan pada pendapatan premi perusahaan hingga November 2025 yang mencapai Rp457 miliar. Kemudian, laba juga meningkat lebih dari tiga kali lipat yang menjadi Rp107 miliar, bila dibandingkan dengan 2024.
Kendati demikian, Direktur Utama Ciputra Life Hengky Djojosantoso mengungkap pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat masih menjadi tantangan yang perlu dihadapi industri asuransi jiwa pada 2026.
“Namun, kami menyambut positif target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah sebesar 5,4%. Tentunya kami berharap daya beli masyarakat akan meningkat, sehingga diharapkan porsi pendapatan masyarakat yang dapat dialokasikan untuk membeli produk asuransi juga akan meningkat,” jelasnya kepada Bisnis, dikutip pada Jumat (9/1/2026).
Adapun, untuk mendongkrak pertumbuhan premi pada 2026, Hengky menjelaskan perusahaannya fokus mengembangkan kerja sama dengan mitra-mitra bisnis, baik yang baru maupun eksisting. Selain itu, terus berinovasi produk dan meningkatkan layanan kepada nasabah.
Hingga kini, Ciputra Life sudah bekerja sama dengan lebih dari 20 bank, multifinance, dan institusi keuangan lainnya di Indonesia. Pada pertengahan 2024 lalu, perusahaan juga masuk ke segmen korporasi dengan meluncurkan produk asuransi kesehatan, jiwa dan kecelakaan kumpulan (corporate solution).
Baca Juga
- Ciputra Life Bidik Pertumbuhan 2026 Lewat Ekspansi Mitra Bisnis
- Ciputra Life Bayar Klaim Asuransi Kesehatan Rp36 Miliar, Dominan Rawat Inap
Lebih lanjut, Hengky berujar penyesuaian tarif premi pada 2026 ini tentunya akan mempertimbangkan banyak faktor seperti kesesuaian antara actual experience terhadap asumsi yang digunakan pada saat melakukan pricing produk.
“Kemudian, pergerakan portofolio atau segmen nasabah dan faktor-faktor lain yang menyebabkan perubahan risiko suatu produk asuransi,” sebutnya.
Lebih jauh, Hengky turut membeberkan produk yang kini menjadi primadona di perusahaannya adalah asuransi jiwa kredit yang memberikan perlindungan kepada nasabah yang mengambil KPR, maupun kredit kendaraan bermotor.
Kemudian, produk kedua yang berkontribusi besar adalah produk asuransi kumpulan (corporate solution). Terakhir adalah produk individu yang dipasarkan melalui jalur telemarketing dan digital.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi asuransi komersial pada Oktober 2025 sebesar Rp272,78 triliun atau tumbuh tipis 0,42% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menyebut premi asuransi komersial itu terdiri dari premi asuransi jiwa, asuransi umum, dan reasuransi.
Untuk premi asuransi jiwa, per Oktober 2025 sedikit terkontraksi 1,11% (year on year/YoY) menjadi Rp148,66 triliun. Hal ini berbeda dengan premi asuransi umum dan reasuransi yang mengalami pertumbuhan.
“Dan premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh sebesar 2,33% year on year dengan nilai sebesar Rp123,92 triliun,” katanya dalam konferensi pers daring RDKB OJK November 2025, Kamis (11/12/2025).
Menilik data yang dipaparkan Ogi, terlihat bahwa klaim asuransi komersial per Oktober 2025 mencapai Rp178,99 triliun. Angka tersebut terkontraksi 5,27% (YoY) dari Rp178,99 triliun.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467822/original/038439900_1767931488-ATK_Bolanet_Pegadaian_Championship_2026_JADWAL__2_.jpg)

