VIVA – Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mengkonfirmasi 10 kasus super flu yang terdeteksi di Jawa Barat sepanjang Agustus hingga November 2025. Satu pasien dilaporkan meninggal dunia.
Berdasarkan data RSHS, dari total 10 kasus yang ditemukan, puncak kasus terjadi pada Oktober 2025. Meski gejalanya lebih berat dibanding flu biasa, pihak rumah sakit menegaskan penyakit ini bukan virus baru dan masih dalam batas aman.
Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging (Pinere) RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri menjelaskan bahwa fenomena super flu merupakan penyakit musiman yang kerap muncul setiap tahun. Masyarakat pun diminta untuk tidak panik menanggapi temuan tersebut.
"Super flu ini bukan virus baru. Penyakit ini bersifat musiman dan selama ini masih dapat ditangani dengan baik," kata dr. Yovita, Kamis, 8 Januari 2026
Super flu diketahui disebabkan oleh virus Influenza A tipe H3N2, dengan gejala mirip flu biasa namun lebih berat, seperti demam tinggi, nyeri otot, batuk, dan kelelahan ekstrem.
Dari seluruh kasus tersebut, dua pasien sempat menjalani perawatan intensif. Satu pasien dilaporkan meninggal dunia, namun bukan akibat virus super flu secara langsung, melainkan karena penyakit penyerta atau komorbid yang diderita pasien.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, Iwan Abdul Rachman, menyatakan bahwa saat ini sudah tidak ada kasus aktif. Seluruh pasien yang dirawat telah dinyatakan pulih.
"Saat ini situasi terkendali dan masih dalam batas aman. Super flu biasanya muncul secara musiman dan tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan," katanya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk melakukan vaksinasi influenza yang dianjurkan setahun sekali. Selain itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat juga dinilai penting, termasuk menggunakan masker saat batuk atau flu serta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak kunjung membaik.
Laporan: Cepi Kurnia/tvOne Bandung





